Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Hilmy

Gus Hilmy Ajak Jamaah Teladani Prinsip Syekh Abdul Qadir al-Jailani



Berita Baru, Yogyakarta – Tradisi membaca maulid, manaqib, dala’il, dan hizm, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya muslim, menjadi sorotan dalam acara Pembacaan Manaqib Syaykh Abdul Qadir al-Jilani dan Mawlid Diba’i di Pondok Pesantren al-Hadi, Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Bantul.

Menurut Hilmy Muhammad, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, tradisi ini memiliki nilai yang mendalam dan kaya akan sejarah serta kearifan lokal.

“Manaqib Syekh Abdul Qadir telah berusia 850 tahun. Tapi sampai hari ini masih terus dibaca di mana-mana. Tidak hanya Sayyid Ja’far al-Barzanji yang menulis tentang beliau, tetapi ada lebih dari 70 buku yang ditulis oleh para kiai, tapi juga para akademisi, para doktor dalam berbagai bahasa,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Hilmy, sapaan akrab Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., menyoroti kepribadian Syekh Abdul Qadir al-Jilani yang rendah hati, menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.

“Beliau dijuluki sebagai sultonul auliya’ atau rajanya para wali. Nama beliau selalu disebut-sebut dalam tawasul tahlil dan doa-doa dari zaman ke zaman hingga saat ini. Bukan sebab kekeramatan beliau bisa terbang, atau bisa berjalan di atas air. Beliau sedemikian hebat karena salah satunya, beliau memiliki prinsip ajaran tawadlu atau rendah hati,” jelasnya.

Tradisi ini, menurut Gus Hilmy, tidak hanya menjadi wadah bermunajat, tetapi juga sebagai pembelajaran akan kepribadian para ulama, yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

“Adanya majelis-majelis seperti ini, disamping dalam rangka berdoa dan bermujahadah, juga diharapkan bisa memberi pemahaman kepada masyarakat tentang tokoh dan kebiasaan-kebiasaan baik mereka, agar masyarakat bisa semakin mengenal, dan kemudian meniru serta meneladani mereka dalam berbagai aspek kehidupan,” tuturnya.