Berita

 Network

 Partner

Percakapan Rahni dan Rapi’i | Puisi Ilham Rabbani

Percakapan Rahni dan Rapi’i | Puisi Ilham Rabbani

Kombinasi Cerita untuk Tiga Nama
: Rei, Ajidarma, dan Connolly

1. Peralihan Musim

Tahun-tahun
telah membenamkan suara kita
ke dalam lembar surat kabar,
buku-buku, juga ingatan berdebu
yang basah dan luntur

oleh hujan akhir bulan.
Kota selalu riuh, tetapi
sepilah yang sebenarnya sebak:
kata-kata terbening
tentu lebih nyaring
di dalam hening.

“Di Jakarta, di Jakarta,
kaki Jenderal Besar
telah lama terkilir!”

Kita mulai bertukar cerita,
sedikit panjang: larik demi larik,
perihal peralihan musim
di utara Maliana.

2. Cerita Nelangsa

Suaramu
berlepasan bagai angin,
memasuki segenap pori-pori tubuh
dan menyasar ke dalam sumsum tulang.

Ceritamu ialah ketiadaan,
bukan suara masa silam,
atau rintih dari pinggiran:

ia dongengan belaka
(bagi kami, bagi kami).

Tetapi tetap kubiarkan kata-kata
jadi jembatan berliku, antara tubuhmu
pada masa tidak bernama
dengan tubuhku: sisi gelap
dari gemerlap kota
yang disangga rahasia.

Tuhan barangkali
bagimu, telah terselip
di balik kesabaran.

Lalu kubayangkan engkau
menghitung detak langit
di antara nyanyian-Nya:
desing peluru, deram meriam,
juga debar di dada
orang-orang Laquisa.

“Pohon-pohon hama yang perkasa
menopang langit, menambal luka:
kesedihan dan liang-liang
pada nyawa mereka,”
begitu pungkasmu.

3. Lelucon Seorang Serdadu

Dan angin berhenti,
kota membeku
di bawah langit
yang jadi kelabu.

Dalam kepala,
dalam arsip-arsip ingatan
kucari narasi jenaka
yang ampuh mengiris kaku.

Kuceritakan percakapan
antara serdadu sepulang perang
dengan anak-anak di tepi kota:
ia tunjukkan perban
serempet peluru di lengan kiri.

“Beginilah dulu
serdadu-serdadu Belanda
memburu para pejuang kita!”
ceritanya dengan bangga.

Anak-anak manis,
semanis manggis matang sempurna:
tatap mereka yang tajam dan ungu,
meluncur ke pangku Paman serdadu.

“Paman Pahlawan, Paman Pahlawan!
Apakah senjata milikmu itu
senjata sungguhan
untuk membasmi kejahatan?”
tanya mereka penasaran.

Maka diliriknya
senjata pada pangkuan.
Ia ingat tepat, tiga minggu lalu
senjata itu mewariskan peluru
ke kepala para warga:
tua-muda, perempuan-laki-laki
di gersang tanah Dili.

“Oh, ya! Tentu saja,
tentu saja!” mantap jawabnya,
seketika kering lidahnya.

Yogyakarta, 2020–2021

Percakapan Rahni dan Rapi’i

1.
Setelah mataharitergelincir dari langit kota,Rahni menahan Pi’ipada bangku-bangku Taman Tastura,“Apakah keresahan mengukir keriputpada raut orang-orang?”tanyanya.

Pi’i amati pedestrian,
dan lampu-lampu kota dinyalakan.
Ia bukakan gerbang bahasa: tubuhnya
metafora dari riuh-rendah peralihan tanah,
kota dan desa yang mulai
sama-sama gelisah.

Berita Terkait :  Ceracau Si Gila | Puisi-Puisi Muhammad Ali Fakih

“Ni,
dari tanah Utara dan tanah Tengah,
mengalir sungai gerah gairah
ke arah Selatan, ke desa-desa:
muara yang bergelombang.”

Maka Pi’i meminta Rahni
menatap jauh lagi dalam, menukik
ke palung matanya: ada endapan gulana
dari kepala yang lelah payah.
Sungguh,
Pi’i menginginkan Rahni si gadis Praya
hanyut dalam darahnya,
dan Rahni pun tak sabaran
hanyut ke dalam darah Rapi’i:

“Begitulah cinta,” kata mereka,
jika perahu karam nantinya, maka bersama
kita terapung tak lama,
lalu hanyut dan tenggelam jua.”

“Kita susuri liuk venamu!
Seberapa tajamkah tikungan, yang kau ceritakan
sukses merambatkan gigir
pada urat lehermu itu?
Kau juga bilang, dalam tubuhmu, ada pemandangan
curam tebing-tebing sisa kerukan, seperti mimpi-mimpi
yang mengantarai dirimu
dengan calon mertuaku,”
Rahni merayu.

Pi’i suka berkhayal sendiri,
kadang terbawa sampai ke mimpi
perihal kengerian yang lembut,
kengerian ketika ia melambaikan tangan
dari jendela penginapan, sementara
kedua orang tuanya terus lesap
ke dalam satu petak susut
sisa tanah warisan mereka.

Aeh gamaq Inaq!
Hidup memang serupa
dua sisi mata uang:
satu kinclong sekadar di muka,
sementara sisi yang luka-luka
dibiarkan tak sembuh jua!”

Tetapi pikiran Rahni
rupanya segera berganti haluan.

Ia inginkan percakapan
perihal pelangi di kaki bukit
selepas hujan deras, di kampung halaman Pi’i
yang asri sebagaimana kata para pengelana,
mirip iklan pariwisata, di televisi
yang menimbun potret-potret berlumpur,
suara-suara lain: gelayut mimpi,
gemeretak sendi, rintih dari pinggiran
yang entah.

Dalam bahasa
yang samar-samar dimengerti Rahni
Pi’i membahasakan pelangi
sebagai halus gradasi: deret mini market,
kafe-kafe 24 jam, penjual tenun rumahan
yang menjamur perlahan, dari arah rumah Rahni
ke rumahnya yang masih berusaha
takzim pada sunyi.

“Ke pedalaman, Ni
sekali lagi kita kunjungi sepi,
sebelum lamat-lamat makin sebak suara
debar kesima orang-orang manca,”
pendamnya dalam dada.

Dan kata-kata mengalir kembali
dari ranum bibir Rahni.
Dengan girang ia susun cerita berulang:
betapa riang dirinya menanti
Valentino Rossi, yang ia tak pahami
makin gemetar saja
memegang setang
Yamaha M1.

“Berapakah kiranya
harga selembar karcis, Ni?”
pikir Pi’i.

Gelombang di laut, gelombang di daratan:
Pi’i digulung selera Rahni,
terombang surut-pasang harga tembakau,
harga hewan-hewan piaraan. Dirasanya,
dialah yang bakal pertama menepi
dari pelotot para sekuriti:
dekat di mata,
jauh di harga.

Maka Pi’i merasa
mulai frustrasi pada hasrat Rahni.
Dalam remang, ia tinggalkan kekasihnya
menepi ke arah
gelap fantasi.

Berita Terkait :  Arwah Penari

Dan Pi’i
tak ingin kembali
ke dalam pelukan Rahni.

2.

Merasa sebagai lelaki perkasa,
sebagai lelaki sejati,
kendati berdiri di beranda musala,
Pi’i tetap terusik melirik paha
turis manca. Ia bermimpi:
lelap semalam dalam dekap mereka,
menghidu aroma rambut pirang
dan bangun dengan badan
berpiyama.

Oy gamaq Inaq!”

Maka ia cekoki diri
dengan Bintang atau tuak
lima ribuan. Kali-kali bening
bagai mata bayi, di desanya
menghijau sebak botol kaca:
bintang-bintang di langit malam hari
botol-botol Bintang di dasar kali.

Ia ingat Rahni:
cinta yang sempat dipelihara,
cinta yang tumbuh di sesak semak,
disibak keras deru napas, lenguh lega-lelah
di atas jatuhan daun-daun bambu.

Pi’i memejam
ia menolak tenggelam
ke dalam cemas kenangan.

3.
Tetapi Pi’i akhirnya mengertibagaimana rahasia bekerja,bagaimana sepi membunuh diri,ketika ibu jarinya menaripada layar ponsel pintar.

Ada chat singkat mendarat,
sambungan percakapan lama,

“Kak, aku terlambat.
Ini bulan keempat, dan kita
mesti kawin cepat-cepat!”

Praya–Yogya, 2019–2020

Di Bukit Ini, Aku Tetap Melihat ke Barat
: Malimbu, Lombok

1.
Di antara tumit dan ibu jari
kaki-kaki yang berjalan pergi,
telah terjatuh benih-benih kecemasan
yang sebanyak debu, sebanyak itu pula
akan tumbuh ia nantinya.

Jalan terus menanjak
angin bagai menekan
sepanjang perjalanan, di bukit
yang melapangkan pandang ini
aku mendengar seruan-Mu,
Tuhan: “Pepohonan disilakan
berbagi udara dan cahaya
sementara kuda dan domba-domba
dibiarkan berlari bebas-lepas,
sepanjang sabana, sampai batas-batas
yang telah terjelas.”

2.
Dari bukit ini
aku tetap melihat ke barat:
yang jauh dan yang dekat
terlepas oleh kepala
dan lengan yang sedepa
namun menyatu dalam kata-kata
dan jembar kawah dada.

Barat yang  jauh kuimani:
ia berpusar dan berputar
dalam tempo yang kian konstan
di dalam sanubari, seperti pusaran di lautan
yang menguapkan air,
kekal mengirim hujan–
berupa nama-nama
yang tetap menggenang

pada rongga kepala
leluhur-leluhur kami–
atau seperti sebuah nyanyi
yang didendangkan
oleh detak nadi.
Aku mencintai
barat yang dekat
kendati menyala dendam kesumat
mengekalkan panas
dalam bara yang bertahan
sepanjang tiga ratus tahun
usia kesedihan.

Berita Terkait :  Satu Nomor dalam Piano Koktail | Puisi Kiki Sulistyo

“Bukankah nanti,
ketika datang hari kembali
Engkau takkan pernah menanyakan lagi:
‘aku atau ia datang dari negeri
sebelah mana?’”

Yang meretakkan jalan-jalan
sepanjang tanah ini, cumalah seribu gempa
yang datang dari laut utara.
Yang melepaskan dengan seketika
pelukan-pelukan kita
adalah sejarah yang terus-menerus
kita catat dan ingat, dengan cinta
yang tertindih puing-puing
reruntuhan kota.

3.
Tidak jemu-jemu
kubuka kabut tebal pada tubuhku
seperti langit malam
yang menolak berselimut
memilih menyajikan peta ingatan:
gelap dan dingin,
namun setitik demi setitik
ada harapan terang bagai gemintang
di kejauhan.

Malam di bukit
terlihat di kejauhan
nyala menara masjid
sayup gamelan menggiring
kumandang azan, sebelum sepi
dan datang wangi setanggi
memenuhi rongga-rongga
di hidung kami.

4.
Pada suatu pagi
andai tikai hendak lagi dimulai
akan kulepas pertanyaan
bagai burung-burung merpati
mengetuk ke pintu langit-Mu, Tuhan
perihal tubuh-tubuh
yang berjatuhan, perihal nama
yang telah diukir di daun waktu
oleh masa lalu.

Menjelang dini hari,
di puncak bukit yang melapangkan
pandang ini, aku mengingat lagi
kata-kata dalam cerita ibu:

“Yang di atas bukit adalah angin,
yang di atas bukit adalah dingin,
di puncak bukit orang-orang
menyalakan sumpah, sementara di langit,
malaikat telah bersiap bagai hujan
turun pelan-pelan­–
mengabarkan kegembiraan.

Jejak Imaji, 2018–2019


Percakapan Rahni dan Rapi’i | Puisi Ilham Rabbani

Ilham Rabbani, lahir di Lombok Tengah, 9 September 1996. Menulis puisi dan resensi. Hingga kini, aktif mengelola kelompok belajar sastra Jejak Imaji di Yogyakarta. Sempat juga terlibat dalam pengelolaan antologi Rumah Penyair dan Forum Apresiasi Sastra (FAS) LSBO PP Muhammadiyah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Tahun 2016, terpilih mengikuti program Sekolah Menulis yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa D.I. Yogyakarta (BBY). Selain pernah mendapatkan penghargaan, tulisan-tulisannya juga terbit di beberapa bunga rampai dan media massa, baik cetak maupun daring (Basabasi.co, Bacapetra.co, Beritabaru.co, Kibul.in, Jejakimaji.com, Merapi, Minggu Pagi, Mata Budaya, Kreativa,dan lain-lain). Alumnus prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UAD, dan kini studi di Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM). Perihal Sastra & Tangkapan Mata (Jejak Pustaka, 2021) adalah buku esai tunggalnya yang telah terbit.