Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Membaca Perang Israel-Palestina dengan Kaca Mata Peace Movement dalam Islam
(Foto: Getty Images)

Membaca Perang Israel-Palestina dengan Kaca Mata Peace Movement dalam Islam



Opini : Al Muiz Liddinillah*


Beberapa minggu ini penulis mencari beberapa refrensi untuk membaca perang Israel-Palestina. Pencarian sumber ini bermaksud untuk membaca lebih jernih genosida yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina ini. Sebenarnya apa yang telah terjadi dan bagaimana ini bisa terjadi, lalu apa yang bisa kita perbuat.

Berangkat dari keingintahuan itu penulis menggeledah beberapa buku di rak di antaranya Ironi Satu Kota Tiga Tuhan, Deskripsi Jurnalistik di Yerusalem karya T. Taufiqulhadi yang diterbitkan Paramadina tahun 2000, Pembersihan Etnis Palestina, yang ditulis Ilan Pappe pada tahun 2006 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 2009 oleh Elex Media Komputindo, dan tentunya buku tebal Sejarah Tuhan Karen Armstrong yang terkenal itu.

Lalu, perlahan penulis membuka perlahan buku pertama di atas, Ironi Satu Kota Tiga Tuhan. Buku itu menarik bagi penulis karena penulis berasumsi buku itu akan menggambarkan dengan ilustratif kondisi Palestina atau Israel, khususnya Yerusalem. Karena memang buku ini merupakan liputan jurnalistik yang cukup mendalam.

Buku yang ditulis bertahun-tahun dengan riset lapangan ini menghadirkan informasi yang detail bagaimana persinggungan bangsa Palestina, Yahudi, Arab, bahkan para turis. Taufiqulhadi menuliskan bahwa kehidupan sosial kemasyarakatan yang ada di sana penuh dengan ketegangan, meskipun tidak dalam peperangan. Kehidupan umat beragama di Yerussalem dipenuhi dengan mata yang saling pandang tak saling sapa, terlebih lagi intaian tantara Israel pun menghantui warga Yerussalem.

Ironi Satu Kota Tiga Tuhan menggambarkan bagaimana Yerussalem menjadi sebuah wilayah tumbuh dan berkembangnya agama langit; Yahudi, Kristen, dan Islam. Perasaan keagamaan yang berbeda itu masih terbangun pada penduduk Yerusalem. Perebutan tempat suci masih saja menjadi perdebatan di sana. Meskipun demikian, persoalan Israel-Palestina bukanlah persoalan agama atau tuhan.

Permasalahan agama itu bermula karena ambisi Israel sebagai negara yang mengakuisisi penuh daratan dengan keyakinan Zionisme nya (Yahudi Ultra Ortodox). Perampasan, perampokan, dan pengambilalihan tanah Palestina dan sekitarnya bagi Israel adalah sah, karena bagian dari tanah yang dijanjika oleh tuhanNya. Di pengantar buku itu juga dijelaskan bagaimana sejarah Palestina sejak sebelum masehi hingga saat ini.

Jauh ke depan setelah masa lalu itu, ketika deklarasi Balfour yang dikeluarkan Inggris berkumandang pada tahun 1917, deklarasi itu mendukung pembentukan kediaman nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina itulah awal dari kehancuran Palestina. Berlanjut pada malapetaka 1948 yang akrab disebut nakba, di mana warga Palestina kehilangan tanah air mereka, yang memicu pendirian negara Israel pasca perang Arab-Israel. Berdasarkan Ilan Pappe dalam bukunya hampir 800.000 penduduk telah diusir dan 532 desa telah dihancurkan pada 1948.

Lompat pada perang yang masih panas dan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan Israel kepada Palestina lantas dunia terus bertanya, apa yang terjadi dan adakah solusi perang ini?

Banyak warga dunia mengutuk kekejaman Israel dan menggalang solidaritas buat Palestina. Baik dengan demonstrasi langsung atau media sosial. Demonstrasi besar-besaran dengan berjalan atau upacara doa juga bergelora di berbagai negara. Sedangkan, warga dunia maya juga menyeru mengutuk kebiadaban Israel.

Juan Cole penyunting buku Peace Movement in Islam yang diterbitkan Bentang akhir-akhir ini juga lantang menyuarakan amarahnya kepada Israel. Sebagaimana yang disebut Haidar Bagir saat diskusi buku Peace Movement In Islam empat hari lalu bersama Fahruddin Faiz dan Ihsan Ali Fauzi, Haidar menjelaskan bahwa Juan Cole melalui situs resminya Informed Comment juga terang-terangan mengutuk Israel.

Menurut Juan Cole, Benyamin Netanyahu itu fasis, yang didorong oleh orang-orang yahudi ultra ortodoks (zionisme) yang menganggap tidak merasa penting orang Palestina. Sembari meminjam istilahnya Mitt Romney, Juan Cole juga berpendapat bahwa bagi Israel yang harus dilakukannya adalah menendang kaleng (Palestina) di tengah jalan, tapi yang dilakukan Israel itu bukan menendang kaleng tapi menendang jalannya.

Jika sudah amarah Israel yang demikian hingga menghancurkan Palestina, bagaimana pandangan islam dalam menyikapi konflik seperti ini dalam perspektif gerakan perdamaian dalam islam? Fahruddin Faiz membaca peace movement in islam ini dalam empat catatan. Pertama, islam itu esensial dan hakikat; kedua, amanah atau tanggung jawab kekhalifahan itu ya perdamaian; ketiga, hajjah atau kebutuhan manusia tidak bisa menjalankan amanah dan tanggung jawab tanpa perdamaian; dan keempat Quwwah, kekuatan itu dibuktikan dengan gerakan damai seperti yang dilakukan Gandhi, Marthin Luther King Jr, dan banyak juga dalam islam.

Ihsan Ali Fauzi memaparkan juga pada diskusi itu bahwa peace movement in Islam ini bukanlah berhenti pada tafsir seperti yang disampaikan Quraish Shihab, misal tafsir salam dan memaafkan. Tapi lebih dari itu, peace movement in Islam berarti salam dan memaafkan yang berimplikasi untuk menggerakkan masyarakat untuk nirkekerasan. Gerakan nirkekerasan atau intifadah ini efektif membawa nasib Palestina menjadi lebih baik di dunia international, cita-citanya bisa menggaung ke dunia bukan lagi sebagai isu agama tapi isu Hak Asasi Manusia (HAM), dan meraih simpati berbagai negara termasuk Israel sendiri. Gerakan damai ini memang perjuangan yang tidak mudah, sebagaimana contohnya saat Revolusi Iran ini terjadi, di mana perempuan-perempuan melakukan demo melawan tank-tank itu dengan memberi bunga. Akan tetapi, gerakan ini akan sirna ketika ada salah satu orang yang melakukan kekerasan.

Selain itu, kita sebagai muslim Indonesia atau warga dunia yang peduli terhadap nasib bangsan Palestina bisa melakukan keberpihakan. Karena yang dilakukan Israel merupakan kebiadaban, kekejaman, kejahatan, dan pembunuhan massal umat manusia. Jelas itu bertentangan dengan nilai-nilai islam atau bahkan agama apapun. Keberpihakan itu sebagaimana seperti yang diceritakan Faiz tentang burung pipit.

Ada seekor burung pipit membantu nabi Ibrahim dari pembakaran yang dilakukan kaumnya. Burung pipit ini tergopoh-gopoh mengambil air untuk memadamkaan api yang membakar nabi Ibrahim. Di tengah jalan burung pipit bertemu burung gagak. Burung gagak bertanya kepada burung pipit, “ngapain kamu repot-repot begini, gunanya apa kamu melakukan itu?”, “Gapapa aku melakukan ini. Aku melakukan ini setidaknya menegaskan di posisi mana aku berdiri.”


*Al Muiz Liddinillah : Peneliti di Oase Institute. GUSDURian. Redaktur Beritabaru Co. Penulis Lepas. Pendiri Komunitas Literasi Gubuk Tulis. Owner Oase Café & Literacy dan Toko Buku Oase. Tinggal di Malang. IG: @almuizld.