Faktor Udara Bisa untuk Memprediksi Penyebaran Pandemi Covid-19

-

Berita Baru, Yunani – Penelitian menunjukan, suhu dan kelembapan udara memainkan peran kunci dalam menentukan kapan dan di mana gelombang Covid-19 selanjutnya akan terjadi.

Dilansir dari Dailymail.co.uk, Para peneliti mengatakan model prakiraan saat ini hanya memperhitungkan dua faktor, yaitu tingkat transmisi dan pemulihan.

Tetapi dengan memasukkan data tentang kelembaban dan suhu, para peneliti dari Siprus – Yunani, dapat menambahkan tingkat nuansa yang memungkinkan peramalan pandemi yang lebih akurat.

“Hasilnya menunjukkan bahwa dua wabah pandemi per tahun tidak dapat dihindari karena terkait langsung dengan apa yang kita sebut cuaca musiman,” tulis para peneliti dalam penelitian mereka. Pada Selasa (02/02).

Talib Dbouk dan Dimitris Drikakis, dari Universitas Nicosia, membuat model komputer yang menjelaskan variasi cuaca serta perilaku dari penyebaran Covid-19 lewat udara.

Ini disebut indeks AIR (Airborne Infection Rate) dan berfokus pada konsentrasi partikel virus korona dalam kondisi berbeda.

AIR diterapkan pada data virus corona mulai musim panas 2020 di Paris, Kota New York, dan Rio de Janeiro, serta mampu memprediksi gelombang kedua Covid-19 di kota-kota ini.

“Kami mengusulkan bahwa model epidemiologi harus memasukkan efek iklim melalui indeks AIR,” kata Drikakis.

Dia menambahkan bahwa intervensi non-farmasi seperti pemakaian masker dan jarak sosial efektif, tetapi tidak cukup untuk memberantas patogen Covid-19.

Dan keputusan pembuat kebijakan untuk menerapkan lockdown seharusnya tidak hanya didasarkan pada data yang berkaitan dengan tindakan ini dan ciri-ciri virus yang diketahui, karena faktor lingkungan juga berperan.

“Dalam pandemi, di mana vaksinasi masif dan efektif tidak tersedia, perencanaan pemerintah harus berjangka panjang dengan mempertimbangkan efek cuaca dan merancang pedoman kesehatan dan keselamatan publik yang sesuai,” tambah Dbouk.

“Ini dapat membantu menghindari tanggapan reaktif dalam hal penguncian ketat yang berdampak buruk pada semua aspek kehidupan dan ekonomi global.”

Studi yang diterbitkan dalam Physics of Fluids, juga menemukan gelombang kedua infeksi berbeda tergantung pada apakah suatu tempat berada di utara atau selatan khatulistiwa.

Hal ini karena perbedaan waktu musim di belahan utara dan selatan, dengan data untuk Paris dan Rio de Janeiro misalnya berbeda secara signifikan.

Para ilmuwan mengatakan model mereka menunjukkan bahwa ketika suhu meningkat dan kelembapan turun, jumlah infeksi akan turun.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments