Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Kim Jong Un melihat perkembangan Badan Pengembangan Dirgantara Nasional (NADA). Foto: KCNA.
Kim Jong Un melihat perkembangan Badan Pengembangan Dirgantara Nasional (NADA). Foto: KCNA.

Satelit Baru Korea Utara Akan Dapat Mengintai AS dan Sekutunya Secara Real-Time



Berita Baru, Pyongyang – Kim Jong Un mengatakan sistem satelit baru Korea Utara akan dapat mengintai “Imperialisme AS dan Pasukan Bawahannya” secara real-time, kata media resmi pemerintah Korea Utara, KCNA, pada Kamis (10/2).

Hal itu ia ungkapkan saat memantau perkembangan proyek satelit Administrasi Pengembangan Dirgantara Nasional Korea Utara. Kim Jong Un mengatakan “banyak” satelit pengintai militer akan ditempatkan ke orbit kutub sinkron matahari dalam periode rencana lima tahun yang diumumkan tahun lalu.

“Dia [Kim Jong Un, Red] mencatat bahwa tujuan dari pengembangan dan pengoperasian satelit pengintaian militer adalah untuk memberikan angkatan bersenjata DPRK dengan informasi real-time tentang tindakan militer terhadapnya oleh pasukan agresi imperialisme AS dan pasukan bawahannya di Korea Selatan, Jepang dan Pasifik,” tulis KCNA.

Para ahli mengatakan Korea Utara tampaknya bersiap untuk meluncurkan satelit pengintai yang memunkinkan untuk dapat meluncurkan senjata kontroversial seperti senjata nuklir dan hipersonik.

Kim Jong Un juga mengatakan bahwa langkah tersebut adalah “kebijakan strategis dan taktis penting” untuk memperkuat kemampuan pertahanan nasional untuk mengawasi “tindakan militer bermusuhan terhadap DPRK yang dilakukan oleh pasukan agresi imperialisme AS dan pasukan bawahannya di dan di sekitar Semenanjung Korea.”

Satelit Baru Korea Utara Akan Dapat Mengintai AS dan Sekutunya Secara Real-Time
Kim Jong Un mengatakan Satelit Baru Korea Utara Akan Dapat Mengintai AS dan Sekutunya Secara Real-Time. Foto: KCNA.

Seblumnya, Korea Utara mengatakan berhasil melakukan dua tes sistem satelit pada tanggal 27 Februari dan 5 Maret. Pihak berwenang di Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat mengatakan uji coba tersebut melibatkan peluncuran rudal balistik. Peluncuran itu menuai kecaman internasional, terutama AS.

AS juga mengatakan telah meningkatkan kesiapan pertahanan rudal balistiknya setelah “peningkatan signifikan” dalam uji coba rudal Korea Utara, kata laporan Reuters, Kamis (10/3).

Amerika Serikat dan sekutunya telah mengutuk peluncuran luar angkasa Korea Utara sebelumnya sebagai pelanggaran terhadap PBB. Resolusi Dewan Keamanan yang telah menjatuhkan sanksi terhadap Korea Utara atas program nuklir dan misilnya.

Namun, Korea Utara hingga kini belum menguji senjata nuklir atau rudal balistik antarbenua (ICBM) jarak jauhnya sejak 2017.