Di Tengah Pandemi Covid-19, Indonesia Ekspor Beras

ekspor beras

Berita Baru, Jakarta – Di tengah merebaknya wabah Covid-19 yang menghantam Indonesia, sektor pertanian justru memberikan angin segar. Memasuki masa panen raya padi, Indonesia melakukan ekspor perdana 20 ton beras premium Pandan Wangi Cianjur ke Singapura.

“Beras Pandan Wangi Cianjur merupakan salah satu varietas yang digemari di Singapura. Selain bertekstur pulen, juga mengeluarkan aroma wangi alami ketika dimasak. Keunggulan ini membuat beras Pandan Wangi Cianjur memiliki pasar tersendiri di Singapura,” ujar Asisten Manager PT. Buyung Poetra Sembada, Fredi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (31/3)

Fredi mengungkapkan bahwa ekspor beras tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaannya terhadap masyarakat Indonesia dan juga dalam rangka mensukseskan Program Gratieks (Gerakan Tiga Kali Ekspor) yang dicanangkan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo.

Selain itu Fredi juga mengharapkan Pemerintah terus meningkatkan produktivitas beras Pandan Wangi Cianjur untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Pemerintah juga diharapkan terus meningkatkan upaya mempromosikan keunggulan beras Pandan Wangi Cianjur dibandingkan dengan beras serupa yang dihasilkan oleh negara-negara pesaing. 

Berita Terkait :  WALHI: Presiden Jokowi Harus Belajar dari Kasus OTT Edhy Prabowo

“Ada nilai lebih dari selisih harga yang dibayarkan dibandingkan ketika membeli beras dari negara lain,“ ungkap Fredi.

Sementara Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Gatut Sumbogodjati mengatakan bahwa masa panen ini diperkirakan produksi gabah kering (GKG) pada Maret 2020 mencapai 5,6 juta ton atau setara 3,19 juta ton beras. April 2020 menjadi masa puncak panen raya dengan perkiraan produksi GKG sekitar 8,83 juta ton atau setara dengan 5,03 juta ton beras.

Berdasarkan data perhitungan prognosa ketersediaan dan kebutuhan beras yang dilakukan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, stok beras dinyatakan aman sampai akhir Mei 2020 dengan surplus sekitar 7,77 juta ton.

“Sehingga perkiraan surplus untuk komoditas padi juga memberikan angin segar bagi eksportir beras,“ ujar Gatut

Lebih lanjut Gatut mengatakan bahwa selain upaya peningkatan ekspor beras khusus, Pemerintah juga tengah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya saing beras umum di Pasar Internasional, salah satunya adalah penggunaan mekanisasi pertanian untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi. 

Berita Terkait :  Gelar RAPIMNAS; DPP ITHLA Membuktikan Tetap Produktif

Selain itu Gatut menyebutkan bahwa penggunaan mekanisasi pertanian pada saat panen padi selain menurunkan biaya produksi dan memperbaiki kualitas Gabah Kering Panen yang dihasilkan juga salah satu upaya untuk meminimalkan interaksi pekerja untuk mencegah penyebaran virus Corona. [*]

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini