Berita

 Network

 Partner

Berita Baru, Sekolah Prancis
(Foto: Business Insider)

Sekolah Diberi Izin, Perancis Temukan 70 Kasus Baru COVID-19

Berita Baru, Internasional — Perancis mengkonfirmasi 70 kasus Covid-19 baru di sekolah-sekolah yang mendapat izin dibuka kembali pekan lalu. Kabar tersebut disampaikan langsung Menteri Pendidikan di negara tersebut.

Penutupan sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Perancis dimulai 17 Maret lalu, dalam rangka menekan laju penyebaran Coronavirus Disease.

Dua bulan berlalu, Perancis mencabut batasan, termasuk pembukaan kembali beberapa toko dan prasekolah dan sekolah dasar.

Dari laporan France24, setiap kelas dibatasi untuk 10 siswa prasekolah dan 15 siswa untuk kelompok umur lainnya. Meskipun tetap menggunakan langkah-langkah jarak sosial di kelas, beberapa anaknyatanya terserang Covid-19.

Menteri Pendidikan Perancis, Jean-Michel Blanquer, mengatakan kepada stasiun radio Prancis RTL, Senin (18/5) bahwa 70 kasus baru Covid-19 terdeteksi di minggu sejak siswa kembali ke sekolah.

Berita Terkait :  Italia Berencana Membangun Pemakaman Khusus bagi Umat Muslim

“Dalam hampir semua kasus, (transmisi) ini terjadi di luar sekolah,” ucap Jean-Michel Blanquer, dikutip dari Business Insider, Rabu (20/5).

Dicatat oleh Blanquer 70 kasus adalah proporsi kecil dari 1,4 juta anak sekolah yang kembali ke kelasnya. Menurutnya, sekolah yang terkena dampak akan segera ditutup lagi.

Di antara beberapa negara Eropa, Perancis bersama Jerman, Denmark, Norwegia, Republik Ceko, dan Polandia, sudah mulai kembali membuka langkah-langkah penguncian, meskipun banyak yang memperingatkan bahwa prosesnya bakal lambat dan diawasi dengan ketat.

Sementara itu, Denmark menjadi negara Eropa pertama yang membuka kembali sekolah bulan lalu, mendorong para orang tua untuk menyampaikan kekhawatirannya bahwa anak-anak mereka digunakan sebagai “kelinci percobaan” untuk menguji kebijakan pemerintah.

Berita Terkait :  Permudah Pemda Monitor Klaim COVID-19, BPJS Kesehatan Kembangkan Dashboard

Menurut wali murid, hal itu secara tidak langsung menunjukkan, para pejabat Eropa meremehkan risiko dengan mengirim anak-anak kembali ke sekolah.

“Akan ada kerusakan parah jika kita kehilangan satu generasi anak-anak yang telah berhenti dari sekolah selama beberapa bulan,” pungkas Blanquer, menurut The Guardian.