Fakta Menarik dari Desa Lompat Batu Bawomataluo Nias

-

Berita Baru, Jakarta – Desa yang bertempat di Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara. Pada tahun 90-an terkenal karena uang pecahan seribu mencatumkan ilustrasi budaya “Hombo Batu” (Lompat Batu), yang menjadi ciri khas desa ini.

Seperti diketahui saat ini, Pemerintah sedang mengajukan Desa Bawomataluo sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia dengan masuknya Desa Bawomataluo dalam daftar situs warisan dunia, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Nias akan terus mengalami peningkatan.

Dilansir dari siaran pers Kemenpar, Plt. Kepala Biro Komunikasi Publik, Guntur Sakti mengungkapkan, setelah Desa Bawomataluo menjadi warisan dunia. Secara strategi promosi sangat mudah untuk dipasarkan, dan bisa menjadi salah satu destinasi utama para wisatawan ke Nias selain terkenal dengan ombaknya.

Untuk menuju desa para pelompat batu itu, butuh waktu 3 jam dari Bandara Binaka di Gunung Sitoli atau 40 menit dati Teluk Dalam ibu kota Kabupaten Nias Selatan.

Berita Terkait :  Aktivis FITRA Terpilih Jadi Kepala Desa

Desa Bawomataluo ditinggali oleh setidaknya seribu kepala keluarga. Masyarakat di dalamnya sangat memegang teguh nilai adat istiadat dari leluhur. Beragam pusaka budaya yang dulu dimiliki oleh para leluhur masyarakat Nias masih disimpan dan dirawat dengan seksama.

Berita Terkait :  Sebaran Covid 19 di Tuban: 27 ODP, Satu Diantaranya PDP

Beberapa di antaranya adalah omo hada alias rumah adat tradisional terbuat dari kayu namun tanpa paku, terdapat situs megalitikum, pelestarian tari-tarian, hingga atraksi lompat batu alias hombo batu. Tidak heran, atraksi-atraksi tersebut menjadi magnet bagi para pelancong untuk singgah di desa di atas bukit ini.

Begitu memasuki area desa Bawomataluo, umumnya pengunjung didampingi salah satu pemuda desa yang mencari penghasilan hidupnya dengan menjadi pemadu wisata bagi kampung yang dikenal dengan keindahan matahari terbit itu.

Berita Terkait :  Menko Luhut: Pariwisata Nias Jadi Perhatian Pemerintah

“Waktu terbaik untuk foto di desa ini ya pada saat matahari terbit. Nanti kalau ada kesempatan lain, datangnya pukul 5 pagi pak,” kata pemandu wisata Frans.

Selain terkenal dengan atraksi lompat batu, desa ini juga terkenal dengan arsitektural serta patung-patung kuno. Maka umumnya pemandu wisata akan mengajak pengunjung untuk mengelilingi kampung.

Berita Terkait :  Puji Setigi, Dandim Gresik Sebut Kinerja Kades Abdul Halim Berhasil Pulihkan Ekonomi di Tengah Pandemi

Jika beruntung, ada saat ketika upacara adat berlangsung sehingga bisa menyaksikan secara langsung termasuk saat ada salah satu warga yang sedang berduka.

“Di sini juga memiliki tradisi potong babi jika tengah berkabung. Jika ada orang yang meninggal di sini, babinya ikut dipotong juga dan dibagikan ke seluruh warga desa” kata Frans yang menjelaskan ketika itu ada seorang warga yang baru saja meninggal dunia.

Berita Terkait :  Baznas Gresik Serahkan Santunan 1000 Yatim Piatu dan Guru Ngaji di 4 Zona

Frans menceritakan asal mula para pemuda di kampungnya yang berpakaian khas prajurit kerajaan, dengan warna khas Nias, yaitu merah, kuning, dan hitam melompati batu setinggi 2 meter dan tebal 40 cm

“Lompat batu bermula dari syarat pemuda desa sudah bisa ikut berperang atau belum. Dahulu perang antar-wilayah sering terjadi. Setiap wilayah biasanya dipagari dengan bambu setinggi dua meter atau lebih. Untuk bisa ikut berperang dan diterima sebagai prajurit raja, seorang pemuda harus bisa melompati bambu yang memagari wilayah lawan. Selain itu, pemuda yang mampu melompati batu ini dianggap telah dewasa dan matang secara fisik,” kata Frans.

Berita Terkait :  Aktivis FITRA Terpilih Jadi Kepala Desa

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments