Berita

 Network

 Partner

Negara OKI Puji Keberhasilan Indonesia Tanggulangi Kemiskinan
Kabiro Perencanaan Kemensos Adhy Karyono selaku Focal Point Indonesia untuk Pertemuan ke-15 COMCE-PAWG pada 29 September. Foto: Kemensos

Negara OKI Puji Keberhasilan Indonesia Tanggulangi Kemiskinan

Berita Baru, Jakarta – Negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) memberkan pujian atas keberhasilan Indonesia dalam menanggulangi kemiskinan. Pujian tersebut termuat dalam salah satu butir laporan penelitian berjudul “Urban Poverty in Islamic Countries”

Laporan tersebut disampaikan dalam Rapat Badan Koordinasi Komite Tetap Kerjasama Ekonomi dan Komersial OKI (COMCEC) ke-15 dan Kelompok Kerja Penanggulangan Kemiskinan (Poverty Alleviation Working Group/PAWG) yang digelar secara virtual pada 29 September dengan tema “Urban Poverty in the OIC Member Countries”.

Menteri Sosial Juliari P. Batubara menyatakan delegasi RI mendukung rekomensasi laporan hasil riset tim peneliti COMCEC tentang urban poverty di negara-negara islam.

“Beberapa isu kebijakan dan rekomendasi terkait pembangunan di daerah slum urban relevan dengan kondisi di Indonesia,” kata Mensos Juliari di Jakarta (01/10).

Kesesuaian hasil penelitian dimaksud Mensos terutama rekomendasi terkait formulasi penanganan masalah kemiskinan di wilayah urban, mendorong pemerintah daerah memperkuat koordinasi dalam membuat kebijakan dan regulasi yang dibutuhkan. “Juga dalam penciptaan lapangan kerja serta pentingnya melakukan pendataan dan pengukuran kondisi sosial ekonomi rumah tangga miskin yang tinggal di wilayah urban,” ia menambahkan.

Berita Terkait :  Kolaborasi Pemerintah Pusat dan Daerah Kunci Kesuksesan Insentif Fiskal Berbasis Ekologi

Secara umun, delegasi Indonesia menyampaikan strategi penanggulangan kemiskinan dengan berbagai instrumen, termasuk salah satunya melalui skema bantuan tunai bersyarat sebagaimana terus didorong Kementerian Sosial di bawah Mensos Juliari.

Delegasi Indonesia diwakili oleh pejabat Kementerian Sosial RI, Kepala Biro Perencanaan Adhy Karyono, selaku Focal Point Indonesia untuk COMCEC PAWG dan perwakilan Ditjen Penanganan Fakir Miskin.

“Pertemuan fokus menyoroti kebijakan intervensi untuk negara-negara OKI dan mengidentifikasi satu rekomendasi kebijakan yang bisa dilaksanakan untuk mengurangi kemiskinan perkotaan sejalan dengan New Urban Agenda (SDG-11),” kata Adhy.

Pemerintah menyusun strategi percepatan penanganan kemiskinan di antaranya melalui Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako/Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Dengan berbagai bantuan sosial, angka kemiskinan sempat menurun hingga menyentuh level 9,22% menurut hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), September 2019.

Berita Terkait :  Indonesia Desak Negara OKI Bersatu dalam Solidaritas untuk Palestina

Langkah-langkah Kemensos ini terekam dalam riset yang dilakukan oleh tim peneliti COMCEC. Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan negara anggota OKI yang tergabung dalam PAWG membahas laporan penelitian berjudul “Urban Poverty in Islamic Countries ” yang disiapkan Prof Semih TÜMEN sebagai konsultan untuk COMCEC.

Laporan tersebut, membahas tantangan utama mengkonseptualisasikan dan mengukur kemiskinan perkotaan dengan fokus khusus pada pengumpulan data dan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai alat dalam memantau kemiskinan di daerah kumuh perkotaan.

“Selain itu, laporan juga menyebutkan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan pembangunan infrastuktur urban yang baik, berhasil dalam kebijakan penanggulangan kemiskinan serta dalam pengurangan rasio angka kemiskinan,” Adhy menambahkan.

Dalam kesempatan pembahasan kebijakan, pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah  rekomendasi yang terangkum sebagai berikut:

Berita Terkait :  Angka Kemiskinan di Jawa Timur 0,31 Dalam Satu Tahun

Pertama, mengembangkan strategi perencanaan kota yang komprehensif dan efektif yang terutama yang berfokus pada pengelolaan permukiman kumuh yang lebih baik untuk mencegah pertumbuhan permukiman kumuh yang tidak terkendali dan pembentukan permukiman kumuh baru, dan meningkatkan akses penduduk kumuh ke layanan dasar seperti pendidikan dan layanan kesehatan melalui investasi strategis.

Kedua, merancang kebijakan pasar tenaga kerja lokal yang efektif yang akan membantu mengatasi masalah informalitas dan menciptakan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih baik.

Ketiga, mengaktifkan Alat Keuangan Sosial Islam dan secara sistematis mengintegrasikannya ke dalam kotak alat kebijakan kemiskinan perkotaan umum.

Keempat, meningkatkan kapasitas tata kelola kota dan memperkuat ketahanan terhadap guncangan, misalnya pandemi Covid-19. Kelima, mengkonseptualisasikan kemiskinan perkotaan dan mengembangkan/ meningkatkan pengumpulan data dan praktik pengukuran untuk mencapai pembuatan kebijakan berbasis bukti.