Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Malaikat
Lukisan: Natisa Jones

Malaikat di Ladang Jagung



Seorang perempuan sedang bekerja di ladang jagung ketika ia melihat sesosok malaikat—awalnya ia kira seekor burung—jatuh membelah udara dan membentur ladang dengan keras, menimbulkan kerusakan batang lunak jagung yang baru berusia sebulan. Ia berlari menerabas deretan jagung dan kedua lengannya luka tergores tepi daun jagung yang tajam.

“Apa kau tak apa?” tanya si perempuan. Malaikat itu meringis. “Aku baru belajar terbang,” kata si malaikat. Malaikat itu masih sangat muda. Kedua pipinya merah seperti tomat.

Perempuan itu membawa si malaikat ke rumahnya di tepi ladang. Sayap si malaikat terkulai. “Mungkin retak,” kata si perempuan sambil membebatnya dengan kain jarik. “Nanti aku akan ke apotek di kota kecamatan untuk beli obat dan perban,” tambahnya.

Kemudian mereka tinggal bersama. Si perempuan—seperti hari-hari sebelumnya—pergi ke ladang setiap matahari pecah di ufuk timur dan kembali ke rumah menjelang tengah hari. Lantas membersihkan rumah, tidur siang, bangun sore hari untuk membersihkan badan, bersantai hingga malam tiba, dan tidur dengan nyenyak untuk menyambut hari baru. Si malaikat menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di teras, kadang di ruang tamu, atau rebahan di kasur tipis yang dihamparkan di ruang tengah rumah sambil menonton televisi. Mereka suka membicarakan banyak hal ketika si perempuan sedang bersantai menunggu malam.

“Suatu hari,” kata si malaikat, “ayahku berkenalan dengan seorang perempuan dan mereka langsung saling jatuh cinta. Mereka kemudian menikah dan hidup bahagia. Ayahku selalu mengenakan mantel besar untuk menutupi sepasang sayapnya yang besar. Ayahku penerbang handal. Namun demi ibuku—ia manusia biasa—ayah rela tidak lagi mengepakkan sayapnya. Ia tidak ingin terlihat aneh di lingkungan barunya. Tetangga mereka mengira ayah cacat dan suka memandangnya dengan perasaan iba. Ayah tidak menjelaskan kepada mereka. Ibu juga tidak peduli. Namun kemudian ibu meninggal sewaktu hamil empat bulan. Masuk angin dan diare, kata ibu. Ayah tidak tahu apa itu masuk angin dan diare. Malaikat tidak sakit. Namun ayah mengerti penderitaan ibu yang tiap sebentar buang air atau bersendawa besar dan terus-terusan mual hendak muntah. Dua detik setelah meninggal, ibu terbang ke langit tanpa sayap. Ayah membuka mantel besarnya, lantas mengepakkan sayap kembali untuk pertama kalinya sejak satu setengah tahun. Di langit, mereka kembali meneruskan hidup yang bahagia. Kehamilan ibu berjalan lancar dengan perawatan yang baik di langit. Lantas lahirlah aku, malaikat blasteran. Itulah sebabnya aku mesti melatih sayapku dengan lebih keras meski aku keturunan seorang penerbang handal. Aku tidak sejago malaikat lain. Malangnya, aku terjatuh pada percobaan pertamaku terbang jauh,” tambahnya.

Si wanita mengangguk-angguk. Ia begitu antusias mengikuti setiap cerita yang disampaikan oleh malaikat. “Kau bisa tinggal di sini sampai kau sembuh. Kau bahkan bisa tetap tinggal di sini setelah kau sembuh,” katanya.

Malaikat itu punya selera makan yang menakjubkan. Lumbung di belakang rumah si perempuan penuh dengan karung-karung berisi jagung kering ketika si malaikat terjatuh. Namun, sebelum panen jagung tiba di musim kali itu, lumbung itu telah bersih dari biji-biji jagung. Karung-karung teronggok lemas di sudut-sudut. Tikus-tikus mencicit kelaparan. Si perempuan mulai pusing. Bertahun-tahun ia hidup sendiri di rumah itu, mengelola sehampar ladang yang diwariskan kedua orang tuanya. Ayahnya meninggal setelah dipatuk ular di ladang, ibunya menyusul empat tahun kemudian, lantaran perutnya dierami angin duduk. Si perempuan memiliki kening lebar dan mengkilat, juga rambut kelabu panjang jarang-jarang. Kepalanya dipenuhi pitak. Matanya juling dan kotoran selalu muncul di ujung kelopaknya, seperti sekuntum kembang abadi. Pipinya bopeng bekas jerawat yang dikopek paksa. Janggutnya lancip. Hidungnya ambles terlalu dalam dan sekilas lebih mirip hidung kera besar. Bibirnya mencong dan membentuk garis diagonal, alih-alih horisontal. Kulitnya legam dengan banyak eksim di sana-sini. Tubuhnya kurus kering dan payudaranya gagal tumbuh. Bau busuk keluar dari mulutnya setiap kali mulutnya terbuka, tak peduli sesering apa ia gosok gigi. Dengan segala kondisinya, ia kemudian menjadi bahan rundungan bagi kawan-kawannya semenjak ia masih kecil. Ia lantas memutuskan untuk menjaga jarak dengan mereka. Ia berusaha terbiasa dengan kesepian. Namun, setelah kedua orang tuanya meninggal, ia merasakan alangkah menyakitkannya menjadi sendirian itu. Selanjutnya, ia mengisi doa-doanya dengan harapan akan ada yang datang untuk menemaninya, mengusir kesepiannya, dan tidak mempermasalahkan segala yang ada pada dirinya. Ketika si malaikat jatuh, perempuan itu yakin Tuhan menjawab doanya. Namun ketika si malaikat mengosongkan lumbungnya dengan kecepatan yang menakjubkan, ia berpikir bahwa ini adalah bencana yang lain.

Suatu hari, ketika duduk lemas di ruang tengah dan tak ada sesuatu yang bisa dimakan, perempuan itu berkata, “Sebagai malaikat, seharusnya kau bisa melakukan sebuah keajaiban. Menciptakan sepiring makanan, misalnya.”

Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Malaikat itu juga kelihatan payah. Sayapnya kusam dan matanya redup. “Aku malaikat,” jawabnya, “bukan koki, bukan penyihir, bukan nabi yang punya mukjizat, dan tentunya bukan Tuhan.”

“Tapi kau kan malaikat,” perempuan itu tidak bisa mencerna fakta yang baru saja disampaikan oleh malaikat, dan karena itu dia bersikeras. Dalam pikirannya, malaikat seharusnya penuh dengan keajaiban.

“Justru karena aku malaikat,” si malaikat menjawab ketus. “Seharusnya kau yang menyediakan makan sebab kau manusia, dan kau bisa bekerja.”

Perempuan itu tidak bisa mengerti alur pikiran si malaikat, namun ia terlalu lemah untuk berdebat. Maka ia diam, seperti menghimpun kekuatan. Kemudian ia bangkit, menuju dapur, mengisi perutnya banyak-banyak dengan air kendi. Dengan sisa tenaganya, ia pergi ke ladang, berharap menemukan satu atau dua batang jagung yang sudah berbuah, meski kemarin ia sudah memeriksa setiap bagian dan tak menemukannya. Harapan, ia tahu, harus tetap dijaga meski lebih sering menghadirkan kekecewaan dan kesia-siaan.

Si malaikat mengipasi mukanya dengan kedua tangan ketika perempuan itu pergi. Sayapnya sudah lama sembuh sebenarnya. Dan kini ia mengepak-ngepakkannya. Debu-debu lembut berterbangan. Ia teringat apa yang beberapa waktu sebelumnya dikatakan ayahnya, ketika ia baru belajar terbang dan mulai mahir terbang jarak pendek. “Untuk bisa terbang jarak jauh,” kata ayahnya, “kau mungkin akan terjatuh, namun itulah yang membuatmu lebih kuat.” Ia keluar rumah. Ia memandang langit tinggi. Di balik gumpalan awan itu, melewati sebuah portal dari benang-benang cahaya, adalah tempat tinggalnya yang sesungguhnya. Ada banyak makanan di sana, ada ayah dan ibunya yang mungkin cemas menunggunya, ada kawan-kawannya yang gemuk dan sehat. Seperti semua perantau, ia rindu rumah. Dengan segenap kekuatan dan kebulatan tekad, ia mengepakkan sayapnya kuat-kuat. Tubuhnya terangkat. Ia terus mengepak. Debu-debu bergulungan di sekitarnya, debu-debu yang lebih kasar dan tebal. Ia terbang. Ia tertawa. Ia mendapatkan kebenaran dari ucapan ayahnya tempo hari. Lapar seperti menghilang diusir kegembiraan yang membungkus dirinya. Ia terbang semakin tinggi. Ia berputar di udara. Lantas melesat ke balik awan-awan.

Si perempuan kembali ke rumah setelah malaikat itu menjelma sebuah titik di ketinggian. Si perempuan tak tahu kalau si malaikat telah pergi. Ia kembali dengan mengesot kehabisan energi. Di tangannya, tergenggam seikat rerumputan. Ia akan merebus rerumputan itu untuknya dan si malaikat. Mereka harus makan, pikirnya. Si malaikat tidak boleh mati kelaparan.

Di balik awan, di kampung halaman para malaikat, si malaikat tengah menyiapkan pesta merayakan keberhasilannya terbang.


Malaikat di Ladang Jagung

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.