Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

CRIME SCENE The Times Square Killer
CRIME SCENE: The Times Square Killer paparkan kasus nyata pembunuhan berantai terhadap perempuan di New York dan New Jersey (Netflix)

Serial ‘CRIME SCENE: The Times Square Killer’ Ungkap Fantasi Sadis Predator Seks

Berita Baru, Entertainment – Dokumenter kriminal berjudul CRIME SCENE: The Times Square Killer telah rilis secara global per tanggal 29 Desember lalu. Ini merupakan salah satu bagian dari segmen CRIME SCENE yang ditayangkan Netflix, setelah Crime Scene: The Vanishing at the Cecil Hotel.

The Time Square Killer memaparkan kasus penyelidikan pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah perempuan. Kasus ini membuka lapis-lapis baru dalam dimensi sosial-budaya di New York, karena berkelindan dengan isu seputar kepolisian, hukum, pekerja seks komersial, serta bisnis seks yang kala itu tumpah ruah di jalan.

Peringatan, tulisan ini memuat konten kekerasan seksual dan pembunuhan sadis yang mungkin menimbulkan ketidaknyamanan. Pastikan kamu dalam kondisi baik-baik saja sebelum membaca tulisan ini sampai akhir, ya.

Pembunuhan Sadis dalam The Times Square Killer

Dokumenter The Times Square Killer dibuka dengan ditemukannya dua mayat perempuan tanpa kepala dan tangan di Hotel Travel Inn pada tahun 1979. Keduanya diketahui disiksa sebelum dibunuh dan dibakar. Investigasi berjalan sulit karena tidak ada petunjuk untuk mengenali korban.

Beberapa waktu kemudian, barulah diketahui salah satu korban itu bernama Deedeh Goodarzi, seorang pekerja seks di area Times Square. Dengan diketahuinya identitas Deedeh, polisi menyusun kemungkinan bahwa korban lainnya juga merupakan pekerja seks.

The Times Square Killer
The Times Square Killer memotret kejahatan sadis di pusat keramaian New York (Netflix)

Beberapa bulan setelah kasus itu, muncul penemuan mayat di Hotel Quality Inn, New Jersey. Korban perempuan didapati dalam keadaan tangan terborgol ke belakang punggung, dengan bekas gigitan dan pukulan pada tubuhnya. Di hotel yang sama, korban kembali jatuh, juga dengan luka pemukulan seperti kasus sebelumnya.

Kepolisian New York dan New Jersey mulai bekerja sama, namun butuh waktu yang lama untuk menemukan pelakunya. Hingga pada Mei 1980, sebuah laporan masuk dari Quality Inn, mengabarkan adanya pelaku kekerasan di dalam kamar hotel mereka dengan korban seorang remaja, Leslie Ann O’Dell. Pelaku itu, Richard Cottingham, akhirnya tertangkap.

Sadomasokisme dan Petaka Setelahnya

Hasil investigasi polisi menemukan bahwa Richard bertanggung jawab atas pembunuhan di New Jersey dan New York, serta penculikan dan kekerasan seksual. Namun sejak ditangkap, ia beberapa kali mengelak dari tuduhan. Lebih mengerikan, Richard mengatakan dirinya, secara tidak langsung, berhak melakukan apapun atas wanita yang ia bayar.

Richard memiliki mindset tak berperikemanusiaan yang ia terapkan pada setiap korban perempuannya. “Kamu harus menerimanya (perlakuan jahat dari Richard). Perempuan lain menerimanya, kamu harus menerimanya juga. Kamu adalah pelacur dan kamu akan dihukum,” begitu kata Richard sebagaimana ditirukan oleh Leslie.

Salah satu ucapan gaslighting yang ia katakan kepada polisi adalah, bahwa korban datang padanya dengan sukarela. Polisi tidak memakan bualan itu. Apalagi saat ditangkap, polisi menemukan lakban, borgol, dan obat penenang dalam tas Richard.

The Times Square Killer
Borgol, piranti wajib yang dibawa-bawa oleh Richard (Netflix)

Polisi juga dikagetkan dengan temuan di sebuah kamar tersembunyi di rumah Richard. Di sana terdapat pita pengikat, gambar porno, buku-buku tentang sadomasokisme, hingga baju dan perhiasan para korban. Polisi terus mencoba menghubungkan pola-pola kejahatan yang digunakan Richard, dan yakin bahwa Richard bersalah.

Richard tidak langsung mengakui semua perbuatannya. Di tahun 2014, ia mengaku membunuh tiga wanita lain. Dan baru-baru ini, pada April 2021, Richard mengaku telah melakukan penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan di tahun 1974 terhadap remaja-remaja lain yang selama ini kasusnya tak terpecahkan.

Bisnis Seks, dan Turunannya

Pembunuhan berantai terhadap perempuan yang mayoritas adalah pekerja seks ini menjadi perhatian tersendiri bagi pegiat perempuan.

Di tahun 1970-an, profesi pekerja seks tidak aneh didapati di sekitar Times Square. Karena pada masa itu, Times Square menjadi pusat hiburan sekaligus ‘taman pelepas dahaga’ bagi siapa saja. Bisnis seks dirajai oleh Martin Hodas, dengan kecanggihan dan inovasinya. Dimulai dari video singkat peep show, film porno, hingga pertunjukan seks secara langsung.

Times Square dikelilingi bukan hanya oleh gedung-gedung pemuas hasrat. Pekerja perempuan turut berdiri di pinggir jalan, menjadi bagian vital dari bisnis ini. Namun, meski menguntungkan, keamanan mereka tak pernah jadi prioritas bos pekerja seks ini, apalagi kepolisian.

CRIME SCENE: The Times Square Killer terbagi dalam tiga episode berisi penemuan korban, penyelidikan, kebuntuan-kebuntuan, serta penemuan pelaku. Yang tak kalah menarik, Netflix tidak hanya mewawancarai para detektif dan ahli kriminologi sebagai narasumber.

Untuk CRIME SCENE: The Times Square Killer, mereka juga menemui mantan pekerja seks itu sendiri. Dari sana kita tahu, cerita ini terlalu nyata dan menyakitkan.

Karena didukung oleh cerita latar belakang yang kuat dan komprehensif, serial CRIME SCENE: The Times Square Killer berpotensi membuat penonton merinding, bahkan meski pelakunya belum terungkap. Di sisi lain, film ini juga memberikan gambaran menarik tentang bagaimana relasi bisnis, seks, dan kekerasan selalu berkelindan.

CRIME SCENE: The Times Square Killer bisa kamu tonton di Netflix sekarang, atau simak cuplikannya berikut ini.

Template Ads