Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Konflik Global, Media, dan Propaganda Barat
Ilustrasi : thecompanion.in  

Konflik Global, Media, dan Propaganda Barat

Veronika S. Saraswati
China Study Unit, CSIS Indonesia


Peran media pemberitaan jika hanya dibaca secara teknis dan normatif, tentu saja hanya menjadi instrumen biasa sebagai penyebaran informasi. Namun jika dilihat dalam perspektif yang luas, peran media sangatlah vital bukan hanya untuk instrumen menyampaikan kabar pemberitaan, namun juga efektif untuk mempengaruhi nalar opini publik melalui pemilihan framing dan strategi isi wacana yang dibentuknya. Media bisa menjadi senjata ampuh untuk menggiring kesan persepsi dan isi pikiran masyarakat.

Dalam sejarah panjang politik di abad modern ini, tidak ada satupun praktik kekuasaan yang tidak melibatkan peran media. Jauh lebih mendasarnya, media tak hanya sebagai instrumen kekuasaan, namun menjadi ‘kekuasaan’ itu sendiri. Siapa yang bisa menguasai media, ia yang mampu menguasai politik dunia. Apa yang diproduksi media tak shanya kumpulan narasi kalimat, namun sebuah rpresentasi dari sebagain realitas. Dalam praktikm kuasanya, media juga mampu mengkonstruksi realitas, bahkan realitas yang sudah jauh dari fakta kebenaran. Dengan manipulasi media, kebohongan bisa akan Nampak sebagai narasi-narasi kebenaran.

Propaganda dan Legitimasi Intervensi

Pasca peristiwa 11 September 2011 dengan momen serangan bunuh diri pesawat ke menara kembar Gedung World Trade Center Amerika Serikat, telah mendorong sebuah derklarasi perlawanan terhadap Terorisme Global. Nagara AS selanjutnya dengan sangat massif mengkampanyekan kutukan sekaligus perlawanan terhadap praktik terorisme global. Doktrin Anti-Terorisme menjadi platform sekaligus materi utama dalam setiap wacana-wacana politik Amerika Serikat. Berbareng dengan berbagai theadline topik yang terus menerus direproduksi mengenai kengerian serangan 11 september, telunjuk politik AS juga secara stigmatic mengarahkan kepada beberapa negara yang dianggap sebagai pendukung kelompok teroiris, terutama negara-negara yang selama ini berseberangan dengan politik AS  di Timur Tengah.

Inilah tonggak awal dari startegi kampanye dan politik propaganda AS upaya mengkonstruksikan negara-negara seperti Irak, Suriah, Afghanistan, Libya dan beberapa kroni politik lain sebagai musuh AS. Tidak hanya selesai di situ, praktis AS rezim selanjutnya melakukan serangan-serangan kongkrit di beberapa negara tersebut. Serangan agresi AS berhasil meruntuhkan kekuasaan Sadam Husein di Irak dan juga kekuasaan Muammar Qadhafi di Linya. Dalih adanya pembangunan reaktor senjata pemusnah massal di Irak, menjadi salah satu dalih yang dipakai untuk meruntuhkan kekuatan Sadam Husein. Dalam perkembangan belakangan, fakta justru membuktikan hal yang bertolak belakang, bahwa tuduhan AS tidak memiliki verifikasi bukti sama sekali. Setelah kehancuran total kawasan Irak, toh tuduhan yang tidak berdasar itu tetap tidak diklarifikas untuk dipertanggungjawabkan.

Bombardir politik AS dan sekutunya ke Irak hanyalah Sebagian potret bagaimana propaganda media sungguh sangat efektif untuk dimainkan dalam politik dalih pembenaran dari langkah kepentingan politik Barat terutama kebijakan politik intervensi di kawasan Timur Tengah selama ini. Propaganda selalu disemai berbarengan dengan langkah intervensi fisik lainnya. Pelabelan ‘terorisme’ menjadi salah satu diksi wacana yang terus direproduksi terhadap setiap negara yang bersikap bersebrangan dengan AS. Kasus krisis dan konflik politik di Suriah juga menjadi salah satu contoh episode lainnya . Drama kekejaman, kediktatoran, politik teror dan anti demokrasi juga sering dimobilisasikan untuk membangun pelabelan  buruk terhadap setiap pimpinan negara yang melawan dominasi kepentingan AS.

Manipulasi framing isi pemberitaan dan juga praktik rekayasa isi media bahkan juga selalu dimainkan. Dunia tidak pernah lupa dan pasti masih sangat ingat dengan fenomena rekayasa dan manipulasi pemberitaan Barat mengenai krisis perang di Suria. Mnipulasi kekejaman Suriah dikreasikan sedemikian rupa dalam cerita bocah Omran, bocah demngan wajah kusut dan luka parah sedang duduk di kursi mobil ambulance yang digambarkan sebagai korban kebiadaban rezim Suriah. Belakangan telah terbiongkar bahwa profil gambar bocah Omran hanyalah setingan rekayasa untuk membangun empati dan simpati dunia. Dengan pelabelan rezim Assad sebagai kejam dan monster terror, maka seolah AS dan para sekutunya memiliki legitimasi moral untuk melakukan serangan ke Suriah atas nama dalih kemanusiaan.

Praktik propaganda untuk legitimasi atas politik kepentingan Barat telah banyak dilakukan di berbagai negara bahkan tidak luput juga Indonesia. Keterlibatan negara-negara Barat untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno juga menggunakan copy paste pola yang sama.  Bagaimana praktik propaganda media barat menyebutkan Soekarno sebagai pemimpin diktator dan sekaligus mengancam prinsip demokrasi seperti yang diandaikan oleh kepentingan Barat. Kejatuhan Soekarno tidak lepas juga dari praktik intervensi Barat. Jatihnua Soekarno dan juga peristiwa tragedy kekeraan politik sesudahnya adalah cermin dari wajah kontestasi politik global dengan melalui strategi ideologis maupun koersinya. Kedekatan Soekarno terhadap blok sosialis tentu saja mengkhawatirkan posisi politik imperialisme Barat di Indonesia.u

Kuasa Media dan Strategi Ekonomi Politik

Analisis potret propaganda medias dan politik intervensi Barat ini juga bisa digunakan untuk mendalami persoalan konflik Rusia-Ukrania. Tidak jauh berbeda, kepentingan negara Barat dan terutama AS sangat kental dalam memposisikan framaing dan politik wacana yang dikembangkan. Respon dan mobilisasi pemberitaan media mainstream Barat telah memberi diksi dan koonotasi buruk pada kebijakan Rusia sebagai bentuk agresi dan invansi yang merusak kedaulatan Ukraina. Label aagresor bagi Rusia diucapkan langsung oleh presiden Joe Biden dan terus direproduksi menjadi diksi politik yang memberi citra buruk bagi langkah Rusia. Bahkan label buruk ini kemudian disandingkan dengan framing dan diksi pemberitaa atas negara Ukrania sebagai negara berdaulat dan beradab.

Konstruksi label aggressor tentu berkehendak untuk menyalahkan kebijakan Rusia di Ukraina. Pemberian citra positif bagi Ukraina juga bersamaan ingin memberi konotasi positif bahwa perlawanan Ukraina sangat dibenarkan dan mampu mendapat mobilisasi dukungan negara-negara Barat. Konstruksi konten pemberitaan ini tentu saja di sisi lain tidak pernah menunjukkan verifikasi data pemberitaan yang berimabng. Di ujung dimensi yang lain juga menyembunyikan fakta besar yang lain, semisal tentang bagaimana AS \bersama kekuatan blok NATO punya kepentingan ekonomi politik melalui kondisi politik Ukraina.

Dalam konteks dan wajah media mainstream Indonesia, atmosfir pemberitaan juga cenderung memiliki tendensi untuk melatakkan Rusia sebagai aktor yang lebih disalahkan. Secara politik, oligarki kepemilikan media Indonesia memang masih terkosentrasi pada para actor yang memiliki pandangan yang pro Barat. Pasca perubahan politik 1965 hingga sekarang, platform ekonomi politik masih erat berdekatan dengan banyak kepentingan politik Barat, tidak terkecuali posisi politik media. Sejak Orde Baru hingga sekarang, memang lanskap dominan kebijakan media memang lebih dekat dengan perspektif Barat daripada kepentingan Rusia.

Jejak perspektif kontestasi Perang Dingin, dalam beberapa artikulasi terlihat direproduksi dan terkesan dihidupkan kembali. Memori sejarah tersebut membantu untuk memperkuat pandangan publik atas posisi politik Rusia. Tidak sedikit mendudukan konflik Ukraina sebagai persoalan kontestasi antara negara-negara demokratis dengan negara-negara yang tidak dermokratis seperti yang dituduhkan kepada Rusia. Atau tidak sedikit yang juga memberi pandangan bahwa persoalan Rusia dan Ukraina sebagai konflik antara negara berdaulat (Ukraina) dan negara intervensionis (Rusia). Sudut pandang semacam ini sekali lagi telah menyembunyikan banyak fakta historis dan politis mengenai lanskap problem ketegangan Ukraina dan Rusia.

Framing dan strategi wacana pemberitaan memiliki kemampuan sekaligus, yakni untuk menonjolkan dan sejakugus menyembunyikan persoalan fakta sesungguhnya.  Apa yang telah diproduksi oleh wacana media barat hanya menjadi bukti nyata bahwa media mainstreram barat tidak pernah netral dan objektif falam memberitakan persoalan konflik global yang menyangkut kepentingan Barat, termasuk dalam hal ini konflik Rusia dan Ukraina. Bahkan dalam ranah praktik media, sebuah perang sudah dimulai, sebelum perang sesungguhnya terjadi. Dalam dunia yang sudah termediasi oleh hadirnya banyak platform mrdia, maka tidak akan pernah ada sebu8ah kepentingan ekonomi politik yang tidak menggunakan media sebagai instrument senjata dan amunisi paling efektif untuk membantu kemenagan ekonomi politik.