Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Peralatan Militer Suriah
© AP Photo / Hussein Malla

AS Terus Selundupkan Peralatan Militer dan Logistik ke Suriah

Berita Baru, Internasional – Pada hari Senin (7/7) malam, Amerika Serikat (AS) mengirimkan 27 truk bermuatan peralatan militer ke Suriah melalui perbatasan ilegal Al-Walid, Irak.

Hal itu dilaporkan oleh kantor berita loka Syrian Arab News Agency (SANA) dengan mengutip sumber-sumber daerah al-Ya’arubyia di pedesaan Al-Hasakah.

Menurut sumber-sumber itu, pengiriman dilakukan pada Senin malam seperti sebuah konvoi yang dilakukan oleh truk-turk yang membawa kendaraan militer.

Truk-truk itu diperkirakan akan menuju pangkalan lokal yang baru-baru ini didirikan AS di provinsi itu, Qasraq Tal Baider.

“Selama beberapa bulan terakhir, pasukan pendudukan AS telah membawa ribuan truk yang sarat dengan senjata dan peralatan militer dan logistik ke provinsi Hasaka untuk meningkatkan kehadiran tidak sah mereka di wilayah Suriah al-Jazeera dan untuk menjarah minyak dan sumber daya alam dalam kerjasama dan kolusi dengan alat kelompok bersenjata dan teroris yang mereka dukung di bidang ini,” tulis laporan SANA.

Selain menjarah sumber daya kawasan, pasukan AS dan sekutu Kurdi mereka telah dituduh menganiaya penduduk setempat.

Sebelumnya, pada hari Minggu (6/7), SANA juga melaporkan bahwa penduduk lokal di Qamishli, al-Hasakah mengeluh bahwa milisi Pasukan Demokrat Suriah atau Syrian Democratic Forces (SDF) yang didukung AS telah menghambat pengiriman tepung ke pabrik roti lokal, yang mana hal itu memicu kekurangan roti.

Lalu pada 30 Juni, SANA juga melaporkan bahwa SDF terpaksa telah membongkar jalur kereta api di provinsi Deir ez-Zor yang berdekatan dan menjualnya sebagai besi tua.

Bersama pasukan AS dan SDF, bagian dari Suriah timur laut tetap diduduki oleh militan pro-Turki. Dalam beberapa bulan terakhir, Damaskus menuduh kelompok-kelompok ini sengaja membakar tanaman gandum di Jazeera dan al-Hasakah menyebabkan kekurangan makanan.

Menurut Sputnik, AS terus mempertahankan ratusan pasukan di Suriah meskipun Presiden Trump berjanji untuk keluar dari negara itu pada akhir 2018.

Pada Oktober 2019, Militer Rusia mengungkapkan sejauh mana operasi pimpinan AS menjarah sumber daya alam Suriah pada akhir Oktober 2019 dalam presentasi intelijen mengenai perusahaan yang melibatkan militer AS, CIA, dan pasukan Kurdi setempat untuk menyelundupkan puluhan juta dolar dalam minyak mentah keluar negara untuk menjual di pasar gelap.

Sementara itu, Pemerintah Damaskus telah bersumpah untuk mengusir semua pasukan pendudukan dari wilayahnya dengan satu atau lain cara, dan telah menuduh AS, Turki, Israel dan negara-negara lain melanggar integritas wilayah Suriah dan hukum internasional.