Menko PMK Sebut Rokok Penghambat Kemajuan Budaya

Berita Baru, Jakarta –  Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyebutkan rokok menghambat kemajuan budaya Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Muhadjir saat menjadi pembicara dalam kegiatan yang digelar oleh Universitas Indonesia dengan tema Tingkat Prevalensi Peningkatan Merokok pada Kategori Anak di Indonesia: Efek Harga dan Efek Teman Sebaya, Kamis (27/8).

“Salah satu faktor perintang untuk kita memajukan budaya kita, juga kebiasaan merokok. Perilaku merokok adalah faktor defisit dari nilai-nilai budaya yang kita miliki,” katanya.

Muhadjir berharap masyarakat benar-benar memahami dampak buruk dari rokok. Terutama bagi generasi muda.

Menurutnya, bahaya dan kecanduan rokok tak terjadi saat anak mulai bergaul di lingkungan teman sebaya atau grupnya.

“Bahaya rokok justru sudah terjadi di lingkup paling kecil sejak anak masih dalam kandungan, yakni dari faktor keluarga,” ujarnya.

Bahaya terbesar dari rokok, lanjut Muhadjir dimulai pada 1000 hari kehidupan anak, yakni dari mulai masih janin hingga anak tersebut berusia sekitar dua tahun. Jika orang tua perokok, maka akan berdampak serius terhadap janin dan tumbuh kembang anak.

Berita Terkait :  Pemerintah Terbitkan Hari Libur dan Cuti Bersama Tahun 2021

“Karena ketika suami jadi perokok, ibunya walau tidak merokok tapi dia akan jadi perokok pasif dan itu berpengaruh terhadap perkembangan janin yang ada di dalam kandungan ibu,” jelasnya.

Muhadjir juga mengatakan bahwa rokok menjadi faktor ketidak merataan ekonomi, pasalnya perokok lebih banyak dari kalangan menengah kebawah, sementara laba dari pembelian rokok tersebut dinikmati oleh perusahaan.

“Sementara yang dapat keuntungan finansial secara ekonomi itu adalah sekelompok kecil, yaitu perusahaan-perusahaan rokok,” pungkasnya.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan