Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tim Doktor Mengabdi UB Mengawal Pengembangan Literasi Khutbah Berbasis Kitab Klasik yang Responsif Isu Kekinian
(Foto Bersama)

Tim Doktor Mengabdi UB Mengawal Pengembangan Literasi Khutbah Berbasis Kitab Klasik yang Responsif Isu Kekinian



Berita Baru, Malang – Bertempat di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Karangbesuki Malang pada tanggal 3 Sepetember 2022, Tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya menggandeng para santri senior di pondok pesantren KH. Marzuki Muztamar dan pimpinan LDNU Kota Malang untuk mengembangkan literasi khutbah yang responsif isu kekinian.

“Selama ini, khutbah seringkali hanya ditinggal tidur, padahal khutbah bisa dikemas menarik sebagai tempat berdakwah yang humanis, yang merespon isu moderasi beragama, minoritas, gender, hingga disabilitas,” ungkap Dr. Mohamad Anas, M.Phil., ketua program Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya ini.

“Biasakan membaca dr sumber aslinya. Jangan terlalu percaya pada informasi dari internet sebelum mengecek dari sumber aslinya yaitu kitab-kitab turats atau kitab kuning,” dawuh Kh. Ir. Warsito, M.T., pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad. 

Tim Doktor Mengabdi UB Mengawal Pengembangan Literasi Khutbah Berbasis Kitab Klasik yang Responsif Isu Kekinian
(Penyampaian materi)

“Khutbah harus menyampaikan kebenaran, menarik, jelas, dan relevan. Kalau tidak sesuai 4 hal ini, pasti membuat ngantuk.” Ujar pemateri, Abdur Rokhim, S.S., M.Pd. “Khutbah itu harus menyampaikan kebenaran, tidak boleh menyampaikan hoax dan menambah hoax. Omongan khotib itu narasi sakral yang harus ditaati para pendengar, maka jangan sampai khutbah membuat jamaah ingin mendebat, marah, dan bahkan melawan. Khutbah harus menarik agar jamaah tidak tidur. Jelas. Relevan. Kalau khutbah di lingkungan awam, jangan ndakik-ndakik dan terlalu lama”, tambah lelaki yang akrab disapa Mas Idung ini. 

“Menulis khutbah berbasis turats itu harus dengan observasi lapangan juga. Observasi lapangan bisa dilakukan dengan berbagai cara, membuka website resmi desa, ikut nimbrung di warung kopi sekitar masjid dan mendengar ghibah para pengunjung warung kopi, bisa juga dengan iseng-iseng mengunjungi salah satu masyarakat dan mendengar tentang bagaimana isu yang sedang in di daerah itu. Nah, hasil temuan misalnya di daerah itu banyak pemuda yang tidak berani menikah, kita tinggal membuka Ihya’ Ulumiddin bab At Targhib fi an Nikah, kita iming-imingi nikmat menikah. Jika di daerah itu justru orangnya suka menikah tanpa mempertimbangkan kesiapan mental, ekonomi, bahkan sibuk mencari alasan poligami, bisa kita buka kitab Ihya’ Ulumiddin bab At Targhib ‘ani an Nikah yang menjelaskan tentang ancaman bagi orang yang suka menikah tanpa modal.” Tutur Yulianto, M.Pd.I., pemateri kedua. 

“Kegiatan ini sebenarnya lanjutan dari kegiatan FGD kita di bulan Juli lau. Di bulan Juli, kami berdiskusi dengan pihak pesantren dan menemukan bahwa belum ada kurikulum khutbah dan naskah khutbah yang responsif isu kontemporer. Jadi, mumpung momentumnya belum pemilu dan pascacovid, saya rasa para khotib harus disiapkan membumikan isu moderasi beragama dan kesehatan yang berbasi turats,” pungkas Khalid Rahman, M.Pd.I., anggota Tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya. (Mil/Muiz)