Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Responsif Gender
: Direktur Bina Pengelolaan dan Pemulihan Ekosistem, Ammy Nurwati saat mengikuti Podcast Seri Ke-8, bertajuk Mendorong Kawasan Ekosistem Esensial yang Responsif Gender, Kamis (3/3).

Ammy Nurwati Pastikan KEE Responsif Gender

Berita Baru, Jakarta – Direktur Bina Pengelolaan dan Pemulihan Ekosistem KLHK, Ammy Nurwati menegaskan bahwa dalam pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) pihaknya memastikan sudah responsif gender.

Salah satunya dalam kebijakan pada unit Pelaksana Tugas dari Dirjen KSDAE yang ada dimasing-masing provinsi di Indonesia. Ia menyebut UPT tersebut dapat melakukan pendampingan dan merekrut atau membentuk kader konservasi untuk siapapun.

“Disitu sama sekali kita tidak pernah meminta kader konservasi ini harus laki-laki, tidak. Dan yang namanya kegiatan konservasi juga tidak menjadi dominasi laki-laki,” kata Ammy Nurwati.

Hal itu ia sampaikan dalam podcast seri ke-8 tentang “Publikasi dan Diseminasi Praktik Baik: Perempuan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan”, pada Kamis (3/3).

Ammy melihat langkah itu menjadi base dalam membuat kebijakan agar tidak lagi ada bias gender. “Baik secara kebijakan maupun secara implementasi di lapangan. Kita tidak pernah melakukan seleksi yang berdasarkan, seks rasio itu tidak,” ujarnya.

“Manakala dia punya kapasitas, punya kompetensi, kita rekrut. Kita bersama-sama melakukan perlindungan pengelolaan itu. Termasuk bagaimana kita mengapresiasi terhadap masyarakat yang sudah terlibat dari kegiatan pengelolaan dan perlindungan kawasan itu sendiri,” terang Ammy.

Dalam acara bertajuk ‘Mendorong Kawasan Ekosistem Esensial yang Responsif Gender’ itu, ia kemudian menyampaikan salah satunya pada program pemanfaat konservasi terkait pengelolaan aktivitas ekowisata.

Peran perempuan, menurutnya, bisa interpreter atau guider. “Aktivitas ekowisata, di situ kita tidak mengenal, di situ harus laki-laki, di situ harus perempuan, pelaku ekowisata bisa laki-laki, bisa perempuan,” kata Ammy.

Contoh lain peran perempuan yang ia sebutkan di taman Kehati (Taman Keanekaragaman Hayati) dalam rangka budidaya lebah. “Wanita pun dapat juga sebagai petani lebah, dapat juga memasarkan hasil madunya,” terangnya.

Pada acara podcast yang dipandu host Beritabaru.co, Davida Ruston Khusain, Ammy juga menuturkan, dalam pemulihan ekosistem pihaknya memastikan nilai-nilai pengarusutamaan gender.

Ia selalu mendorong keikutsertaan perempuan, mulai dari tahap inventarisasi, patroli, dalam pengamanan kesesuaian perlindungan dan pengelolaan, hingga pada tahap rehabilitasi suatu kawasan.

“Justru ini juga memberikan harapan kita ada pergeseran stigma, mindset, bahwa kegiatan konservasi baik di dalam kawasan maupun luar kawasan bukan didominasi oleh laki-laki, perempuan dapat berperan di sana,” ungkapnya.