Tentang Kau dan Refrain Rindu yang Tak Pernah Selesai

Rindu
lukisan Mariusz

Yanuar Habibi

Punyuka mitologi Yunani


I

“Seorang peziarah akan selalu menyusuri
Ke kedalaman dirinya, dengan perlahan
Bahkan bila gulita ini ramadan.”

Andai jarak dapat dilipat
Kan ku ziarahi seketika
Pendar gemintang semesta
Yang bergelantungan
Pada parasmu rupawan

Diamdiam, nun jauh di tubir waktu
Sang peziarah melipat rindu
Menggenggenggam almanak risau sedu:

“Ke manakah Puan hendak menuju
Apakah masa depan atau masa lalu
Bawalah hamba meski jalan
penuh dengan benalu”

Sang Puan berderai, padahal
Musim panas baru saja masai
Memunggungi bumi dan
segenap penghuni

II

Dalam ramai gemeretak tasbih
Atau sujud manusia ingin disapih
Seorang perempuan tegap berdiri
Menebaknebak abjad ke berapa yang
dieja Tuhan untuk para kekasihnya:

“Wahai Peziarah yang melarung dirinya
pada suara terakhir bunyi sangkakala
Aku dicipta Tuhan dengan setangkup cahaya
cinta. Di tengah kegelapan, jagalah pendar
nyalanya. Bahkan bila maut kelak menjadi
saudara dalam keseharian kita”

Sang Peziarah diam. Membuang pandang
pada setumpuk kegelisahan yang
Sebentar lagi akan ia tanggalkan

Berita Terkait :  Peradilan Keluarga Amor

“Lihat diriku, Puan. Seinci diriku tak
Luput dengan kematian. Tuhan berkahiku,
begitu juga dirimu, dengannya. Agar
Dapat meruapi waktu dengan hidup
dan sebenarnya kehidupan”

Daundaun mulai basah. Pepohohan
Berhenti menyerapah. Dan burung
Kembali pulang, bingar karena
Sebentar lagi bertemu anak
Beserta kawanannya

Di suatu tempat yang antara
Di detik kesekian yang belantara
Berdua mereka menggelar sajadah

Tak ada angin tak ada suara
Hening perlahan hening
Sebab Tuhan mulai dingini
Kaki, kepala, beserta hati
Dua hamba yang dulu gelisah
Kini bersujud penuh fitrah

III

Di ujung jalan, tepat sebelum kelokan
Aku melihatmu dari kejauhan
Lalu gravitasi mereda tetiba
Mamasungku menjadi bahtera
Tanpa nahkoda tanpa peta

Kucoba mengalkulasikan jejak
Mengunjungimu dalam sebuah sajak

Maukah kau, Puan, berjalan mendekat
Lipat jarak, lipat sajak picisan ini
Mari nyalakan perapian dan
Tungku untuk sebuah sop untuk
Sebuah tujuan di dunia yang
Tak lagi ramah ini

IV

Sebelum sajak ini berkarat
Kuterima tawaranmu tak bersekat
Lempar sauh di ujung subuh
Tuhan turun rindu kita luruh

Berita Terkait :  Slavoj Žižek: Apakah Barbarisme dengan Wajah Manusia yang Menjadi Nasib Kita? [Bab IX]

“Kan kupanggil engkau kekasih
Untuk halhal yang belum lagi matang
Terencanakan dan bahkan ditentukan

Bagaimana soal takdir?”

Sementara Peziarah menengadah langit
Puan menimbang-nimbang sengit
Tentang kemungkinan dan
Ketakmungkinan yang
Belum diketahui

“Leluhurku berpetuah untuk selalu
Menyatu dengan bumi. Merawatnya
Melebihi seorang kekasih. Tapi
Engkau, Kekasih, adalah serpihan takdir
Yang tak akan kunjung selesai didaras”

Puan melanjutkan:

“Untuk pindah dari satu halaman ke
halaman lainnya, akan selalu tersisa
ruang lupa dan setititik durja atau
ingat dan selusin bahagia

Dan kau, Kekasihku, akan kudaras
Melebihi tumpah air pada tanah
Sebagai bah atau anugerah
Tuhan dalam menabur fitrah”

Matari mulai membubung
Menyingkap semua selubung
Kehidupan yang sempat tak tersambung

Di sini, di tempat yang antara
Berdua mengaras sebuah sketsa
Yang perlahan membentuk lukisan

O, Yang Terkasih
Bilamana hasrat ini munajah
Rajam ia dengan senyummu
Agar hilang itu harupilu

Bilamana munajah juga inginmu
Peluk ia, jadikan sebagai domba
Agar dapat mengiringi irama semesta

Bilamana inginku ini inginmu
Genggam ia erat agar kelak
Bisa kita jadikan pelita
Saat dadu dilempar Yang Kuasa

Berita Terkait :  Sebab Pandemi

Ramadan, 2020

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan