Perang dan Kesedihan

Perang dan Kesedihan

Perang dan Kesedihan
Cerpen: Daruz Armedian


Apa yang akan kau lakukan jika kelahiranmu di dunia hanya untuk menyaksikan peperangan atau bahkan menjadi bagian dari peperangan itu sendiri?

Tetapi, pertanyaan itu tak perlu kau jawab. Sebab, Mbah Selamet telah menjawab itu. Bahkan dengan cerita yang bagiku sangat mengharukan. Beginilah kira-kira:

Suatu malam yang biasa, malam yang tanpa keanehan apa-apa, aku melihat Mbah Selamet duduk di beranda rumahnya, menikmati kopi dan rokok. Sebelum aku menyapanya, ia sedang melamun. Entah melamunkan apa, barangkali tentang usianya yang senja dan kematian terasa begitu mendekatinya atau tentang manusia yang cara kerjanya sudah banyak digantikan mesin dan sudah mulai lupa tatacara menyapa, aku tidak tahu.

            “Sendirian saja, Mbah?”

            “Iya, Le. Sudah biasa sendiri.”

Aku duduk di sampingnya. Dia menawariku tembakau. Aku disuruh melinting sendiri. Kami berdua akhirnya sama-sama merokok, mengepulkan asap ke udara. Dan di situ, aku merasakan ada kebebasan di dada. Sebentar kemudian, ia mulai bercerita. Lalu cerita inilah yang kemudian kuceritakan padamu:

Berita Terkait :  Mahar Pohon-Pohon | Cerpen Daruz Armedian

Sering pada waktu hampir subuh, pada waktu fajar belum luruh, jika kentungan yang dipasang di atas pohon asam diketuk-ketuk oleh orang, maka itulah tandanya dari selatan, dari arah Desa Banyurip, Londo, sebutan untuk penjajah Belanda,akan menyerbu desa ini, Medalem. Sebetulnya bukan hanya menyerbu desa ini, tetapi segala desa yang letaknya di utara.

Penjajah itu kadang-kadang mengambil para lelaki yang ada di desa ini. Barangkali untuk dijadikan pekerja paksa di tempat-tempat yang lain. Kadang-kadang mengambil sapi, kerbau, emas, dan barang-barang berharga lainnya. Dan kadang-kadang juga mereka datang hanya untuk membunuh orang. Ya, datang dari jauh-jauh hanya untuk membunuh. Alangkah sia-sianya hidup mereka.

Nah, pada saat itulah, jerit tangis pertama kali Mbah Selamet muncul di dunia. Ia lahir dari rahim ibu yang sudah agak tua. Sementara, di sisi yang lain, bapaknya sudah dibawa Londo entah ke mana.

Mbah Selamet tumbuh di bawah desingan peluru dan penindasan yang terus memburu. Di umur yang ke sebelas tahun, ia ditinggal mati ibunya. Ibunya merenggang nyawa setelah sakit selama berbulan-bulan. Mbah Selamet hidup sendirian.

Berita Terkait :  Surat Dari Hani

Mbah Selamet dewasa ikut berperang dalam rombongan gerilyawan. Ia tidak lagi mementingkan hidup. Meskipun pada suatu waktu ia pernah mendengarkan ceramah yang entah dari mana, hidup mati memang di tangan Tuhan, tapi dirimu juga punya tangan, tangan untuk mempertahankan kehidupan. Tapi, ia sudah betul-betul tidak mementingkan hidup lagi. Sebab, dalam peperangan, siapa yang berani menebak ia akan terus hidup atau langsung mati? Sebagaimana sejarah, peperangan selalu tentang darah. Lalu, mungkin saja darah Mbah Selamet saat itu akan tumpah. Dan dengan kesendiriannya, ia tidak perlu memikirkan siapa yang akan menangis jika ia mati. Akan tetapi, Mbah Selamet selamat sampai kini.

**

Sudah tiga tahun lebih aku di tanah rantau dan sekarang aku pulang lagi ke kampung. Aku ingin bertemu Mbah Selamet lagi. Aku ingin mendengar kembali cerita-ceritanya.           

Senin pagi, aku datang ke rumahnya. Aku mengetuk pintunya. Tetapi yang terjadi hanya sepi. Tak ada sahutan. Tak ada suara apa pun kecuali suara ketukan tanganku di pintu. Ada seorang ibu yang secara kebetulan lewat.

Berita Terkait :  Tayang 2020, Cerpen Josee to Tora to Sakana-Tachi Diadaptasi Anime

            “Mbah Selamet sudah pergi.” Katanya.

            “Ke mana?”

            “Tidak tahu.”

            “Ya Tuhan. Sejak kapan?” tubuhku gemetaran.

            “Setahun yang lalu.”

“Lalu, siapa yang memiliki rumah ini?”

            “Sudah milik bank.”

Seketika aku bersedih. Aku membayangkan Mbah Selamet mati dan tidak ada yang mengurus jenazahnya. Atau kalau tidak begitu, ia hidup di jalanan seperti gelandangan. Atau, ia memang sudah menjadi gelandangan? Sejak kapan seorang pejuang begitu cepat menjadi gelandangan?

Dan setelah itu, aku tak tahu mau bagaimana. Apakah mencari Mbah Selamet yang tidak jelas di mana berada ataukah membiarkan masalah ini begitu saja.

**

Suatu hari, aku bermimpi bertemu Mbah Selamet. Ia memakai baju yang compang-camping. Mirip gelandangan. Wajahnya pucat dan tulang rusuknya terlihat. Kami tidak membincangkan apa pun. Sebab, sesaat sebelum aku menanyakan kabar, ia sudah merentangkan tangan. Membelah diri. Kemudian aku lihat banyak sekali Mbah Selamet (Mbah Selamet yang dulunya pejuang dan kini ia ditelantarkan). Ribuan lebih kira-kira. Dan sebelum habis takjubku, belahan-belahan Mbah Selamet beserta kesedihan yang timbul dari itu, terbang, menyebar ke seluruh penjuru negara. Negara ini.[*]

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan