Visi Indonesia Butuh Keseimbangan dan Inovasi

-

Beritabaru.co, Jakarta. – Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), menilai pidato Visi Indonesia yang disampaikan Presiden Jokowi, Minggu (14/7) lalu merupakan ancaman nyata bagi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup selama 2019-2024. Narasi ini mengulang catatan negatif kebijakan pemerintahan Jokowi 2014-2019 yang minim pertimbangan lingkungan. Visi pembangunan infratsruktur besar-besaran dan percepatan investasi, merupakan narasi yang berpotensi menghasilkan kebijakan destruktif terhadap lingkungan dan melanggar hak-hak rakyat.

Henri Subagiyo, Direktur ICEL. (internet)

Henri Subagiyo, Direktur Eksekutif ICEL, mengingatkan Presiden Jokowi akan pentingya isu perlindungan lingkungan hidup, karena bersinggungan langsung dengan isu-isu strategis seperti pembangunan ekonomi, percepatan investasi sampai kepada kesehatan masyarakat.

 “Nihilnya pertimbangan lingkungan hidup harus segera diperbaiki Jokowi dan tim, karena visi pembangunan berkelanjutan merupakan bagian dari komitmen global Indonesia”. Tutur Henri.

Berita Terkait :  WNI di Luar Negeri yang Positif Terinfeksi Covid-19 Capai 1.330 Orang

Absennya Keseimbangan

Visi Indonesia Butuh Keseimbangan Dan Inovasi
Pengamat politik Airlangga Pribadi-Dosen Fisip Universitas Airlangga Surabaya. (FOTO: Detik)

Di tempat terpisah, Airlangga Pribadi, Pengamat Politik dari Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya juga memberikan tanggapan. Menurutnya Pidato Presiden Jokowi tetap ia apresiasi, karena telah mengandung rumusan agenda bersama untuk dijalankan sesuai konteks tantangan zaman yang dianggap baik untuk kehidupan berbangsa.

“Pada sisi itu presiden seperti ingin meneruskan agenda pembangunan yang sudah ia lakukan, dan sebelum masa Jokowi terbukti mangkrak”. Tutur Angga.

Berita Terkait :  Pakar Bahasa Sebut “Bajak Momentum Krisis“ dalam Pidato Presiden Jokowi Kurang Tepat

Poin-poin soal pentingnya pembangunan ekonomi,  infrastruktur, penguatan SDM, reformasi birokrasi dan demokrasi, lanjutnya, adalah hal-hal penting yang juga disebutkan oleh Presiden Jokowi. Namun demikian ada beberapa catatan penting terhadap pidato tersebut

Ia menilai penguatan infrastruktur dan investasi memang bisa berpotensi baik,  namun potensi kebaikan ini akan hilang ketika Presiden tidak menegaskan pentingnya keseimbangan.  Keduanya harus diikuti dengan kesadaran ekologis dan redistribusi ekonomi yang ditekankan peran partisipasi rakyat.

Berita Terkait :  Romahurmuziy Hadapi Putusan Hakim Tipikor

Selain itu, Angga, panggilan akrab Airlangga Pribadi, juga menyoroti visi demokrasi dan warga yang akan dibela Presiden dalam Visi Indonesia kedepan.

“Terlihat kekurangannya sepele,  tapi sebetulnya fatal.  Karena yang absen didalamnya itu justru memperlihatkan absennya komitmen fundamental atas agenda public”. Tuturnya menegaskan.

Berita Terkait :  Kebutuhan Pangan Melonjak, BULOG Pastikan Stok Cukup

Inovasi Adalah Kunci

Visi Indonesia Butuh Keseimbangan Dan Inovasi
Dosen FIA Universitas Brawijaya sekaligus pengamat kebijakan publik Fadillah Putra. (Foto: Istimewa)

Penyampaian pidato politi Presiden Jokowi tentang Visi Indonesia ternyata bersamaan dengan ditetapkan UU Sistem Nasional Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), melalui rapat paripurna DPR RI. Menurut Fadillah Putra, Wakil Direktur Pasca Sarjana Universitas Brawijaya (UB) Malang, terdapat satu pesan penting dari dua momen politik tersebut yaitu: inovasi.

Ia mencatat, Inovasi dalam pidato Jokowi lebih menekankan pada cara penyelesaian masalah, utamanya di sektor publik yang selama ini terkesan lamban dan banyak terjebak pada birokrasi dan prosedur-prosedur rutin.

Berita Terkait :  Erick Thohir Pecat Seluruh Direksi Kimia Farma Diagnostika

Menurutnya ada tiga jalur inovasi yang harus dilakukan Jokowi. Pertama, mengubah model atau kerangka berpikir dalam melihat masalah hingga menghasilkan solusi. Kedua, cara menyelesaikan masalah harus menekankan pada efektivitas, efisiensi dan equity. Dan ketiga adalah menerapkan nilai keadilan, kesetaraan dan pembangunan untuk semua (inclusive growth).

“Tiga pilar inovasi tersebut seharusnya diprioritaskan untuk menyasar percepatan pembangunan infrastruktur, SDM, investasi, dan reformasi birokrasi”. Kata Fadil menjelaskan.

Penulis : Priyo Atmojo
Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments