Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Belantara Film: Rumah Produksi yang Mewarnai Dunia Sinematik Yogyakarta

Belantara Film: Rumah Produksi yang Mewarnai Dunia Sinematik Yogyakarta



Berita Baru, Yogyakarta – Belantara Film, sebagai rumah produksi dan komunitas film di Yogyakarta, hadir untuk menjadi bagian dari keragaman komunitas film di wilayah tersebut. Agni Tirta, founder Belantara Film, menegaskan bahwa tujuan komunitas ini adalah memberikan wadah bagi anak muda dan semua orang yang tertarik untuk belajar dan berkembang dalam dunia perfilman.

Dalam kunjungan mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Agni Tirta menjelaskan pendirian Belantara Film pada sekitar tahun 2016-2017. “Belantara berasal dari sejarah awal kantor kami yang pernah berpindah-pindah dari Bantul, Jogja, hingga ke Maguwoharjo. Nama ‘belantara’ muncul dari pengalaman itu, dan artinya baru disadari kemudian, yaitu membelah antara,” jelas Agni.

Dengan sifat terbuka, Belantara Film menjadi ruang untuk siapa saja yang ingin belajar dan berkolaborasi dalam produksi film. Meskipun secara resmi memiliki badan hukum dalam bentuk yayasan dan CV, fokus utamanya adalah edukasi dan sosial melalui program-program seperti pemutaran film, diskusi, dan kolaborasi film.

Agni juga menyoroti aspek keuangan dalam perjalanan Belantara Film. “Awalnya, modal kami bukan uang, tapi jaringan relasi. Kami memanfaatkan jaringan relasi untuk mendukung program-program kami,” tambahnya. Selain itu, Belantara Film mendapatkan dukungan dana dari pemerintah Yogyakarta, khususnya dalam bidang kesenian dan kebudayaan.

Dalam proses produksi, mahasiswa magang dari Universitas Sebelas Maret (UNS), seperti Nana, merasa mendapatkan pengalaman berharga. Meskipun dihadapkan pada beberapa tantangan, seperti teguran dan konflik, mahasiswa magang seperti Cici menilai pengalaman ini sebagai salah satu yang paling berharga yang bisa didapat.

Namun, Agni tidak menutupi adanya konflik dalam proses produksi film. “Kami mengatasi konflik dengan memisahkan urusan personal dan pekerjaan. Komunikasi terbuka tentang masalah adalah kunci, karena masalah yang tidak diungkapkan dapat mengganggu proses produksi,” ungkap Agni.