Ramadan ke-19: Cinta yang Membebaskan dan Cemburu yang Bermutasi

-

Berita Baru, Ramadan – Tidak terasa sepuluh (10) tangga rohani di persinggahan “rasa” sudah kita lewati bersama Oman Fathurahman.

Tepat pada 1 Mei, Oman masuk pada persinggahan selanjutnya, Manzilah al-Ahwal atau persinggahan kondisi-kondisi.

Persinggahan ini hadir dengan 10 #TanggaRuhani yang akan Oman mulai dari urutan ke-61, yakni al-Mahabbah (cinta).

Al-Mahabbah adalah suatu kondisi—sebab berada di Manzilah al-Ahwal—ketika seseorang tidak bisa berpaling dari memikirkan Allah.

Mereka yang sudah merasakan al-Mahabbah hidupnya pasti tenang. Sebab mereka sudah memiliki tujuan yang jelas, mengetahui adanya tujuan seperti ini merupakan kunci seseorang mampu mengontrol dirinya.

Jika kita kerap gelisah tanpa sebab itu adalah produk dari betapa sebenarnya kita tidak memiliki kontrol atas diri. “Dan dalam konteks ini sepertinya al-Mahabbah menemukan momentumnya,” kata Oman.

Karena posisi kuncinya, al-Mahabbah bertautan dengan tiga (3) tangga rohani lainnya, yakni #TanggaRuhani ke-60 al-Himmah (hasrat), ke-62 al-Ghairah (cemburu), dan ke-63 al-Syauq (rindu).

Al-Himmah boleh disebut sebagai dampak dari al-Mahabbah. Ketika kita sudah jatuh cinta pada Tuhan, pada tujuan kita, maka di waktu itu pula, kita akan merasakan al-Himmah atau hasrat sepenuh hati guna mencapai tujuan.

Dari satu segi, al-Himmah memang bagus untuk semangat meresapi hidup, merayakan apa pun kondisi kita, dan semacamnya, namun pada segi yang lain, al-Himmah berpotensi besar memicu adanya al-Ghairah—kendati ini pun tidak bisa disebut tidak bagus.

Oman memahami al-Ghairah sebagai keterbatasan kita untuk bersabar dalam mencintai Allah atau cemburu Allah akan berpaling ketika kita sebentar saja tidak memikirkannya.

Hasilnya, mereka dengan sikap al-Ghairah tidak akan merelakan dirinya untuk sebentar saja berpaling dari Allah. Sebab bila itu terjadi, ia akan merasakan gejolak cemburu yang menyesakkan dada.

Di antara cinta dan cemburu kemudian, Oman melanjutkan, akan selalu terselip al-Syauq atau kerinduan untuk berjumpa—tidak hanya bertemu—secara langsung pada yang dicintai.

Kadar rindu seseorang pada Allah bergantung pada kadar cintanya dan kadar cinta seseorang bergantung pada sejauh mana ia bisa mengatasi kecemburuan.

“Dan kecemburuan ini adalah situasi yang akan selalu ada, bergejolak, bermutasi, dan menyiksa, mengiringi tingkat cinta seseorang,” ungkap Oman pada Sabtu (1/5).

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments