Delapan Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dicekal Setelah Mencoba Melarikan Diri

(Foto: The Guardian)

Berita Baru, Internasional – Delapan dari 12 aktivis Hong Kong yang ditahan tahun lalu oleh otoritas China ditangkap setelah berusaha melarikan diri ke Taiwan, kata pemerintah Hong Kong.

Dikenal sebagai “Hong Kong 12”, kelompok itu ditangkap di laut oleh penjaga pantai Tiongkok Agustus lalu saat mereka mencoba mencapai Taiwan dengan speedboat.

Delapan orang yang kembali dicekal pada hari Senin (22/3) ini, semuanya dinyatakan bersalah pada bulan Desember karena mencoba melintasi perbatasan secara ilegal oleh pengadilan di kota Shenzhen, China, yang berada tepat di seberang perbatasan dari Hong Kong.

Dua anggota di bawah umur dikembalikan ke Hong Kong tanpa tuntutan, sementara Tang Kai-yin dan Quinn Moon, yang diidentifikasi sebagai pimpinan kelompok, masing-masing dijatuhi hukuman tiga dan dua tahun penjara, menurut media Hong Kong.

Seperti dilansir dari The Guardian, sebagian besar dari mereka berusia antara 17 dan 33 tahun pada saat penahanan. Mereka mencoba melarikan diri setelah tuduhan terkait protes di Hong Kong. Kemungkinan, mereka akan menghadapi tuntutan lebih lanjut setelah upaya mereka untuk melarikan diri.

Tuduhan yang dijatuhkan termasuk kerusuhan, penyerangan terhadap petugas polisi, pembuatan molotov, kepemilikan senjata ofensif, dan membuat bahan peledak, kata pemerintah Hong Kong.

“Ini adalah momen pahit manis bagi Hong Kong. Di satu sisi, kami menyambut baik fakta bahwa delapan dari 12 orang telah dikembalikan ke Hong Kong, tetapi di sisi lain, mereka menghadapi masa depan yang tidak pasti, dengan beberapa menghadapi persidangan dan penjara di bawah undang-undang keamanan nasional. Ini adalah kasus keluar dari wajan masuk ke dalam api,” kata Johnny Patterson, direktur kebijakan Hong Kong Watch yang berbasis di Inggris.

Di antara delapan yang dikembalikan pada hari Senin adalah Andy Li, yang menghadapi tuduhan kolusi dengan negara asing di bawah undang-undang keamanan nasional baru kota itu, menurut Amnesty International.

Insiden ‘Hong Kong 12’ menarik perhatian pemerintah asing termasuk AS dan Inggris, di tengah laporan bahwa mereka telah ditolak aksesnya ke perwakilan hukum oleh otoritas China, menurut kelompok hak asasi, sementara keluarga mereka hanya mendapat sedikit informasi tentang kondisi mereka.

Ratusan pengunjuk rasa diyakini telah melarikan diri ke Taiwan sejak protes pro-demokrasi Hong Kong 2019.

Pada bulan Juli, pemerintah Taiwan membuka kantor khusus untuk membantu pengunjuk rasa Hong Kong dan mereka yang mencari suaka, meskipun kasus tetap senyap karena pembatasan perjalanan Covid-19.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini