Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Dania Mencari Makam | Cerpen: Erwin Setia
Ilustrasi: Francisco Gonce

Dania Mencari Makam | Cerpen: Erwin Setia

Di kedai nasi goreng langgananku, seorang perempuan cantik yang bakal membuatmu tak berkedip saat melihatnya, duduk di sampingku, dia menyapaku dan bertanya, “Mas, apa Anda tahu permakaman umum dekat-dekat sini?” Itu pertanyaan tak lazim, wajar kalau saya tergugu, sehingga dia mengulangi lagi pertanyaannya. “Permakaman umum? Sekitar seratus meter ke arah barat ada permakaman. Permakaman kecil saja. Saya tidak tahu itu permakaman umum atau permakaman keluarga,” jawabku. Dia ber-“oh”, lantas tersenyum aneh. Jenis senyum yang membuatmu bergidik alih-alih tertarik.

“Mas Gustam, nasi goreng spesial dengan telur dipisah sudah jadi,” seru lelaki penjual nasi goreng. Saya bangkit dari kursi, menyahut dan membayarnya. Saat saya kembali ke kursi, perempuan cantik itu sudah tak kelihatan wujudnya. Saya menengok ke segala arah, bertanya ke dua pembeli lain, dan keduanya bilang tak melihat perempuan cantik mana pun di tempat ini.

Saya penasaran ke mana gerangan perempuan itu atau apakah perempuan tadi betul-betul ada dan bercakap-cakap denganku. Namun, perut saya meraung-raung. Saya menyalakan sepeda motor dan bergegas ke kosan. Hari sudah menjelang tengah malam ketika saya melenggang dengan kecepatan di atas rata-rata melewati jalan raya yang sepi. Jalan raya pada Senin malam hampir tak pernah ramai. Saya sangat menyukai situasi lalu lintas semacam ini, yang membuat saya tak perlu jengkel dengan pengendara bodoh yang doyan menerobos atau mengklakson sembarangan.

Sekira lima menit, saya tiba di kosan. Sama belaka dengan jalan raya, kompleks rumah kos tempat saya tinggal yang hanya terdiri atas sepuluh rumah memanjang seperti tubuh ular juga sepi. Tak ada apa-apa kecuali seunit sepeda motor yang diparkir sembarangan. Saya tidak tahu pasti motor siapa itu, yang jelas motor itu sering terparkir di halaman yang memang berfungsi sebagai tempat parkir. Motor saya parkir di depan pintu rumah. Saya keluarkan kunci dari saku, mencoloknya ke lubang kunci, dan memutarnya. Ketika pintu terbuka, saya hampir mati mendadak karena seseorang yang tak pernah saya kenal sudah berdiri tegak di ambang pintu. Ia perempuan dan meski masih ketakutan, saya harus akui wajahnya sangat cantik. Perempuan itu mengenakan pakaian ketat sehingga lekuk tubuhnya tampak menonjol dan membuatnya semakin terlihat paripurna. Saya tatap ke bawah, kakinya melayang beberapa senti di udara. Saya tatap kembali wajahnya. Astaga, ia perempuan yang barusan saya jumpai di kedai nasi goreng!

“Mas, saya sudah pergi ke permakaman yang tadi Anda tunjukkan. Ada permakaman di situ, tapi sudah tak ada lagi lahan yang kosong. Semua lahadnya sudah terisi. Saya ingin permakaman yang masih punya lahan kosong. Apa Mas tahu permakaman lain di dekat-dekat sini?”

Perempuan itu berbicara lancar dan tenang seolah-olah tak ada kejanggalan pada dirinya. Seolah-olah ia adalah seorang tamu hotel dan saya pelayan yang wajib menerima segala pertanyaan dan keluhannya. Tubuh saya bergetar. Mulut saya tergaguk-gaguk. Sebungkus nasi goreng dalam genggaman saya jatuh. Seharusnya saya buru-buru lari atau melolong minta tolong. Tapi mustahil saya bisa melakukan keduanya, sebab sekujur tubuh saya seperti diikat kencang dengan tambang yang terbuat dari es.

“Anda tidak perlu takut, Mas. Saya tidak akan melakukan apa pun terhadap Anda. Saya hanya bertanya di mana permakaman dekat-dekat sini. Itu saja.”

Akhirnya saya dapat bergerak. Mula-mula saya menggeleng, lantas tak terasa air mata luruh. Saya tidak tahu kenapa saya menangis. Cepat-cepat saya mengusap air mata itu. Perempuan itu masih berdiri tegap di hadapan saya dan ia masih terlihat begitu cantik. Seusai mengambil napas dalam-dalam—sebuah buku tipis yang saya lupa judulnya pernah memberitahu saya bahwa menarik napas dalam-dalam dapat membuat tubuh menjadi sedikit rileks—saya katakan padanya bahwa saya tidak tahu. “Setidaknya, saya belum terpikirkan soal permakaman selain yang tadi saya sebutkan pada Anda di kedai nasi goreng.”

“Baiklah, Anda tenangkan diri dulu. Saya tidak sedang buru-buru. Saya bersedia menunggu sampai Anda tenang. Barangkali setelah itu Anda bisa mengingat-ingat soal permakaman terdekat.”

Saya memungut bungkus nasi goreng yang terjatuh. Saya bilang saya ingin masuk dan makan dulu sebentar. Ia bergeser dengan cara yang ganjil—mirip cara burung berpindah tempat dari satu batang pohon ke batang lain—dan mempersilakan saya.

Perut saya kian meronta-ronta. Saya memutuskan untuk tetap makan, tak peduli di dekat saya sesosok hantu sedang berdiri tenang. Rasa lapar sukar sekali diajak kompromi. Saya makan dengan lahap. Sejak makan siang di kantor, saya belum makan apa-apa. Perut saya terasa kosong dan sebungkus nasi goreng ampuh mengisi kekosongan itu. Nasi tinggal setengah bungkus ketika tiba-tiba perempuan itu menoleh dan berkata, “Bolehkah saya menceritakan sesuatu kepada Anda?” Saya mengangguk, bukan karena saya kepengin mendengarkan ceritanya, tapi karena saya tengah asyik makan dan orang yang sedang makan kelewat malas untuk protes.

Ia tidak langsung bercerita. Ia tampak menimbang-nimbang sembari menyaksikan saya makan. Mungkin ia menunda cerita karena curiga saya tak akan memperhatikan ceritanya selagi saya masih makan. “Silakan cerita saja,” kata saya. Bagaimanapun, saya tak enak hati membiarkan ia—meskipun hanya sesosok hantu—mesti menunggu saya selesai makan untuk bercerita.

“Nama saya Dania. Saya seorang mahasiswa semester akhir salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Beberapa bulan lagi seharusnya saya wisuda. Saya akan menjadi sarjana dan membuat orang tua saya bangga. Tapi sialan, makhluk-makhluk biadab itu membuat semua rencana indah saya berantakan.”

Ia menghentikan perkataannya sejenak. Suaranya terdengar sedih dan wajahnya berubah murung. Saya mencium gelagat kurang sedap. Buru-buru saya habiskan makan dan minum segelas air dalam sekali teguk. Saya menatapnya. Ia menatap saya. Wajahnya tak tampak seperti hantu; ia tak pucat, alih-alih riasan kemerah-merahan masih tersisa di paras mudanya. “Silakan lanjutkan,” ucapku.

Ia bilang dua hari lalu, pada malam Minggu, ia mengunjungi kosan pacarnya. Ia dan pacarnya biasa kencan pada malam Minggu—sebagaimana umumnya sejoli. Biasanya pacarnya menjemput selepas magrib. Namun sampai azan isya berkumandang, pacarnya tak jua datang. Ia memutuskan untuk memesan ojek daring menuju rumah kosan si pacar. Cerita berikutnya agak terdengar klise. Tapi beginilah yang disampaikan Dania. Ia turun dari motor, membayar si sopir, lalu bergegas masuk ke halaman kosan pacarnya yang terletak di ujung gang dan sepi. Pada malam Minggu kosan memang kerap kosong. Para penghuninya sibuk di luar—pergi bersama pacar, bermain ke tempat keramaian bersama teman, pulang ke rumah keluarga, dan sebagainya. Kamar kos pacarnya berada paling ujung sehingga boleh dikatakan sebagai kamar paling diabaikan dan tak diperhatikan banyak orang. Dania berlari-lari. Sebelumnya ia sudah berkali-kali menelepon dan mengirim pesan ke nomor pacarnya, tapi tak ada reaksi. Sesampai di luar pintu kosan si pacar, ia menggedor-gedor. Ia mendorong pintu yang ternyata tak terkunci, terperangahlah Dania saat melihat kemaluan pacarnya sedang dicucup oleh seseorang yang sangat ia kenal—kakak lelakinya. Sepasang lelaki tanpa busana yang tengah masyuk dalam atraksi liar terlongok-longok mendapati kedatangan Dania. Dania berteriak-teriak dan mengumpat-umpat. Ia menyebut semua lelaki adalah anjing. Ia menyebut semua lelaki adalah bajingan. Ia menyebut semua lelaki adalah bangsat. Ia menderet sejumlah stempel odoh lainnya untuk lelaki. Saya agak kurang nyaman mendengarnya, tapi mana mungkin saya menginterupsi cerita sesosok hantu.

Cerita selanjutnya begitu mengerikan. Pacarnya menghampiri ia dan membekapnya. Pacarnya membekapnya sampai ia kesulitan napas. Dengan pandangan berkunang-kunang, ia melihat kakak lelakinya yang bermata mirip dengannya dan sering diolok-olok sebagai lelaki cantik—kakak lelakinya diperlakukan seperti perempuan oleh ibunya sejak kecil—mengambil semprotan nyamuk dari atas meja. Kakak lelakinya menyuruh pacarnya untuk membuka mulut Dania. Kakaknya menyemprotkan racun pembunuh serangga itu ke mulut Dania. Kemudian berganti-gantian kakak lelakinya dan pacarnya mencekik tubuh Dania sampai ia mampus. Dania tak sadarkan diri setelah itu. Tahu-tahu, ia terbangun pada suatu malam dan mendapati tubuh tak bernyawanya terkurung dalam peti kayu di satu rawa-rawa jauh dari permukiman. Ia membuka peti itu, beranjak dari rawa-rawa yang gelap dan sepi. Ia berjalan terus sampai menjumpai jalan raya, sampai ia menemukan sebuah lapak nasi goreng, dan ia menyapaku—ia bilang ia hanya mampu bercakap-cakap denganku.

“Kenapa begitu?” tanyaku.

“Karena hanya Anda yang mengenakan baju merah.”

Setelah menuntaskan ceritanya, ia menangis. Ia bilang ia ingin jasadnya segera dimakamkan agar ia bisa mati dengan tenang. Ia meminta saya mencarikan makam kosong untuknya. Saya katakan saya harus pikir-pikir dulu. Setelah berpikir beberapa lama, saya teringat ada permakaman cukup besar tak jauh dari kosan. Sekitar dua kilometer ke arah selatan.

“Antarkan saya ke sana sekarang juga,” pintanya.

Ia memelas dan itu membuat saya jatuh kasihan sehingga tak punya pilihan lain. Tengah malam itu juga saya memboncengnya, mengantarkannya ke permakaman itu. Setiba di pagar permakaman dengan aroma melati menggayuti udara, ia mengucapkan terima kasih. Saya bilang saya akan langsung pulang.

“Oh iya, siapa nama Anda?” tanyanya sebelum saya berbalik.

“Nama saya Gustam.”

“Apakah Anda termasuk lelaki bajingan seperti kakak dan pacar saya?”

Saya menggeleng-geleng.

“Jadilah laki-laki yang baik,” katanya, “jangan jadi anjing, bangsat, dan bajingan.”

Saya mengangguk.

“Selamat tinggal. Bacalah berita esok pagi,” ucapnya dengan senyum yang aneh. Ia berkelebat dan hilang begitu saja.

***

Pagi-pagi dalam perjalanan menuju kantor di atas bus kota, saya membaca sepotong berita di sebuah portal berita daring. Begini ringkasannya: Seorang pemulung menemukan mayat dua orang pria tanpa busana dalam sebuah peti di sebuah rawa-rawa jauh dari permukiman.

Tambun Selatan, 5 April 2020


Erwin Setia lahir tahun  1998. Penikmat puisi dan prosa. Penulis lepas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, dan Pikiran Rakyat. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected]