Khazanah Rindu | Puisi Faiqatul Jamilah

Khazanah Rindu
(Puisi : Faiqatul Jamilah)

Pada sebuah sawah dan Jakarta

Aku mendengkur dengan jidat
Pada meja kebentur
Sisa peluh bebuyut mengucur
Pada sawah yng terulur
Harap dan syukur
Pemudanya dimana?
Memilih digantung dari menggantung
Mimpi ayah tentang bulir padi telah hilang
Hancur lebur pun kabur
Pada keusangan Jakarta, kota rantau
Pelarian pecundang jadi-jadian
Edukasi ditunda,
Urbanisasi limpah ruah
Di dapur, nasi hampir basi
Diganti rupiah pelipur hati

Di pesisir kota Sampang

Pada redup kidung bumi
Percik langit bertengger di hidung
Tak gapai mata menelusuri jalan
Terhalang kerancuan, antara
Nelayan ulung bertebaran di simpang jalan, dan
Air di ujung hidung kita yang sama kecilnya
Tolehku simpang siur
Dengan gejala pasang laut
Mengibarkan kabar gelombng
Ikanpun kehilangan jati diri
Ibarat perantau tampa tujuan
Musafir lalupun bermukim
Kecup angin menyetubuhiku
Hingga dingin kurasa
Hangat kaugapai

Pada hari yang hilang

Mengkarat perangkap dusta di matamu
Meletup meletus lalu putus
Mengusaikan perbincangan antara mega dan senja
Di sekilas temu tampa tunda
Alir racun mengamuk di hati
Kala senyap tawarnya adalah rindu
Nan segumpal cinta yang diramu
Diracik oleh sepasang rasa kita
Sendu, di sebilah kata yang kaucipta
Dengan gerhana luka
Rembulan merah di siang kala
Pun seperti sore yang membuat sedikit hilang
Dengan janji yang dibunuh bulan
Disihir rupa lelah dilelang
Malam menjemputmu dari rahimku
Membajak setiap lorong kelam
Mengkaram, menganyam ludah hingga ulu hati
Biar ubunku merontokkan aplikasi waktu
Dari sandra mimpi penyangga perih.

Berita Terkait :  Pada Warna Malam Aku Mengenangmu

Khazanah rindu

Pada setiap deru nafas
Ada desah rindu
Namamu yang kuhirup
Pada pikuk haru hari baru
Yang setiap tanggalnya menyisa tinggal
Seperti kelahiran.
Aku merantau, mengasingkan diri dari sayang
Hingga lebih dari sakit aku menahan
Temu hilang setiap waktu
Putarnya serasa tak berujung
Pun bunyinya hilang dirampas lagu cicak di dinding
Diam-diam merayap, lalupun terhenti.
Senyap, kemudian berlanjut ada seekor bayang
Dengan teh manis yang diseruput satu cangkir
Menuai benih rindu ujungnya

Dengan segalaku

Serupa tiupan dedaun
Mengecup kening yang basah dengan rindu
Memecah kasih dalam sanubari
Meresapi cumbu dalam narasi temu
Puisiku sebatas keasingan orang normal
Yang sengaja menyihirmu
Mengabadikan hasrat dalam bungkus tubuh
Biarksn aku menikmatimu
Dengan puisiku
Menjamah tubuhmu dengan diksiku
Merangkulmu dengan janjiku
Merapal asmamu dengan setiaku
Runcing rasa bermesra di daun telinga
Membisikkan kemesraan yang ambigu
Sulit kutafsiri
Lebih dari diksi puisi
Biar kacau kalimatku
Perihal tentangmu.


- Advertisement -

Tinggalkan Balasan