Cinta dan Mala | Catatan Ramadan: Ahmad Erani Yustika

-

Ahmad Erani Yustika

Deputi Ekonomi Setwapres; Guru Besar FEB UB


Manusia kerap terkecoh dengan kenikmatan yang fana, namun sukar melihat kemuliaan yang baka. Nabi Ibrahim AS ialah salah satu manusia agung yang lolos dari silau gurih dunia. Cinta kepada yang fana ia tanggalkan (dengan menghunus pedang ke leher Ismail) demi memantulkan cahaya kepada Sang Maha Kasih yang baka. Imam Ibnul Qayyim menyatakan: “Pecinta dunia tak akan terlepas dari tiga hal: kesedihan yang terus-menerus, keletihan yang berkelanjutan, dan penyesalan yang tidak pernah berhenti.” Ketenangan hidup baru dirasakan bila manusia melepaskan, tidak menggenggam perkara bumi (zuhud).

Paradoks hidup menjadi album hiasan manusia. Rumah mewah dibangun berwibawa, tapi pemiliknya tinggal di penjara. Kebun sawit terus ekspansi, namun kebakaran tak terperi makin kerap terjadi. Cinta yang terus meminta (tambahan) akan menjadi mala. Kata Rasulullah: “Barang siapa yang mengambil dunia di luar kebutuhannya, maka tanpa sadar ia telah merusak dirinya sendiri.” Sebaliknya, puasa mengajarkan bahwa kasih yang tertinggi adalah memberi (berderma). Itu pula yang menggerakkan Sahabat Nabi, Ustman bin Affan ra, membeli sumur milik orang Yahudi demi mencukupi kebutuan air umat. Sumur itu masih mengalirkan sumber kehidupan hingga kini.

Tahun lalu saya membaca kisah menarik, tapi tak bisa memastikan kebenarannya. Cerita itu punya kekuatan pesan yang kokoh. Singkatnya begini. Suatu pagi seorang ayah memasak 2 mangkuk mi di rumah. Ia tinggal berdua saja dengan anak lelakinya. Satu mangkuk diberi telor di atas mi, satunya lagi tidak. Anaknya diminta memilih dan lantas mengambil mangkuk yang ada telornya. Dia merasa menang. Ternyata, mangkuk yang satunya ada 2 telor di bawah mi. Ia kecewa. Esok pagi, ayah tadi memasak lagi dengan cara yang sama, lantas anaknya memilih mangkuk yang tidak ada telor di atasnya. Ia kecele, di bawah mi tak ada 2 telor seperti yang kemarin.

Terakhir, besoknya lagi dengan takzim anak itu menyilahkan ayahnya untuk ambil duluan. Ayahnya ambil mangkuk yang ada telor di atas mi. Anaknya lemas, ia merasa akan punya nasib seperti kemarin. Nyatanya, setelah mangkuk ia ambil dan diaduk ada 2 telor di bawahnya. Sang anak sumringah. Ayahnya lantas memberikan tausyiah atas peristiwa tersebut. “Jika engkau berniat ambil keuntungan dari orang-orang, maka kamu akan memperoleh kekalahan. Berikutnya, kamu tak boleh selalu bergantung kepada pengalaman, karena hidup kerap mengecohmu. Terakhir, ketika kamu berpikir untuk kebaikan orang lain, maka hal-hal baik akan selalu singgah pada dirimu.” Anak itu adalah Xi Jinping, Presiden Republik Rakyat Tiongkok.

Teologi “memberi” dan bukan “mengambil” itulah yang menjadi kesejatian hidup dan mata air kebahagiaan. Memberi membuat hidup merasa tercukupi. Bagi orang yang menerima pemberian, kebahagiaan pasti terpantul dari hati dan wajahnya. Pemberi akan merasakan dua kedamaian sekaligus: perasaan cukup dan bahagia atas kegembiraan orang lain. Sebaliknya, mengambil atau meminta akan selalu menerbitkan rasa kurang dan kecewa bila keinginannya tidak diperoleh. Ia akan sakit oleh dua hentakan sekaligus. Hidup yang menerangi sesama akan menjadi abadi. Hayat yang memuaskan nafsu pribadi akan lekas mati.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments