Berita

 Network

 Partner

Kecak Bali

Desakralisasi Kecak Bali

Opini – Desakralisasi kosmos budaya akan terus menggerus masyarakat adat beserta kesuciannya. Pertemuan antar kebudayaan dan dinamika teknologi, selalu, dan akan berdampak pada pertarungan akulturasi dan purifikasi. Keduanya dikendalikan oleh roda gila yang bernama ekonomi pariwisata.

Itulah yang saya rasakan di sebuah panggung ala koloseum di Uluwatu, Bali. Tepat pukul 5 sore di kawasan wisata Pura Luhur Uluwatu, desa adat Pecatu, Bali, sejumlah wisatawan domestik dan mancanegara mulai tertib memasuki arena pertunjukan Kecak Fire Dance, sebuah semikolosal yang menghadirkan 70 penari dan menggeber lakon Ramayana dengan sejumlah tokoh, seperti: Rama, Shinta, Rahwana dan sejumlah punakawan lainnya.

Tari Kecak Bali adalah bagian dari ritual peribadatan dari Tari Sakral Sang Hyang, yang menggambarkan seseorang yang tengah kerasukan sambil menyampaikan pesan dari para dewa atau para leluhur. Namun, sejak tahun 1930-an, tarian ini mengalami desakralisasi dengan berubah menjadi kesenian tradisional tersendiri yang menyajikan performasi dengan latar belakang cerita Ramayana. 

Sayapun cukup kagum melihat suguhan dan dekor panggung Kecak Uluwatu yang ditata sedemikian rupa di atas tebing karang setinggi kurang lebih 50 meter dan berlatarkan debur ombak garis pantai Uluwatu beserta gelora buih Samudera Hindia. Mengingatkan era sajian teatrikal di Singapura yang masih bernama “Song of The Sea”. Mungkin penonton tertarik dengan tambahan kata “fire” pada judul pertunjukan “Kecak Fire Dance”.

Persepsi pertama dengan kata “fire”, adalah pertunjukkan nantinya akan dipenuhi tembakan laser dan kembang api ala pertunjukkan pantai “Song of The Sea” di Singapura. Namun, nyatanya hanya pembakaran serabut kulit kelapa yang disulut mengelilingi tokoh Hanoman. Sebuah pementasan yang melibatkan penggunaan api, yang menurut saya, kurang aman bagi penonton. Tiupan angin akan mudah menerbangkan bara api ke penonton ring satu yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja.

Berita Terkait :  Menyoroti Keberpihakan Pemimpin Daerah di Jawa Timur pada Lingkungan Hidup dan Rakyat

Bau dupa yang harum menyengat, menambah kesakralan acara. Durasi pertunjukkan yang berdurasi satu jam, bertarif 100 ribu rupiah untuk wisatawan domestik, sedang untuk wisatawan mancanegara sayapun tak tahu.

Sejumlah 70 orang pelakon tari kecak jelang matahari tenggelam memasuki arena bak paduan suara atau yang kompak. Mereka berteriak sambil menggerakkan tubuh untuk mengiringi pementasan tarian. Teriakan khas dengan dominasi ujaran satu suku kata yang terdengar “cak…cak…cak” yang diselingi rintihan magis vokal-vokal aneh nan misterius dilakukan oleh para penari yang berjumlah 70 orang.

Acapela dari suara alami mulut-mulut mereka adalah bagian terpenting dari sebuah ritual yang sekaligus menjadi tontonan. Teriakan ini juga menjadi musik pengantar keadaan kesurupan. Mungkin karena terlatih dalam sebuah disiplin sebuah pertunjukkan, mau kesurupan atau tidak, yang pasti iringan suara khas tersebut, terus berlanjut hingga pertunjukan ini usai.

Saat itu, saya mengambil tempat yang cukup strategis; tepat berhadapan dengan gapura, di mana sunset akan tampak eksotik pulang ke peraduannya. Performasi seni tari sakral yang digawangi dengan apik oleh Sanggar Tari dan Tabuh Karang Boma, Desa Adat Pecatu, tampak benar-benar sakral dengan melibatkan protokoler upacara keagamaan. Sebelum pertunjukan dimulai, diawalilah dengan kegiatan sembahyang di tempat pertunjukan yang dipimpin Pedande atau seorang pemuka agama. Ritual singkat ini juga menjadi bagian dari persiapan untuk meminta restu dari Sang Pencipta.

Setelah Pedande memberikan pemberkatan dengan air suci yang diperoleh melalui persembahyangan, pertunjukan pun dimulai dengan iringan suara khas para penari pendukung. Pemberkatan seperti ini melambangkan bahwa setiap kegiatan tradisional di daerah Bali identik dengan nilai keagamaan yang penuh dengan konten-konten sakral.

Penari yang rata-rata berbadan besar dengan variasi umur yang cukup tajam, satu-persatu memulai adegan sakral yang berupa tarian, bunyi-bunyian dari mulut, hingga persembahan doa. Mereka menghibur penonton yang rata-rata auratnyasetengah terbuka, walaupun sudah dibalut oleh selendang dan kain yang telah disediakan oleh panitia.

Berita Terkait :  Pasraman Pemangku Pedukuhan Siddha Swasti Akan Gelar “Pawintenan”

Pulau Bali merupakan salah satu pulau yang dikenal dengan beragam tradisi yang dimilikinya. Hal tersebut, menjadikan Bali memiliki daya tarik tersendiri di mata pariwisata dunia. Namun, dewasa ini Kecak Bali yang kerap dipertontonkan dalam sebuah paket bisnis pariwisata. Serta, digelar di dalam area atau berdekatan dengan bangunan suci Pura. Hal ini, tentunya cukup mengakibatkan tempat sakral dan bangunan suci lainnya mengalami desakralisasi atau penurunan nilai-nilai sakralnya. 

Pergelaran tari Kecak yang dimaksudkan untuk melukiskan kebesaran dan eksistensi budaya di pulau Bali itu, tampak juga mengalami desakralisasi pakem-pakem adat yang ada. Beberapa penari terlihat cengengesan yang tak jelas dalam beberapa episode, sambil terus menyuarakan suara-suara khas magis Kecak yang paada dasarnya adalah untaian doa dan tembang yang sakral. Entah itu kesurupan atau apa, yang pasti mata-mata mereka nanar menyambar pemandangan penonton yang multibangsa tersebut.

Kecak di Uluwatu sudah dipersepsikan sebagai sajian tontonan atau entertain yang mungkin asal ada. Sebuah pengaruh peradaban atas produk-produk kebudayaan. Bisa jadi, ini adalah salah satu usaha untuk membuat Kecak Bali berumur panjang dan bertahan lama sampai menembus ruang dan waktu. Legitimasi yang baik dan kuat dibangun oleh lingkungan warga peradaban itu sendiri, walaupun harus mengambil resiko desakralisasi dengan menunggang pada roda gila ekonomi pariwisata.

Dalam lapisan legitimasi seperti ini, produk-produk kebudayaan biasanya bisa berkembang, tetapi ketika legitimasi itu tinggal sebatas wilayah lingkungan masyarakat adat, di situlah produk kebudayaan semisal seni tari Kecak Bali berada dalam batas pertahanan terakhir.

Pariwisata Bali telah banyak menyuguhkan berbagai tontonan. Mulai dari tradisional, upacara adat dan pelbagai bentuk seni pertunjukan. Kegiatan ini telah menjadi agenda dan kegiatan resmi dari berbagai biro dan agen perjalanan wisata, perhotelan dan organisasi-organisasi kesenian di daerah. Semua bentuk kegiatan tersebut didukung oleh pihak-pihak terkait, termsuk pemerintah, yang memang membutuhkan masukan devisa bagi pembangunan. Tentunya, pemerintah mempunyai kepentingan besar dibalik semua perhelatan besar tersebut.

Berita Terkait :  Dukung Ekspor Kakao, LPEI Resmikan Desa Kakao Devisa

Untuk itu, pihak yang terkait dan pemerintah, akan berbuat apa saja bagi kesuksesan pementasan dan upacara-upacara sakral tersebut. Dalam pembangunan kepariwisataan di Indonesia, banyak melibatkan suguhan-suguhan sakral yang digali dari kekayaan budaya yang berupa berbagai bentuk tontonan, permainan tradisional, upacara adat dan berbagai bentuk seni pertunjukan lainnya. Namun, yang menjadi persoalan, apabila bentuk pertunjukannya berupa upacara ibadah keagamaan, seperti tari Kecak tersebut di atas.

Bagi masyarakat adat Bali, tentunya tari Kecak tetap dianggap sakral dan dihayati sebagai upacara religius. Namun, di pihak lain, seperti: penyelenggara, turis asing, dan kebanyakan para penonton, melihat dan menikmati tarian tersebut dengan sikap yang nonreligius, profan dan dianggap sebagai tontonan biasa. 

Apalagi dengan tambahan adegan menjahili penonton, seperti yang dilakukan oleh tokoh Hanoman; menjahili penonton dengan gestur yang bisa jadi tidak sopan untuk budaya lain, seperti: menyentuh kepala dan rambut penonton, menyingkap kain penonton, merangkul pasangan perempuan penonton. Semua itu membuat tari Kecak dipenuhi perundungan ataupun bullying, jauh dari kesan religius dan sakral.

Dampak pembangunan pariwisata terhadap sajian tari Kecak, juga memperkuat proses desakralisasi upacara ibadah keagamaan lain secara umum di Bali. Kecak di Uluwatu, ataupun di tempat-tempat berbayar lainnya, terasa tercabut dari basis sosial dan kulturalnya. Sehingga, Kecak Bali-pun menjadi sekedar sebuah tontonan yang sudah kehilangan nuansa dan rasa religio-cultural melalui ticketing performance.