Berita

 Network

 Partner

Presiden Prancis Sebut Serangan Pisau di Nice dari Teroris Islam
Foto: Politico

Presiden Prancis Sebut Serangan Pisau di Nice dari Teroris Islam

Berita Baru, Internasional — Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyebut bahwa serangan pisau mematikan pada Kamis (29/10) di Nice sebagai serangan dari teroris Islam. Hal itu dikatakan usai dirinya melakukan penerbangan ke kota selatan Prancis itu sore hari.

“Negara kami sedang mengalami serangan dari teroris Islam,” terang Macron di dekat gereja Basilika Notre-Dame. Seseorang membunuh tiga orang di dalam dan sekitar gereja pada Kamis pagi.

“Ini jelas sekali, pada saat yang sama kami memiliki situs konsuler Prancis yang diserang di Arab Saudi, di Jeddah, dan saat itu juga, penangkapan dilakukan di wilayah kami,” tambahnya, melansir dari Politico.

Penting diketahui, tidak berselang lama serangan di Nice, Kedutaan Besar Prancis di Arab Saudi mengeluarkan pernyataan bahwa seorang penyerang dengan pisau telah menyerang penjaga keamanan di luar konsulat Prancis di Jeddah.

Berita Terkait :  Mahathir Mohamad Sebut Presiden Prancis Tidak Beradab dan Primitif

Macron juga mengabarkan dirinya akan meningkatkan jumlah tentara yang berpatroli di jalan-jalan dan menjaga tempat-tempat ibadah dan sekolah dari 3.000 menjadi 7.000.

“Saya ingin pertama dan terutama mengatakan dukungan seluruh umat Katolik di Prancis dan di tempat lain,” tutur Macron.

Apa yang disampaikan Macron senada dengan Walikota Nice, Christian Estrosi, yang mengatakan bahwa serangan ini merupakan serangan teroris.

Lanjut Estrosi, pelaku penyerangan di gereja di kota di Prancis itu berhasil dilumpuhkan polisi dan saat ini sudah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Dia mengatakan, pelaku meneriakan “Allahu Akbar” sebelum melancarkan serangannya.

“Penyerang terus meneriakkan ‘Allahu Akbar’ bahkan ketika dirinya ditahan,” terang Estrosi.

Berita Terkait :  Bukan Hanya Wiranto, Berikut Aksi Penikaman ISIS di Dunia

“Tersangka penyerangan ditembaki polisi, dia dalam perjalanan ke rumah sakit, dia masih hidup. Selarang sudah cuku, waktunya bagi Prancis untuk membebaskan diri dari hukum perdamaian secara definitif dan menghapus Islamo-fasisme dari wilayah kami,” tutupnya.