Berita

 Network

 Partner

Ilmuan: Terlalu Cepat Menanggapi Kepanikan Rokok Elektrik di AS

Ilmuan: Terlalu Cepat Menanggapi Kepanikan Rokok Elektrik di AS

Berita Baru, Internasional – Sekelompok ahli kesehatan masyarakat terkemuka di Amerika Serikat (AS) minggu ini menerbitkan Op-Ed (opposite the editorial page atau halaman editorial sampingan) mengenai krisis rokok elektrik di Jurnal Science – salah satu jurnal akademik terkemuka di AS. Mereka menghimbau agar orang-orang tidak panik setelah ada lonjakan penyakit yang disebabkan rokok elektrik.

Mereka dalam menulis Op-Ed itu bekerja sama dengan beberapa pengawas ahli tembakau terkemuka, yaitu: Amy Fairchild dari Negara Bagian Ohio; Ronald Bayer dari Columbia; Cheryl Healton dan David Abrams dari New York University; dan James Curran dari Emory. Tiga dari pengawas ahli tembakau itu merupakan dekan kampus kesehatan umum paling bergengsi di Amerika Serikat.

Bayer dan koleganya menulis dalam Op-Ed bahwa membiarkan rokok tetap boleh berada di pasaran tapi “membatasi akses dan daya tarik produk rokok elektrik”, akan menjadi kemunduran besar bagi kesehatan masyarakat global. Mereka lebih menyarankan menggunakan pendekatan pengurangan bahaya, seperti yang dilakukan Inggris. Mereka mengasumsikan bahwa nikotin tidak akan dihapuskan dari dunia dalam waktu dekat. Mereka juga menganjurkan kebijakan dan regulasi yang cermat.

Berita Terkait :  Mulai Oktober, Thailand Izinkan Turis Tinggal Lebih Lama

“Dalam kesehatan masyarakat, selalu ada pertukaran,” kata Bayer. “Anda harus mempertimbangkan risiko dan manfaatnya.”

Para penulis menyerukan semacam “sistem pemantauan produk” sambil menambahkan, “Jika [AS] akan mengambil tindakan kebijakan terkait rasa rokok, maka rasa mentol dalam rokok biasa harus menjadi target pertama.” Tetapi, seperti ditekankan Bayer, kesimpulan dan rekomendasi penting yang mereka buat adalah untuk memberikan pajak atas produk rokok elektrik sehingga masih memungkinkan perokok biasa saat ini mulai bisa beralih ke rokok elektrik. Mereka juga menyarankan secara hukum federal untuk menaikkan usia minimum pembeli produk nikotin pada usia 21 tahun.

Ketertarikan anak-anak terhadap rokok elektrik menjadi fokus beberapa survei terkait lonjakan penyakit yang disebabkan rokok elektrik. Baru minggu lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merilis beberapa data tahunannya dari National Youth Tobacco Survey (NYTS). Hasil survei itu menyebutkan bahwa mayoritas anak-anak yang mencoba rokok elektrik hanya dikarenakan “rasa ingin tahu” (sedangkan rasa rokok sendiri berada di urutan ketiga).

Berita Terkait :  Virus Corona Serang 4 Warga Australia

Namun, banyak kritikus mengecam survei NYTS karena penelitiannya tidak tepat dan tidak lengkap: Responden pelajar tidak memiliki opsi “ingin nikotin” sebagai alasan utama untuk mencoba rokok elektrik. Dan seperti yang telah ditunjukkan oleh beberapa penentang pengurangan dampak buruk rokok, rokok elektrik bukan produk tembakau, karena tidak ada tembakau di dalamnya.

Kegentingan terkait rokok elektrik telah membagi opini publik menjadi dua kubu yang berbeda. Pertama, mereka yang mengakui bahwa peningkatan pengguna rokok elektrik pada remaja adalah masalah serius yang harus ditangani, tetapi juga melihat rokok elektrik sebagai alat pengurangan bahaya perokok membuang putung rokok sembarangan; Kedua, mereka yang percaya bahwa masalah ini dapat diberantas melalui taktik larangan, seperti mengadopsi larangan rasa-rasa tertentu pada rokok yang telah dilakukan oleh banyak negara bagian dan kota besar.

Berita Terkait :  Israel Perkuat Perbatasannya Setelah Diancam Hizbullah

Pekan lalu, Presiden Donald Trump mengusulkan menaikkan usia minimum untuk penjualan produk-produk rokok elektrik pada usia 21 karena meningkatnya kematian dan penyakit yang berkaitan dengan rokok elektrik. Trump lebih menyarankan menaikan batasan usia minimal pada produk rokok elektrik daripada larangan langsung dengan mengatakan rokok elektrik adalah ilegal dan produk terlarang.

Pada Oktober, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) telah melaporkan 34 kematian dan lebih dari 1.600 kasus cedera paru-paru terkait dengan rokok elektrik. (Ipung)

Sumber : Sputniknews