Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Telur
Meskipun dinilai sehat, peneliti menemukan resiko penyakit diabetes saat mengonsumsi telur, Sumber : Dailymail.co.uk

Konsumsi 1 Butir Telur Perhari Meningkatkan Resiko Diabetes Tipe 2 Sebesar 60%



Beritabaru.co, Australia – Telur, sebagai sumber protein dan berbagai manfaat lainnya, ternyata memiliki potensi resiko kesehatan saat mengonsumsinya.

Dilansir dari Dailymail.co.uk, menurut studi terbaru, makan hanya satu telur sehari meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2 sebesar 60 persen.

Peneliti Australia yang mempelajari sampel 8.545 orang dewasa China menemukan korelasi positif antara konsumsi telur yang lebih tinggi dan kadar gula darah yang tinggi.

Pada dasarnya, telur diyakini bergizi dan dipromosikan sebagai makanan cepat dan mudah di Inggris, tetapi ternyata memiliki hubungan dan pengaruh kuat terhadap kasus diabetes,

Pada penelitian sebelumnya, hasil menunjukkan bahwa makan telur sebenarnya dapat mencegah diabetes.

Penelitian baru ini menunjukkan bahwa konsumsi telur secara teratur setiap hari – baik direbus, diacak, direbus atau digoreng dapat membuat Anda lebih rentan terhadap kondisi diabetes tipe 2. Yang dimana terjadi ketika gula darah seseorang terlalu tinggi.

“ Diet adalah faktor yang diketahui dan dapat dimodifikasi dan berkontribusi pada permulaan bagi diabetes tipe 2. Jadi memahami berbagai faktor makanan yang mungkin memengaruhi peningkatan prevalensi penyakit itu penting” kata penulis penelitian, Dr Ming Li di University of South Australia, pada Selasa (17/11)

“Sementara hubungan antara makan telur dan diabetes sebelumnya sering diperdebatkan. Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk menilai konsumsi telur jangka panjang masyarakat dan risiko mereka terkena diabetes” tambah Li

Menurut Dr. Li, Penelitian ini secara khusus berfokus pada orang-orang di China, yang telah mengalami transisi dari pola makan tradisional yang terdiri dari biji-bijian dan sayuran, ke pola makan yang berupa makanan diproses yang mencakup lebih banyak daging, makanan ringan, dan telur.

Dari 1991 hingga 2009, jumlah orang yang makan telur di China hampir meningkat 2 kali lipat, dari 16 gram pada 1991-93, menjadi 26 gram pada 2000-04 dan 31 gram pada 2009.

Diabetes bertanggung jawab atas setidaknya 760 miliar dollar Amerika atau sekitar 10 kuadriliun Rupiah, dalam pengeluaran kesehatan pada tahun 2019. Sekitar 10 persen dari total pengeluaran global untuk perawatan kesehatan.

Sementara di China, biaya terkait diabetes telah melebihi 109 miliar dollar Amerika atau sekitar 1.5 kuadriliun Rupiah.

Untuk penelitian tersebut, Dr Li dan timnya menganalisis data pada sejumlah 8.545 orang dewasa yang menghadiri Survei Kesehatan dan Gizi China dari tahun 1991 hingga 2009.

Bertajuk China Health and Nutrition Survey adalah survei berkelanjutan yang didukung oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CCDC) pemerintah AS yang bertujuan untuk memeriksa efek dari kebijakan kesehatan dan gizi di China.

Kebiasaan konsumsi telur para partisipan selalu dicatat, sementara diabetes didiagnosis berdasarkan tes gula darah pada tahun 2009.

Tim menemukan, Konsumsi telur jangka panjang yang tinggi, lebih dari 38 gram per hari dapat meningkatkan risiko diabetes di antara orang dewasa China sekitar 25 persen.

Tetapi orang dewasa yang makan lebih dari 50 gram, atau setara dengan satu telur per hari memiliki peningkatan risiko diabetes hingga 60 persen.

Hubungannya juga lebih terlihat pada wanita daripada pria, menunjukkan wanita lebih berisiko terkena diabetes jika mereka secara teratur makan telur.

Dr Li mengatakan lebih banyak penelitian diperlukan untuk mengeksplorasi hubungan sebab akibat dari penelitian ini, apakah mereka dapat membuktikan makan telur adalah penyebab diabetes.

“Untuk mengalahkan diabetes, diperlukan pendekatan dari banyak sudut pandang yang tidak hanya mencakup penelitian, tetapi juga seperangkat pedoman yang jelas untuk membantu menginformasikan dan membimbing masyarakat” tambah Li.

Dr Li menganggap studi ini adalah satu langkah menuju tujuan jangka panjang itu.

Tahun lalu, para peneliti di Finlandia menemukan hasil kebalikannya, bahwa makan satu telur sehari dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Saat menguji sampel laki-laki, mereka menemukan bahwa mereka dengan makan telur setiap hari akan memiliki profil lipid tertentu dalam darah mereka yang tidak dialami oleh pria lainnya secara umum.

Namun, penulis dari University of East Finland mengakui bahwa hubungan antara kedua faktor tersebut masih belum jelas.

Pada 2015, para peneliti dari universitas yang sama menemukan bahwa konsumsi telur dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah serta kadar glukosa darah yang lebih rendah.

Pria yang makan sekitar empat telur per minggu memiliki risiko 37 persen lebih rendah terkena diabetes tipe 2 dibandingkan pria yang hanya makan sekitar satu telur per minggu.

Jyrki Virtanen, asisten profesor epidemiologi nutrisi, University of Eastern Finland, mengatakan hanya ada sedikit bukti ilmiah sebelumnya tentang risiko telur dan diabetes.

“Tidak ada data eksperimental yang tersedia tentang efek konsumsi telur pada kejadian diabetes tipe 2” ungkap Jyrki pada Selasa (17/11).

Namun, masih ada kemungkinan dimana jika mengonsumsi telur yang banyak dapat meningkatkan risiko diabetes bagi orang yang tidak mengidapnya.

Telur mengandung 187mg kolesterol, dan pedoman resmi merekomendasikan bahwa penderita diabetes membatasi batas kolesterol harian mereka di level 200mg.

Telur juga tinggi protein – sekitar tujuh gram per telur yang diubah tubuh kita, akan menjadi glukosa jika kita mengkonsumsinya terlalu banyak.

Sementara itu, American Diabetes Association, menganjurkan agar orang yang sudah mengidap diabetes untuk mengonsumsi telur.

Hal ini karena telur mengandung sekitar 0,5 gram karbohidrat, yang secara teori menjaga gula darah tetap terkendali.