Berita

 Network

 Partner

Meksiko Mulai Pembelajaran Tatap Muka
Anak-anak sekolah Meksiko kembali ke sekolah setelah lebih dari satu tahun belajar jarak jauh. Foto: AFP/Pedro Pardo.

Meksiko Mulai Pembelajaran Tatap Muka

Berita Baru, Meksiko – Sekitar 25 juta anak sekolah Meksiko mulai melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) pada hari Senin (30/8) setelah lebih dari satu tahun belajar dari rumah.

Pemerintah Meksiko mengatakan bahwa PTM itu akan “sukarela dan aman,” tetapi beberapa orang tua dan penentang Presiden Andres Manuel Lopez Obrador khawatir bahwa itu terlalu cepat.

Salah satu siswa, Anna Alvarez (8 tahun) mengatakan dia “gugup dan bersemangat” setelah 17 bulan belajar di rumah. “Saya senang karena saya bersama keluarga saya, tetapi sedih karena saya merindukan teman-teman saya,” katanya, dikutip dari AFP.

Dalam pelaksanaannya, siswa diwajibkan menggunakan masker dan para guru juga akan memeriksa suhu mereka serta memberikan hand sanitizer saat akan memasuki kelas.

Berita Terkait :  CDC: Varian Delta Dapat Menular Seperti Cacar Air

Selain itu, di dalam ruang kelas maksimal hanya enam siswa, lalu meja-mejanya disekat dengan dinding plastik dan berjarak.

Pemerintah mengesampingkan memaksa anak-anak untuk kembali ke ruang kelas dan mengatakan akan mengadopsi model hibrida, yaitu dengan pembelajaran tatap muka dan jarak jauh.

“Para ibu, ayah, dan anak-anaklah yang harus membuat keputusan. Sekolah tidak tergantikan,” kata Lopez Obrado saat melakukan konferensi pers, dikutip dari AFP.

Salah satu orang tua siswa, Israel Garcia (45 tahun) mengatakan dia “sedikit tidak yakin dan takut bagaimana skema ini akan berhasil.”

Keputusan pemerintah Meksiko untuk mulai mengadakan pembelajaran tatap muka itu  muncul di tengan kekhawatiran adanya gelombang ketiga pandemi COVID-19 di meksiko.

Berita Terkait :  Panjang Jari dapat Menunjukan Preferensi Pilihan Makanan Anda

Meksiko merupakan salah satu negara dengan korban kematian tertinggi, memiliki angka kematian virus corona resmi lebih dari 258.000 dan negara berpenduduk 126 juta itu menghadapi gelombang infeksi ketiga.