Berita

 Network

 Partner

Bersemayamnya Homo Erectus di Pulau Jawa

Bersemayamnya Homo Erectus di Pulau Jawa

Berita Baru, Internasional – Homo Erectus, salah satu leluhur manusia yang pertama kali berjalan dengan tegak lurus telah ditemukan jejak terakhir peristirahatannya. Berdasarkan pelacakan para ilmuwan Ia berada di sebuah dataran dekat sungai terpanjang di pulau Jawa, Indonesia.

Selusin tengkorak parsial dan dua tulang kering ditemukan di di dekat sungai Solo pada tahun 1930-an, tetapi tidak pernah bertanggal dan tidak melalui telaah secara cermat dan mendalam (ANDAL).  Namun setelah survei komprehensif situs, kini telah ditempatkan (periodesasi masa hidup) antara 108.000 dan 117.000 tahun.

Jejak-jejak itu menandai Jawa Tengah sebagai tegakan terakhir Homo Erectus dan menegaskan bahawa spesies ini merupakan nenek moyang manusia yang bertahan paling lama sejauh ini. Keberadaannya membentang di pohon evolusi bertahan selama sekitar 1,8 juta tahun.

“Ini adalah koleksi terbesar dari fosil Homo erectus di satu situs di dunia dan penanggalannya selalu penting,” kata Russell Ciochon, seorang antropolog di University of Iowa. “Ini adalah spesies yang berumur panjang dan kami sekarang telah memakukan tanggal penampilan terakhir mereka,” tambahnya.

Berita Terkait :  2020, Ganjar Pranowo Gratiskan Biaya Sekolah SLTA di Jateng

Homo Erectus adalah pendahulu kita yang pertama kali memiliki proporsi tubuh seperti manusia modern, dan bahkan yang pertama memasak makanan. Spesies ini muncul di Afrika hampir 2 juta tahun yang lalu dan menjadi yang pertama meninggalkan benua, menyebar ke seluruh Asia dan turun ke Indonesia termasuk ke Jawa.

Tulang-tulang yang ditemukan itu milik 25.000 fosil hewan yang digali oleh ahli geologi Belanda ketika mereka menggali teras Ngandong, dataran banjir di sepanjang Solo, antara tahun 1931 dan 1933. Tulang-tulang itu terkumpul di dataran banjir setelah dicuci ke hilir. Para ilmuwan telah lama mencoba untuk meneliti situs tersebut, tetapi justru muncul perkiraan yang sangat berbeda dari 27.000 hingga setengah juta tahun.

Bersama dengan staf dari Institut Teknologi Bandung, Indonesia, tim peneliti menghabiskan 16 tahun mengamati situs tersebut dengan berbagai teknik modern. Mereka juga dibantu oleh cucu-cucu salah satu ahli geologi Belanda, yang menyediakan peta dan jurnal yang setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menunjuk ke lokasi yang asli.

Berita Terkait :  Boyband BTS Sumbangkan 1 Juta Dolar untuk Aksi Black Lives Matter

Ditulis di jurnal Nature, para ilmuwan menjelaskan dengan subtil bagaimana mereka mengetahui usia fosil Homo Erectus dengan melihat-lihat lansekap dan fosil hewan baru yang digali dari teras Ngandong. Mereka menganalisis stalagmit di gua-gua dekat gunung untuk menunjukkan bahwa gunung-gunung itu sendiri naik setidaknya setengah juta tahun yang lalu dan mengalihkan Solo ke perbukitan Kendeng di mana teras Ngandong berada.

Penanggalan lebih lanjut mengungkapkan bahwa teras Ngandong sendiri terbentuk antara 140.000 dan 92.000 tahun yang lalu. Akhirnya, para peneliti menemukan lapisan tulang asli dan menggali ratusan fosil lainnya. Tidak ada yang mengindikasikan sebagai Homo Erectus, melainkan segelintir binatang seperti harimau Ngandong hingga kerbau dan gajah. Karya ini menghasilkan 52 tanggal baru untuk berbagai bagian situs.

“Mengetahui kapan suatu spesies hidup dan kapan mereka akhirnya mati adalah penting untuk memahami di mana mereka duduk di pohon evolusi, dengan siapa mereka berinteraksi, dan mengapa mereka punah,” kata Kira Westaway, yang ikut memimpin penelitian di Universitas Macquarie di Sydney.

Berita Terkait :  Mencari Kampung Halaman Homo Sapiens; Melacak Asal-Usul Manusia

Mengingat usia jasadnya, Homo Erectus tidak semasa dengan Homo Sapiens. Tetapi spesies prasejarah mungkin berbaur dengan Denisovans yang penuh teka-teki, manusia purba yang dikenal dari gua-gua dingin Siberia, yang mungkin telah mencapai Asia Tenggara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Homo erectus akhirnya punah di Jawa ketika lingkungan menjadi semakin panas dan hutan digantikan oleh hutan hujan.

Josephine Joordens, seorang ahli paleoekologi di Naturalis Biodiversity Center di Leiden, mengatakan itu adalah karya yang ‘mengesankan’. “Ini hasil yang penting karena menentukan rentang waktu spesies yang sangat sukses, kosmopolitan dan tahan lama ini,” katanya.

Mark Maslin, seorang peneliti di UCL, mengatakan: “Yang lebih menarik adalah kesadaran bahwa sekitar 100.000 tahun yang lalu, terdapat setidaknya tujuh atau delapan spesies hominin yang berbeda termasuk spesies kita, Homo sapiens. Dari semak nenek moyang yang kompleks ini, hanya satu spesies yang muncul, spesies kita, yang akhirnya tiba di Jawa 35.000 tahun setelah kemunculan Homo erectus yang terakhir diketahui.” Pungkasnya.

Sumber : TheGuardian