Berita

 Network

 Partner

Al-Quran

Paradigma Al-Quran adalah Rahmatan lil Alamin

Berita Baru, Yogyakarta – Pakar Hermeneutika Indonesia Sahiron Syamsuddin menegaskan orientasi dan fungsi Al-Quran dan Hadis sebagai teks Islam adalah rahmatan lil alamin.

Hal ini Sahiron sampaikan dalam Annual Conference on Research Proposal (ACRP) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis), Senin (22/11).

Ketika fungsinya rahmatan lil alamin, lanjut Sahiron, maka Al-Quran tidak mungkin menganjurkan siapa pun untuk menyakiti orang lain atau merusak alam.

“Jika ada yang menyebut demikian, maka sebenarnya bukan Al-Quran yang bilang, tapi otak manusia yang punya kepentingan spesifik,” ungkap Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga ini.

Sebagaimana dirilis oleh situs resmi UIN Sunan Kalijaga, Sahiron membedakan dengan tegas antara Al-Quran dan tafsir atasnya.

Berita Terkait :  Kasus Covid-19 Meningkat, Gresik Terapkan PSBB Jilid III

Jika ada sesuatu yang dikutip dari Al-Quran dan itu mendukung adanya kekerasan, maka itu bukan Al-Quran melainkan tafsir atas Al-Quran.

Dalam acara yang diselenggarakan selama tiga (3) hari ini, 22 – 24 November 2021, Sahiron juga mengemukakan bahwa siapa pun harus berpijak pada lima (5) prinsip dalam memahami Al-Quran.

Mereka meliputi pandangan bahwa Al-Quran bersifat universal, Al-Quran sebagai wahyu tidak bertentangan dengan akal sehat, tidak ada yang namanya satu ayat mengganti ayat lainnya, dan upaya penafsiran harus selalu dijangkarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan.

Dengan ungkapan lain, Sahiron menyiratkan bahwa untuk memahami Al-Quran seseorang tidak cukup hanya dengan terjemahan, tapi harus melalui setidaknya prinsip-prinsip tersebut.

Berita Terkait :  Support UMKM Gresik Bersama Influencer, Wabup Qosim: Dunia Digital Bisa Membuat UMKM Semakin Berkembang