Menkes: Tempat Tidur Pasien Covid-19 Akan Ditambah

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers, Senin (11/1)

Berita Baru, Jakarta – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan, akan menambah jumlah tempat tidur untuk pasien Covid-19 dari semula 15.000 ke 36.000. Ia mengatakan angka ini didapatkan dari hitungan sederhana dari 30 persen kasus aktif membutuhkan perawatan di rumah sakit.

“Sebagai informasi di bulan November kasus aktifnya sekitar 50 ribu an, sekarang kasus aktifnya 120 ribu an. Jadi, dengan hitung-hitungan mudah tadi di bulan November kita hanya butuh 15 ribu atau 30 persen dari 50 ribu tempat tidur, sekarang butuhnya 36 ribu, 30 persen dari 120 ribu,” kata Budi dalam konferensi pers, Senin (11/1)

Budi mengungkapkan, hal tersebut merupakan masalah yang akan dihadapi pada hari ini, hingga awal Februari mendatang. Ia menjelaskan bahwa dirinya telah mengimbau kepada seluruh rumah sakit agar mengkonversikan tempat tidur untuk pasien Covid-19 dari 10 persen menjadi 30-40 persen.

“Karena contohnya rumah sakit punya 100 kamar 100 tempat tidur, yang dialokasikan buat pasien Covid-19 hanya 10. Jadi otomatis dia masih kosong bor nya tetapi kalau Covid-19 masuk tidak bisa karena tempatnya cuma 10,” ujar Budi.

Budi juga sudah merelaksasi beberapa aturan yang mengizinkan agar perawat-perawat yang belum memiliki surat tanda registrasi atau STR resmi boleh langsung masuk bekerja. Ia menyebut ada sekitar 10 ribu perawat yang belum memiliki STR.

Selain itu, relaksasi aturan tersebut juga berlaku untuk para dokter. Budi juga sedang mengkaji dengan tim dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan tim dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), agar sekitar 30-40 ribu dokter dapat segera dimasukkan. Hal ini dilakukan demi menjaga kekurangan dokter dan perawat di rumah sakit.

“Jadi di masa pandemi ini memang kita butuh juga tenaga-tenaga perawat, kan kasian mereka sudah letih yang ada sekarang. Jadi kita akan dorong aturan apa yang bisa kita relaksasi,” imbuh Budi.

Kemudian, Budi juga meminta kepada seluruh pihak rumah sakit mempunyai anggaran sendiri terkait tambahan obat dan fasilitas. Menurutnya, banyak obat-obatan yang dibutuhkan seperti anti immunoglobulin hingga plasma konvalesen.

Ia juga meminta kepada pemerintah daerah agar dibantu mengenai obat dan fasilitas agar disiapkan. Jika kurang, kata Budi, kami akan bantu negosiasi langsung dengan beberapa perusahan obat-obatan yang saat ini sedang sulit dicari seperti obat immunoglobulin.

Lebih lanjut, Budi mengingatkan kepada seluruh masyarakat yang dinyatakan positif Covid-19 tetapi tidak memiliki gejala seperti demam dan sesak nafas agar dapat isolasi mandiri di rumah masing-masing. 

Jika masyarakat yang rumahnya sudah sempit dan tidak bisa dipakai untuk isolasi mandiri, pihak Kemenkes akan mengimbau kepada seluruh gubernur dan kepala daerah agar menyiapkan tempat-tempat isolasi seperti wisma atlet, wisma haji, asrama hingga hotel. 

“Nanti kami akan bikin mekanismenya di mana tetap dimonitor oleh dokter-dokter baik melalui telepon langsung maupun telemedicine. Itu untuk mengurangi beban rumah sakit, biarkan teman-teman kita, saudara kita yang berat itu yang dihandle di sana,” tandas Budi. 

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini