Bulan temaram, kala mata menerjang gelap lampu kota yang menggantung, kuning. Bak sebuah pentas, pancaran kilaunya seolah menyorot pementasan berjarak persis sepuluh meter di hadapanku. Tak peduli, hamparan ombyaking kawulotak jua menghalangi pemandangan kolosal seorang ibu dan anak kecil yang sedang bersikeras menawar gawai bekas. Sungguh pola transaksi tradisional yang punya marwah; nyang-nyanganmenyepakati keridaan yang tentu bukan hal yang mudah. 

Saya menduga transaksi itu bakal alot dan tak berujung. Sebab anaknya yang baru akil balig itu sering merajuk dan acuh tak acuh. Benar saja, saat sang ibu menyodorkan gawai pilihannya, disaat yang sama berulang-ulang sang anak membuang muka, seakan ingin bersabda “Ibu tidak pernah mengerti aku”. Justru yang anak itu lakukan hanya geleng kepala, berdiri dan mlipirmelihat lapak penjual sebelah.Apa lacur, agaknya begitulah orang tua. Sang ibu tetap membenamkan dirinya pada tempurung keibuannya;ngemong. Seperti seorang salik yang merawat peradaban. 

Pada ujungnya akad jual-beli itu menuai kesepakatan kala pedagang di Pasar Senthir sebagian sudah berkemas di jauh malam. Melihat itu, saya tak henti-hentinya berikrar takjub, bahkan saat mendapati sang ibu tetap nyengkuyungkegagahan diri anaknya dengan membiarkan sang anak untuk membayar sendiri barang yang sudah dipilihnya tadi. Dia membayar dari dompet berwarna pink yang lekat kesan perempuan, yang saya tengarai sebagai dompet ibunya.

Meski sudah beroleh barang, rona sang anak tetap melempem, kepalanya menunduk, berjalan pulang berselimut hangat rangkulan sang ibu. Agaknya begitulah anak, jeda hidupnya hanya dipakai untuk bersuluk, meraba-raba peradaban.

Penghayatan Sosial    

Pemandangan sosial yang mak-krenyesitu, menjangkau tiga pengalaman penghayatan yang luar biasa, semacam culture shock, gunjangan budaya. Pertama, ia membuhul ingatan masa kecil yang terjadi beberapa tahun silam. Ihwal ketidakselarasan dan relasi pilihan antara orang tua dan anak yang, paling bijak disikapi dengan diam dan rengekan. Akan lain dan lebih sial lagi apabila rengekan itu sudah memakan korban, seperti sak-untoromembanting segala barang yang maujud di depan matanya. Bubrah

Kedua,ibu dan anak itu membangunkanku dari mimpi buruk hanyut jauh dalam kubangan dunia. Mereka mengentaskan derita dengan menikmati masa dewasa dalam nuansa penuh syukur atas karunia hidup, baik di waktu susah maupun bahagia. Hingga sederhana dan tulus bagi mereka adalah gaya hidup bahagia dengan tidak membiarkan dunia mendekapnya terlalu erat.   

Ketiga, sudah jamak diketahui, di masa pandemi  ini, “sekolah daring” dianggap sebagai solusi yang kurang solutif. Ada beberapa murid dan orang tua yang masih mengeluhkan keterbatasan teknologi, wabilkhususmasyarakat kelas bawah dan daerah tertinggal. Saya membayangkan jika gawai yang dibeli—yang saya yakini dari  hasil “jerih-payah” itu—menjadi kebutuhan utama demi keberlangsungan pendidikan sang anak di sekolah. Kalau ternyata dugaanku itu benar, saya kadung takjub dan mengapresiasi perjuangan ‘ngemong’ sang ibu tersebut. 

Teriakan dari Bawah

Ketiga penghayatan ini dibidani oleh dinamika sosial Pasar Senthir sebagai jenis pasar yang sulit dirasionalisasi. Perang dagang barangkali menjadi kata ingusan di sana. Sama sekali tidak ada teriakan-teriakan “mari dibeli, mari dibeli” atau ajakan berlebihan pada pengunjung pasar yang berlalu lalang. Para pedagang umumnya baru berbicara ketika calon pembeli bertanya. Dari sini, kemiskinan rasanya kurang beradab untuk dilekatkan hanya pada persoalan kepemilikan material belaka.

Meski begitu, kita tidak bisa menutup mata pada soal kemiskinan struktural yang akut mewabah. Ketimpangan sosial masih ada, bahkan hayat terlembagakan di perkotaan. Kembali kepada fenomena orang tua dan anak yang mewakili sebagian ceruk kelas bawah di perkotaan itu, dengan kesederhanaan dan ketulusan hidup mereka hingga mempertebal nafas berdikari yang tidak menanyakan di mana negara ketika kita sedang susah? Di titik ini marwah kelas di pertanyakan. 

Pandemi membuat lubang berjarak stratifikasi kelas itu kian menganga. Bersimpati kepada masyarakat bawah memang perjuangan sepanjang hayat. Kalau dalihnya adalah penghematan, pemerintah semestinya lebih mengarahkan sosialisasi dan pendidikan jangka panjang dan lintas usia guna, tapi yang terjadi tetaplah program periodik. Acara selesai. Sudah. 

Meski begitu, Senthir sebagai pasar alternatif yang menjual barang-barang bekas, memiliki nyala yang berbeda usai disokong oleh tren ng-thriftdi masa pandemi ini. Gegas berdikari!    


*Afrizal Qosim SholehPegiat di Lingkar Studi Sosiologi Agama dan Pemimpin Redaksi Tsaqafah.id

Facebook Comments
- Advertisement -

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini