Rokok Ada di Posisi Kedua Penyumbang Kemiskinan

Data GK BPS
Presentase komoditi penyumbang Garis Kemiskinan terbesar (foto:BPS)

Berita Baru, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Garis Kemiskinan Indonesia pada Kamis (16/1). Presentase kemiskinan per September 2019 yaitu 9,22 persen.

Menurut data BPS komoditi yang memberi sumbangan terhadap garis kemiskinan terbesar di Indonesia adalah beras. Beras masih memberi sumbangan sebesar 20,35 persen di perkotaan dan 25,82 persen di perdesaan.

Sedangka rokok menduduki posisi kedua dalam angka penyumbang garis kemiskinan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua terhadap GK (11,17 persen di perkotaan dan 10,37 persen di perdesaan).

Komoditi lainnya adalah telur ayam ras (4,44 persen di perkotaan dan 3,47 persen di perdesaan), daging ayam ras (4,07 persen di perkotaan dan 2,48 persen di perdesaan), mie instan (2,32 persen di perkotaan dan 2,16 di perdesaan), gula pasir (1,99 persen di perkotaan dan 2,78 di perdesaan), kopi bubuk & kopi instan (sachet) (1,87 persen di perkotaan dan 1,88 persen di perdesaan), dan seterusnya.

Selain komiditi makanan, perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi juga memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan perkotaan dan perdesaan.

Berita Terkait :  Pemerintah Akan Meregulasi Pelarangan Rokok Elektrik

Sebelumnya, Angka presentasi penduduk miskin di Indonesia per September 2019 sebesar 9,22 persen. Angka ini merupakan terendah selama 20 tahun terakhir.

Presentase ini menurun 0,19 persen poin dari bulan Maret dan menurun 0,44 persen poin dari bulan September.

Dalam keterangan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk miskin pada September 2019 sebesar 24,79 juta orang, menurun 0,36 juta orang terhadap Maret 2019 dan menurun 0,88 juta orang terhadap September 2018.

“Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2019 sebesar 6,69 persen, turun menjadi 6,56 persen pada September 2019. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2019 sebesar 12,85 persen, turun menjadi 12,60 persen pada September 2019,” tulisnya.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan