Berita

 Network

 Partner

Hari Kematian | Cerpen David Utomo
Ilustrasi: @deni.painting

Hari Kematian | Cerpen David Utomo

Bagai seekor ular yang terancam, kereta api itu merayap di sepanjang rel yang lurus dan berkelok. Waktu kereta api itu melintasi kota, setiap sisi pemandangannya adalah bangunan-bangunan belaka dan sesekali lalu lintas jalan raya yang sibuk. Lalu pada sebuah perlintasan tiba-tiba kereta api itu menabrak seseorang yang berdiri bagaikan patung di tengah rel. Tubuh yang tertabrak itu terpelanting dan tergeletak ke semak-semak di sisi rel. Pada saat itu pula, manusia yang ada di sekitar tempat kejadian seperti ditarik oleh medan magnet maharaksasa, menciptakan kerumuman besar orang bagai rombongan lalat mengerubungi bangkai.

Kerumunan itu tak akan pernah berakhir seandainya ambulans tak datang. Setiba lelaki  itu di rumah sakit, dokter yang memeriksanya di ruang instalasi gawat darurat berkata, “Nyawanya tak terselamatkan.” Kemudian perawat mengantar jasad lelaki itu ke kamar mayat.

Keesokan harinya, koran lokal memuat peristiwa naas itu satu halaman penuh,”Kecelakaan Maut Kereta Api Ekspress.” Seseorang menjemput mayat lelaki itu ke rumah sakit dan membawanya ke kediaman lelaki itu. Berita tentang kematiannya menyebar dari mulut ke mulut. Dia berbaring menunggu untuk dimakamkan pada saat tengah hari tiba. Sementara tetangga dan teman-temannya datang melayat. Namun seorang gadis muda mengejutkan seluruh orang yang melayat dengan tangisnya yang menjadi-jadi. Dia datang dengan perempuan yang tampak lebih tua dengannya.

“Kalau saja dia masih hidup,” kata gadis itu terisak-isak sambil menutup mulut dengan satu tangan.

Air mata yang jatuh mengalir di kedua pipi gadis itu, diseka dengan tangannya sendiri. Siapakah dia hingga begitu berduka atas kematian lelaki itu? Apakah dia memiliki hubungan dengannya? Atau mungkin dia pernah bertemu di suatu tempat entah di mana? Begitulah pikiran-pikiran yang bergayut di kepala para pelayat.

“Kasihan sekali. Kudengar ia tak memiliki keluarga,” kata lelaki bertubuh pendek.

“Ya. Tak ada siapa pun. Pagi tadi, Kamerad yang menjemputnya ke rumah sakit,” kata lelaki yang sebelah matanya katarak.

“Siapa Kamerad?” tanya lelaki jangkung.

“Temannya. Mereka sering bercakap-cakap sampai larut malam di kedai kopi,” jawab lelaki yang sebelah matanya katarak itu.

“Memangnya apa pekerjaan sehari-harinya?” tanya lelaki paling tua di antara para pelayat.

“Tak ada yang tahu apa pekerjaannya. Dia seorang hartawan,” jawab pemilik kedai kopi.

“Ya. Dia menghabiskan banyak uang semasa hidupnya. Lihatlah semua harta benda di dalam rumahnya,” kata seorang tetangga.

“Dan aku sering mengantarnya pergi ke rumah bordil,” bisik seorang sopir taksi.

“Barangkali dia ingin menghabiskan masa kejayaannya sampai kematian tiba,” kata seorang lelaki yang mengenakan kacamata.

“Kehidupan yang luar biasa. Mungkin dia mempercayakan semua yang dia tinggalkan pada seseorang. Ya, selama ini yang kita tahu bahwa dia hanya hidup seorang diri,” kata seorang lelaki yang sejak perbincangan itu dimulai hanya mendengarkan saja, kini memberikan tanggapannya.

Berita Terkait :  Malaikat di Ladang Jagung

“Jadi buat apa uang dan beras yang diberikan oleh orang yang melayat ini? Tak seorang pun tinggal bersamanya,” ujar seorang anak muda.

Waktu tengah hari tiba, cuaca menjadi begitu panas. Keranda lelaki itu akan diusung ke tempat pemakaman melewati ladang-ladang para penduduk. Enam orang lelaki mengangkat keranda itu. Gadis yang menangis terisak-isak tadi juga ikut mengantarkannya. Hanya dia satu-satunya yang mengeluarkan air mata pada kematian lelaki itu. Gadis itu memakai payung untuk menghindari terik matahari dan sebelah tangannya lagi memegang keranjang bunga. Saat keranda lelaki itu tiba di pemakaman dan diletakkan di tepi lubang kubur. Selang beberapa menit kemudian menguburkannya ke dalam tanah. Lalu, bunga-bunga ditaburkan dan seorang pendeta membacakan doa, sementara yang lain mengucapkan: Amin! Gadis itu menjadi orang terakhir yang pergi meninggalkan pemakaman.

Lewat tengah malam. Seperti yang pernah orang katakan, roh orang mati akan bangkit dan berkeliaran di atas bumi selama seratus hari. Roh lelaki itu bangkit seperti jiwa-jiwa yang menunggu untuk pergi ke langit lapisan terakhir. Semua yang ada di sekitar tempat pemakaman benar-benar sepi, hanya terdengar suara burung malam dan serangga penggerek. Rembulan dalam lingkarannya yang penuh di langit penuh bintang. Kemudian roh yang bangkit itu meninggalkan pemakaman dan menuju ke rumah yang baru saja ditinggalkannya. Tak ada kendaraan atau orang yang lewat di jalanan. Semasa lelaki itu masih hidup, berjalan kaki sendirian pada waktu tengah malam adalah hal yang tak pernah dilakukannya. Cukup cegat taksi jika ia ingin berjalan-jalan atau pulang ke rumahnya saat lewat tengah malam. Lelaki itu kini tidak berjalan dengan kedua kakinya melainkan melayang. Bagi orang yang telah mati, waktu bukanlah sesuatu yang penting. Ketika ia tiba di rumahnya ia melakukan tur mendadak ke setiap ruangan. Tak ada yang berubah, semua benda di situ masih dalam keadaan yang sama pada saat ia tinggalkan. Setelah tur singkat menyisir semua ruangan, datanglah kebosanan, dan tanpa pikir panjang, ia memutuskan untuk pergi ke rumah bordil. Lelaki itu tak sempat mengucapkan selamat tinggal pada sarang kesenangan itu. Beberapa saat kemudian, ia menyadari bahwa ia tak bisa lagi menyentuh sesuatu yang nyata.

Sebelum mencapai tujuannya. Lelaki itu berdiri di depan kafe di seberang jalan rumah bordil. Melalui sebidang dinding kaca depan kafe itu ia melihat seorang wanita yang dikenalnya. Dulu, wanita yang berada di dalam kafe tersebut adalah salah satu pelacur di rumah bordil. Lalu lelaki itu datang menghampirinya, “Halo, apa kabar?” Wanita itu tak mendengar perkataan lelaki itu. Lelaki itu tahu, wanita itu  memilih menjadi seorang pelacur karena keluarganya pernah mengalami masa yang sulit. Ayahnya masuk penjara karena terjerumus utang dan ibunya bunuh diri. Itulah awal mula kehidupannya di rumah bordil. Pertama kali pertemuan mereka terjadi saat seorang mucikari menawarkan wanita itu padanya, “Yang ini cantik, nyaris sempurna seluruhnya, kau harus membayarnya lima kali lipat!” Lelaki itu menyetujuinya dan tak peduli soal bayarannya.

Berita Terkait :  Perempuan Tua di Jembatan Sungai Ōta | Cerpen: Ade Ubaidil

“Ini pertama kalinya aku bersetubuh.”

“Ya, aku juga.”

Kemudian setelah urusan di rumah bordil selesai, mereka pergi meninggalkan rumah bordil dan pergi ke sebuah toko roti. Di sanalah mereka berdua berpisah dengan aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan. Menurut pengamatan lelaki itu, dia adalah wanita paling cantik di rumah bordil. Untuk terakhir kali, lelaki itu memandang wajah wanita itu, dan segala kenangan lantas melintas di kepalanya.

Lelaki itu kemudian pergi berjalan-jalan tanpa tujuan dan lupa pada tujuan awal yang niatkannya. Sampai tanpa ia sadari telah berada di tepi pantai. Udara di tepi pantai sangat dingin mesti ia tak bisa merasakannya. Lelaki itu terus menelusuri tepi pantai yang paling indah di kota. Memandangi ombak yang bergulung dan kemudian pecah. Dari kejauhan ia melihat bayangan hitam yang terus bergerak, ia mendekat dengan melayang ke arah bayangan hitam itu, sejenak bayangan hitam itu berhenti bergerak. Semakin dekat sosok bayangan hitam itu semakin jelas. Seorang gadis muda yang sedang duduk di tepi pantai, dialah sosok di balik bayangan hitam itu. Cahaya bulan yang terang menerangi wajahnya dan angin yang bertiup membuat rambutnya tergerai. Kemudian dia menoleh pada lelaki itu tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tak disangkanya gadis itu bisa melihat roh. Lalu lelaki itu memperhatikan wajah gadis itu lama sekali dan setelah diperhatikan dengan teliti, samar-samar tapi akhirnya ia ingat kalau dialah gadis  yang ingin ia ketahui. Gadis itu tetap tenang dengan kehadiran lelaki itu di dekatnya. Tanpa menunggu lama, lelaki itu berbicara dengan si gadis.

“Akhirnya. Sedang apa kau di sini?”

“Menghabiskan malam.”

“Aku tak mengerti mengapa kau menangisi kematianku?”

“Satu-satunya yang tak kumiliki adalah seorang ayah. Kaulah ayahku.”

“Tidak mungkin. Tak seorang pun yang kumiliki di dunia ini, semuanya telah tiada.”

“Ingatkah kau pada seorang pelacur yang pertamakali kau temui?”

Lelaki itu terdiam. Lalu, gadis muda itu melanjutkan perkataannya.

“Dialah ibuku.”

“Aku baru saja bertemu dengan ibumu. Tapi aku tak dapat berbicara dengannya. Karena itulah aku pergi ke sini.”

Berita Terkait :  Puisi-puisi Latief S Nugraha: Bahasa Seorang Pembawa Pesan

“Kau telah membebaskan kakekku dari penjara dan membayar semua utang-utangnya.”

“Memang. Sebab jika waktu itu kutahu bahwa ibumu adalah seorang wanita yang terpaksa terperosok pada kehidupan paling nista. Tatkala aku melamarnya dia dengan tegas menolak lamaranku. Katanya, Seorang pelacur tak butuh kesetiaan.”

“Waktu umurku satu tahun, kakekku mengasuhku sampai aku berumur dua tahun, kemudian dia meninggal. Ibuku kembali ke rumah bordil. Dan di sana dia bertemu denganmu kembali kan? “

“Benar. Malam itu kami bersantap di sebuah restoran.”

“Ya. Kau selalu memberinya uang setiapkali kalian bertemu. Dari uang yang kau berikan itulah penghidupan kami selama ini.”

“Ya, Tuhan. Tapi kenapa kau tak datang menemuiku sewaktu aku masih hidup?”

“Jangan pernah kau tunjukan wajahmu di hadapannya sampai aku menyuruhmu. Jika kau bertemu dengannya tanpa sepengetahuanku, riwayatmu akan tamat. Itu yang ibuku katakan.”

“Aku tak mengerti maksud ibumu melarangmu untuk bertemu denganku. Namun ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu, apakah kau benar-benar anakku dan aku adalah ayahmu?”

“Ya, jika kau tak keberatan.”

“Aku memiliki ikatan darah denganmu?”

“Kau ingin tes DNA?”

“Tidak. Sejak kapan kau tahu bahwa aku adalah ayahmu?”

“Sudah lama sekali. Maka mulai sekarang aku akan memanggilmu Ayah.”

“Kau boleh memanggilku dengan sebutan Ayah. Sayangnya, kini aku telah berada di dunia yang lain.”

“Tak apa. Suatu saat kita juga akan bertemu kembali.”

“Manusia yang telah mati meninggalkan segalanya. Jadi, kuberikan semua yang masih kumiliki padamu. Pergilah ke rumahku dan temukan brankas di dapur, kuncinya ada di dalam vas bunga dekat rak buku.”

“Aku tak dapat menerimanya.”

“Kau harus menerimanya. Itulah kenyataan yang sesungguhnya. Semua yang akan menyelamatkan hidupmu ada di sana, kau bisa memanfaatkannya.”

“Tak sedikit pun kau ragu menyerahkan semua itu padaku?”

“Manusia hanya boleh ragu ketika ia masih hidup.”

“Sebenarnya bukan itu yang kuharapkan. Hanya saja aku …,” tiba-tiba gadis itu berdiri.

“Sekarang sudah saatnya kita berpisah, Anakku. Kuanggap perpisahan kita sebagai hal yang membahagiakan.”

“Tidak! Ayah, tidak!”

Seketika gadis muda itu memeluknya dan lelaki itu tak bisa merasakan pelukannya. Gadis itu melepaskan pelukannya dan mereka saling memandang. Perlahan roh lelaki itu menghilang dalam bentuk cahaya yang beterbangan seperti debu.   “Sekali lagi. Selamat tinggal, Anakku. Selamat tinggal.”

Dan lelaki itu lenyap selamanya. Mungkin hanya gadis itu dan ibunya yang akan mengenang sosok lelaki yang paling berjasa bagi kehidupan mereka itu.


David Utomo, kini menetap di Sumatra Barat