Berita

 Network

 Partner

PusAPDem UKSW Tekankan Desa Menjadi Pusat Seluruh Kehidupan Damai Di Indonesia
Ketua Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Izak Y.M. Lattu saat mengisi materi dalam acara Peace Talk #2, Sabtu (11/9).

PusAPDem UKSW Tekankan Desa Menjadi Pusat Seluruh Kehidupan Damai Di Indonesia

Berita Baru, Jakarta – Ketua Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Izak Y.M. Lattu mengatakan bahwa desa menjadi penting merupakan ruang hidup dan menjadi pusat dari seluruh kehidupan damai di Indonesia.

Hal itu disampaikan Izak saat mengikuti diskusi Peace Talk #2 bertajuk Pentingnya Peranan Anak Muda dalam Menyemai Perdamaian dari Desa yang diselenggarakan Wahid Foundation dan Universitas Kristen Satya Wacana, Sabtu (11/9).

Ruang hidup adalah ruang di mana kita melihat keaslian hidup dan solidaritas itu lebih ditonjolkan. Misalnya dalam kegiatan budaya, “mulai dari yang muslim, yang Kristen, yang Hindu, yang Budha, bahkan yang kejawen sekalipun itu bisa hadir bersama.”

Berita Terkait :  Peaceful Digital Storytelling Adakan Peluncuran Buku Daring

“Di situlah kemudian orang menjaga kehidupan bersama lewat ruang-ruang budaya yang disediakan di desa,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Izak juga menyebut bahwa justru di kota selama ini yang melahirkan kekacauan yang sangat luar biasa yang disebabkan oleh empat hal, yaitu: kekacauan politik; keterpisahan pendidikan dan kekerasan pendapat; kaum yang merasa paling benar dan orang lain salah; dan maraknya narasi kebencian di ruang virtual.

“Di situlah, Desa Damai di Indonesia harus kita dorong,” imbuhnya dalam acara yang juga dihadiri oleh Direktur Eksekutif di Wahid Foundation Mujtaba Hamdi, Peneliti eLSa Semarang Siti Rofiah, dan Senior Media dan Kampanye Wahid Foundation Siti Kholisoh.

Berita Terkait :  Salam Forum: Upaya Wahid Foundation Sebar Perdamaian di Media Sosial

Desa Damai merupakan program yang diinisiasi Wahid Foundation sebagai upaya untuk mendukung resiliensi desa dalam mempromosikan perdamaian dan mencegah hal-hal negatif yang berkaitan dengan intoleransi dan radikalisme yang berbasis kekerasan hingga tindakan terorisme.

Dalam paparannya, Izak juga menyebutkan 4 ruang penting bagi pemuda dalam mewujudkan desa damai

“Ada ruang keagamaan (gereja, masjid, dll), organisasi pemuda (NU, Muhammadiah, pemuda Gereja), keseharian dan budaya, serta media sosial dan digital. Ruang-ruang itu adalah ruang di mana pemuda sebagai episentrum perdamaian di Indonesia,” paparnya.

Ia melanjutkan, jika 4 ruang terbentuk kedamaian maka ruang damai sipil bersama bisa diwujudkan. Ruang damai sipil terbangun karena solidaritas bersama dari setiap anggota komunitas tertentu.

Berita Terkait :  7 Catatan LPSK Untuk Calon Kapolri Listyo Sigit
PusAPDem UKSW Tekankan Desa Menjadi Pusat Seluruh Kehidupan Damai Di Indonesia
Moderator Wilson Therik bersama dengan Siti Rofiah, Siti Kholisoh dan Izak Y.M. Lattu dalam diskusi Peace Talk #2, Sabtu (11/9).

“Ruang damai sipil itu mensyaratkan penghargaan terhadap individu, saling percaya, keinginan baik terhadap sesama anggota komunitas dan yang paling utama hubungan saling menghargai baik secara verbal dan simbolik,” katanya pada acara yang juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube dan Facebook Wahid Foundation.

Di samping itu, Ia juga mengingatkan bahwa hanya kalau kita punya narasi-narasi damai kita punya keindonesiaan yang kuat.

“Teman-teman di desa itu sangat menjadi tulang punggung dari keindonesiaan kita dan keindonesiaan itu perlu didorong ke ruang virtual supaya kegiatan desa yang baik juga bisa dinikmati di berbagai wilayah,” pungkasnya.