Menjadi Narasumber APFSD 2020, Dyah Roro Ajak Lembaga Dunia Gotong Royong

Berita Baru, Dyah Roro Esti
(Foto: Liputan)

Berita Baru, Jakarta — Mewakili Parlemen Indonesia, Anggota Komisi VII DPR RI, Dyah Roro Esti menjadi salah satu narasumber acara Asia-Pacific Forum on Sustainable Development (APFSD) 2020 yang diselenggarakan secara daring pada hari Rabu (20/05).

APFSD merupakan forum tahunan antar pemerintah dari berbagai negara di dunia untuk mendiskusikan, memonitor dan memastikan tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) dunia.

Dalam kesempatan tersebut, Dyah Roro mengemukakan pandangannya mengenai dampak pandemi Covid-19 terhadap pertumbuhan ekonomi serta esensi gotong royong untuk bangkit dan mewujudkan pembangunan energi berkelanjutan pasca pandemi.

Menurut Roro, pandemi Covid-19 sudah menjadi krisis kesehatan global dan berdampak luar biasa terhadap ekonomi dunia. Dampak terbesar sangat dirasakan oleh masyarakat kelas ekonomi bawah (kategori miskin).

Bank dunia (World Bank) telah memproyeksikan dengan skenario paling optimis bahwa setidaknya 11 juta orang di seluruh Asia Timur dan Pasifik jatuh ke dalam kategori miskin.

“Berdasarkan laporan dari UNDP mengenai Dampak Sosial dan Ekonomi akibat pandemi Covid-19, ada sekitar 1,3 miliar orang yang bekerja di sektor informal, yang kehilangan pekerjaan, di seluruh Asia dan Pasifik,” ungkap Dyah Roro yang juga anggota Green Economy Caucus (Kaukus Ekonomi Hijau).

Berita Terkait :  Komnas HAM : Penyegelan Curug Go’ong Bertentangan dengan Prinsip HAM

Selain itu, Anggota DPR RI Fraksi Golkar itu mengatakan bahwa pandemi covid-19 juga mempengaruhi aksesibilitas energi. Roro mencontohkan, banyak pembangunan pembangkit listrik di Indonesi yang dihentikan, karena tidak adanya kegiatan konstruksi dan supply chain system.

“Saat ini PLN (Perusahaan Listrik Nasional) telah menunda ataupun menghentikan beberapa proyek pembangkit listrik akibat pandemi ini, sehingga peningkatan aksesibilitas energi menjadi tertunda,” imbuhnya.

Legislator Jawa Timur X ini juga menjelaskan bahwa Indonesia telah meratifikasi Paris Agreement dengan target khususnya di sektor energi, yaitu EBT (Energi Baru Terbarukan) sebesar 23% dalam bauran energi nasional pada tahun 2025.

Adapun perkembangan per 2020, besaran EBT dalam bauran energi nasional sebesar 9,15% (energi bersumber dari fosil masih mendominasi: Minyak sebesar 33,58%, gas 20,12%, dan batubara sebesar 37,15%). Sementara untuk persentase kapasitas pembangkit listrik yang bersumber dari EBT, saat ini sebesar 12,2% (10.169 MW).

Dalam acara itu, Dyah Roro menutup pemaparannya dengan menjelaskan pentingnya esensi dari gotong royong dalam menyelesaikan masalah global seperti perubahan iklim.

Berita Terkait :  Dyah Roro Esti: Rapid Test Masal Penting di Masa New Normal

Menurutnya, dibutuhkan adanya pendekatan lintas-disiplin–dalam penyelesaian masalah global seperti yang dihadapi dunia saat ini–dengan didukung tim dari semua sektor, seperti Pemerintah, CSO, akademisi, sektor swasta, BUMN dan pemuda, agar tujuan yang sudah direncakan dapat tercapai dengan lebih cepat.

Selain Dyah Roro Esty, dari sekian banyak perwakilan negara, lembaga dan instansi yang hadir dan menjadi pembicara dalam acara APFSD diantaranya, Amina J. Mohammed (Sekretaris-Jenderal Deputi PBB), Armida Salsiah Alisjahbana (Bawahan-Sekretaris-Jenderal dan Sekretaris Eksekutif ESCAP), Don Pramudwinai (Menteri Luar Negeri Thailand), Fidelis Magalhaes (Menteri Reformasi Legislasi dan Hubungan Luar Parlemen, Republik Timor Leste), dan David Nabarro (Profesor Kesehatan Global, Imperial College London). [*]

- Advertisement -

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan