China Perbaiki Titik Tengah Yuan di 7,0211 per Dolar AS

Titik Tengah Yuan

Beritabaru.co, Internasional. – Bank Rakyat Tiongkok (People’s Bank of China/PBOC) menetapkan titik tengah resmi untuk yuan di 7,0211 per dolar pada hari Senin (12/8). Lebih lemah dari sesi pada  Jumat, tetapi lebih kuat dari yang diprediksi oleh pengamat pasar.

Penetapan ini merupakan sesi ketiga di mana bank sentral berturut-turut menetapkan titik tengah pada level yang lebih lemah daripada level 7-yuan/dolar.

Para analis mengharapkan PBOC agar  menetapkan titik tengah di 7,0331 per dolar, menurut perkiraan Reuters. Investor  memantau nilai tukar dolar/yuan terus bergerak setelah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Beijing dan Washington.

Yuan terdepresiasi melewati 7 per dolar pada Senin pekan lalu untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan global pada 2008. PBOC memungkinkan mata uang lokal berfluktuasi terhadap greenback dalam kisaran sempit antara 2% dari titik tengah setiap hari.

“Langkah China untuk menetapkan titik tengah di level yang lebih lemah dari 7 pekan lalu memicu kekhawatiran kebijakan devaluasi kompetitif, memberikan tekanan pada mata uang Asia lainnya,” kata para analis risiko Eurasia Group dalam sebuah catatan.

Namun, kata mereka, Beijing akan mencegah percepatan depresiasi yuan karena devaluasi substansial akan mendorong arus keluar modal dan menciptakan taruhan satu arah di pasar karena depresiasi lebih lanjut, seperti yang terjadi pada 2015 dan 2016.

PBOC membantah telah mendevaluasi yuan untuk melawan tarif Amerika. Tetapi penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengatakan pada hari Jumat (9/8) jika AS akan merespon dengan paksa jika China melemahkan mata uangnya untuk menetralisir pengaruh tarif.

Sementara itu, Lembaga Pemeringkat (Moody) mengatakan pada Jumat bahwa tuduhan  AS kepada China sebagai menipulator mata uang kemungkinan akan meningkatkan ketegangan perdagangan antara AS dan China, dan kualitas kredit dari beberapa utang negara dapat berada di bawah tekanan sebagai hasilnya.

“Lebih luas lagi, memburuknya ketegangan perdagangan dan mata uang antara dua ekonom besar itu akan mengekang pertumbuhan global, ekspektasi pasar akan menurun dalam renminbi juga dapat menyebabkan devaluasi dalam mata uang lainnya, terutama yang memiliki ikatan perdagangan yang kuat dengan China” tutup nya.

Penulis :Nafisa
Sumber  :CNBC

Tinggalkan Balasan