Berita

 Network

 Partner

Taliban Serang Rumah Menhan Afghanistan dengan Bom Mobil
(Foto: BBC)

Taliban Serang Rumah Menhan Afghanistan dengan Bom Mobil

Berita Baru, Internasional – Sebuah serangan terjadi di rumah menteri pertahanan Afghanistan di Kabul, menewaskan delapan orang dan merupakan aksi pemboman besar pertama oleh gerilyawan di kota itu selama hampir satu tahun.

Seperti dilansir dari BBC, Bismillah Khan Mohammadi tidak berada di rumah saat sekelompok orang meledakkan bom mobil melepaskan tembakan di dekat Zona Hijau yang dijaga ketat pada Selasa malam.

Keluarganya dievakuasi dan empat pria bersenjata tewas, kata para pejabat. Taliban mengatakan mereka berada di balik serangan itu.

Kelompok itu juga memperingatkan akan melakukan lebih banyak serangan terhadap para pemimpin pemerintah. Serangan itu terjadi saat konfrontasi antara gerilyawan dan pasukan pemerintah kian memanas di kota-kota lain usai pasukan asing ditarik dari negara tersebut.

Dewan Keamanan PBB telah menyerukan agar kekerasan segera diakhiri.

Polisi mengatakan empat dari lima penyerang juga tewas setelah mereka berhasil memasuki vila menteri. Kementerian dalam negeri mengatakan itu adalah serangan bom bunuh diri.

Berita Terkait :  Kabar Baik, Vaksin Covid-19 Telah Siap Diproduksi Massal

Pasukan khusus bergegas ke lingkungan di luar Zona Hijau, daerah kantong yang dijaga ketat di mana banyak kedutaan besar dan gedung-gedung pemerintah berada di sana. Baku tembak yang berlangsung lebih dari tiga jam akhirnya mengakhiri serangan itu.

“Jangan khawatir, semuanya baik-baik saja!” kata Mohammadi di Twitter setelah serangan itu.

Beberapa jam kemudian, kerumunan penduduk Kabul turun ke jalan dan atap rumah, meneriakkan “Allahu Akbar” menentang serangan Taliban, sebagaimana video yang beredar di media sosial.

Adegan serupa juga terekam di kota Herat pada hari Senin, saat pertempuran sengit terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Gerilyawan Taliban berusaha merebut kendali sejumlah ibu kota provinsi, kata wartawan BBC Secunder Kermani di Kabul.

Tapi serangan di rumah menteri menunjukkan bagaimana pemberontak bisa menyerang bahkan di jantung pemerintah, kata koresponden BBC menambahkan.

Pertempuran sengit antara militan dan pasukan pemerintah terus berlanjut di kota Lashkar Gah, ibukota provinsi Helmand selatan. PBB mengatakan pada hari Selasa bahwa setidaknya 40 warga sipil telah tewas dalam satu hari terakhir.

Berita Terkait :  Trump Tegaskan Ingin Berdamai dengan Taliban

“Ada mayat di jalan. Kami tidak tahu apakah mereka warga sipil atau Taliban,” kata seorang warga, yang tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan, kepada layanan BBC Afghanistan dalam sebuah wawancara di Whatsapp. “Puluhan keluarga telah meninggalkan rumah mereka dan menetap di dekat sungai Helmand.”

Penduduk setempat yang ketakutan lainnya mengatakan kepada BBC bahwa mereka telah melihat mayat-mayat tergeletak di jalan-jalan.

Tentara Afghanistan mendesak warga sipil untuk meninggalkan kota itu menjelang serangan besar-besaran terhadap Taliban, kelompok Islam garis keras yang digulingkan dari kekuasaan oleh pasukan pimpinan AS 20 tahun lalu. Selama berhari-hari, pertempuran telah berlanjut dengan penguasaan terhadap hampir semua distrik oleh Taliban.

Penaklukan Lashkar Gah akan menjadi nilai simbolis yang sangat besar bagi para pemberontak setelah penarikan pasukan asing. Mengingat Helmand adalah pusat dari kampanye militer AS dan Inggris.

Berita Terkait :  Taliban Mulai Kuasai Kabul, Joe Biden: Saya Tidak Akan Meneruskan Perang

Pada akhir pekan, Attaullah Afghan, kepala dewan provinsi Helmand, mengakui bahwa pertempuran tampaknya telah keluar dari kendali.

Taliban telah membuat kemajuan lebih lanjut minggu ini, meskipun pesawat tempur Afghanistan dan AS menargetkan para pemberontak.

Ada laporan bahwa pejuang Taliban telah menjarah rumah-rumah warga sipil, toko dan pasar – orang-orang terjebak di rumah mereka saat pertempuran berlangsung di jalan-jalan.

Para militan umumnya memperingatkan orang-orang melalui pengeras suara untuk pergi, tetapi kadang-kadang mereka memasuki rumah – penduduk setempat hanya memiliki beberapa menit untuk melarikan diri atau berisiko terjebak dalam baku tembak karena rumah mereka menjadi bagian dari medan perang.

Di tempat lain di selatan, Taliban berusaha untuk merebut Kandahar, bekas benteng mereka, dan bentrokan juga meningkat di kota barat Herat.