Ingin Saingi Huawei, Gedung Putih Sarankan Perusahaan Swasta Beli Ericsson atau Nokia

Ericson
© AFP 2020 / Maja Suslin

Berita Baru, Internasional – Pada Kamis (25/6), pejabat dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS) telah mempertimbangkan pendekatan baru untuk memperketat persaingan global melawan raksasa telekomunikasi China Huawei Technologies.

Mengutip sumber yang akrab dengan masalah tersebut, Wall Street Journal melaporkan bahwa pertimbangan itu dilakukan secara berselang-seling dengan raksasa teknologi AS, perusahan ekuitas swasta dan eksekutif veteran.

Salah satu pertimbangan yang muncul adalah mendorong perusahaan besar AS seperti Cisco Systems Inc untuk mengakuisisi perusahaan Eropa Ericson AB atau Nokia Corp.

Hal itu dilakukan untuk memperkuat posisi AS sebagai produsen peralatan untuk penyedia layanan komunikasi dan operator ponsel pintar.

Lebih lanjut, Washington membahas kemungkinan langkah dengan raksasa teknologi AS yang telah kendur dalam hal mengejar ketinggalan dengan tren pasar terbaru, yakni jaringan 5G.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Amerika Serikat belum menjadi pemimpin dalam gelombang teknologi kritis yang muncul,” tulis sebuah laporan yang beredar di Gedung Putih dan dikutip Wall Street Jounal.

Akan tetapi, sejauh ini upaya tersebut belum membuahkan hasil karena perusahaan-perusahaan AS tidak tertarik dalam melakukan bisnis dengan garis margin yang rendah seperti Ericson dan Nokia seperti yang disarankan Washington.

Berita Terkait :  Aturan E-commerce 'Regresif' India, Dapat Merusak Hubungan Dagang India-AS

Selain itu, pembicaraan tersebut juga terhenti karena adanya pandemi virus korona yang membuat mereka terpaksa berhenti melakukan pembicaraan.

Sebelum itu, Washington sudah membahas beberapa skema untuk menggunakan Ericson atau Nokia untuk ‘melengserkan’ Huawei dari posisi saat ini.

Di antara skema tersebut adalah memberikan keringanan pajak perusahaan di AS, pembiayaan bank ekspor atau dengan memberikan dukungan keuangan kepada kelompok yang akan membeli raksasa teknologi Eropa.

Pemilihan dua perusahaan itu sudah melalui pertimbangan yang ketat. Bersama dengan Samsung, Ericsson dan Nokia, mereka adalah pemasok peralatan komunikasi terbesar di luar Huawei yang memegang sekitar 28% dari pasar, dilansir dari Sputnik.

Upaya lain yang digunakan AS untuk menjatuhkan Huawei juga dilakukan secara politik. Washington menuduh Huawei menggunakan peralatan komunikasinya untuk memata-matai pengguna bagi kepentingan Beijing.

Namun tuduhan itu belum mendapatkan bukti kuat. Baik Huawei maupun Beijing menolak klaim tersebut.

Victor Zhang, wakil presiden Huawei menyebut bahwa alasan AS membatasi Huawei bukan karena keamanan, melainkan karena pasar.

Berita Terkait :  Jika AS Masih Terus Menindas, China Bersumpah Akan Membalasnya

Di tahun 2019, Washington telah melarang Huawei beroperasi di AS dan membatasi kemampuan perusahaan-perusahaan Amerika untuk melakukan bisnis dengan Huawei.

Selain Huawei, perusahaan-perusahaan China yang beroperasi di AS pun mendapatkan pembatasan yang ketat. Sebanyak 35 perusahaan China diblacklist Departemen Perdagangan AS.

Menanggapi hal itu, Beijing tidak terima dan pada gilirannya bersumpah untuk membalas tanggapan atas tindakan tersebut.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan