Jacob Oetama

Jacob Oetama
Ilustrasi: Dimas Chill

Ahmad Erani Yustika

Guru Besar FEB UB


“Kompas kehilangan kompas,” barangkali itu frasa yang tepat untuk mendeskripsikan wafatnya Jacob Oetama. Bersama P.K. Ojong, Pak Jacob telah menjadi sumber arah bagi perjalanan Kompas (juga kelompok usaha Gramedia dan lainnya). Kompas menjadi ladang subur bagi persemaian pemikiran kebangsaan, kemanusiaan, dan pengetahuan. Bahasa yang dipakai jauh dari diksi meledak tanpa nyawa, namun santun, damai, dan bermakna. Kompas selalu memilih kedalaman, bukan kontroversi murahan.

Itu sebabnya Kompas selalu menjadi rujukan bagi para cendekia sebagai bacaan harian. Saya sendiri beruntung sejak kecil (nyaris 40 tahun silam) punya kesempatan ini karena (alm) Bapak melanggan Kompas (juga koran dan majalah lain). Meski kami tinggal di desa di kabupaten kecil (Ponorogo, Jatim), tapi Bapak punya prinsip: pengetahuan (informasi) wajib menjadi panglima kehidupan. Kerangka itu lantas menjelma dalam kebijakan alokasi anggaran keluarga: koran lebih utama dari perhiasan.

Bagi kaum intelektual, Kompas tak hanya menjadi bahan bacaan, namun juga tujuan tulisan. Secara bawah sadar terdapat “konsensus”: belum absah menjadi akademisi atau kolumnis bila tak mampu menembus Kompas. Itu pula yang menjadi obsesi saya sejak masa SMA. Akhirnya, pada masa kuliah artikel/resensi bisa dipublikasikan. Setelah itu, rasanya hidup saya menjadi tak terpisah dengan Kompas: lebih dari 100 artikel sudah mengisi ruang opini Kompas. Bahkan, pernah 3 tahun diminta menjadi kolumnis ekonomi tetap. Utang budi yang tak terkira.

Berita Terkait :  Kamus Kecil, Telepon Tengah Malam dan Doa Malam | Puisi Joko Pinurbo

Sejak lulus kuliah itu pula saya berinteraksi dengan para awak Kompas: wartawan, staf redaksi, redaktur, pemimpin redaksi. Wawancara intensif kerap kami lakukan. Saya beberapa kali diundang sebagai penyaji Diskusi Ahli Kompas (bisa berlangsung 5 jam nonstop, dengan peserta awak Kompas). Bukan cuma diskusinya yang asik, tapi juga makananannya yang legit. Keluarga besar Kompas punya lelaku yang sama: sahaja, ramah, dan pintar. Rasanya, itu semua terbentuk karena karakter Jacob Oetama.

John Maxwell punya ungkapan bagus soal pemimpin: “The pessimist complains about the wind. The optimist expects it to change. The leader adjusts the sails.” Itulah yang dikerjakan Pak Jacob sepanjang hayatnya. Dia mengarahkan layar tidak dengan teriak atau bentak, tapi lewat visi dan kerja suci. Angin diamati dengan cermat, perubahan-perubahan diproyeksikan dengan terukur, dari situlah layar dikembangkan dan diarahkan.

Selamat jalan, Pak Jacob Oetama. Manusia utama yang telah menjelma menjadi suluh bangsa.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan