Mahar Pohon-Pohon | Cerpen Daruz Armedian

Mahar Pohon

Mahar Pohon-Pohon
Cerpen, Daruz Armedian

Seandainya, kekasihku, kau ingin menikahiku dan aku meminta mahar perkawinan itu berupa pohon yang jumlahnya seribu, apa kau masih mau?

Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kau tahu, Bandung Bondowoso saking cintanya, ia rela memenuhi permintaan Roro Jonggrang untuk membuat seribu candi. Dan itu bisa dilaksanakan meski dengan kelicikan dan meski candi itu kurang satu. Bukankah hanya karena cinta sejati sebuah permintaan serumit apa pun akan diusahakan untuk memenuhinya?

Aku bukan perempuan yang materialistik. Sebab pohon-pohon yang kuminta itu tidak mungkin aku gunakan sendiri. Misalkan nanti jika mereka beranjak besar, kutebang dan kujual lalu uangnya kugunakan sendiri. Tidak. Aku hanya ingin tempatku teduh dan bukan berpolusi seperti saat ini. Pohon-pohon itu aku ingin merawatnya bersamamu. Sampai tua nanti, sampai kita punya anak dan cucu—jika dikehendaki.

Dan lihat, bagaimana nanti kota jadi sejuk dan nyaman seperti taman. Burung-burung senantiasa singgah dan membuat sarang. Cericitnya menghiasi pagi. Dan, ya, rumah kita terletak di sana. Kau dan aku saling bercumbu di rumah sederhana sambil menertawakan, betapa lucu bunyi burung itu, tidak serupa burung-burung lainnya. Atau berduaan sambil memandang mereka terbang kembali pulang kala sore menjelang.

Aku ingin jika pagi tiba dan tanganku membuka jendela, mataku tertambat pada hehijauan dan bukan bangunan kota atau pabrik atau pertambangan yang memuakkan. Betapa, pohon-pohon itu seperti menghiburku dan mereka berkata, inilah surgamu, surga yang tak ada kebisingan mesin, asap knalpot, atau polusi-polusi lainnya.

Berita Terkait :  Beberapa Pertanyaan untuk Han

Jika permintaan itu kau rasa sulit dan hanya akan membuatmu memaki, dasar perempuan materialistik, tidak menyukai kesederhanaan, tidak menghargai laki-laki miskin yang hendak menikahinya. Maka, kau harus tahu, lebih materialistik mana antara aku dan perempuan-perempuan yang meminta mahar berupa uang yang kemudian dihambur-hamburkan dengan berbelanja di supermarket yang kemudian wadahnya dibuang secara serampangan sehingga mengotori lingkungan. Lebih materialistik mana antara aku dan perempuan-perempuan yang meminta mahar cincin yang itu dihasilkan dari pertambangan. Jika emas itu dilahirkan dari bumi Papua yang dikelola Freeport, hitunglah jumlah kerugian-kerugian yang ditimbulkan: kekerasan, kericuhan, kematian, kerusakan alam, dan lain sebagainya. Dan jika emas itu lahir dari bumi mana saja, maka lihatlah akibat yang ditimbulkan dari pertambangan itu. Lebih materialistik mana antara aku dan perempuan yang saban hari minta makan dan minum dari kemasan plastik, yang nanti akan dibuang dan lalu mengotori lingkungan?

Aku sebenarnya tidak ingin mempersulit pernikahan itu dan bukan aku ingin mengetes kadar cintamu. Aku hanya ingin orang-orang tahu hubungan ini dengan mahar seribu pohon, lalu mereka berbondong-bondong mengikuti kita. Menikah dengan mahar berupa pohon-pohon. Karena kelak mereka akan tahu betapa bahagianya hidup di tanah yang sejuk dan tidak berpolusi.

Aku ingat semasa masih kuliah, kau berkunjung ke kosanku (yang itu kosan dekat rumahmu, di sebuah kota yang bising dan jauh dari rumahku di perkampungan) dan aku hanya memakai kaus kutang dan celana pendek. Kau menegurku dan aku menjelaskan, betapa panas udaranya. Lihat, bangunan-bangunan tinggi yang sudah rapat itu kini masih saja hendak melahirkan bangunan-bangunan yang lain dengan membabat pohon kecil di tempatnya. Kau kemudian, barangkali dengan rasa cintamu, membelikanku kipas angin pada hari berikutnya. Sehingga aku tidak lagi kepanasan.

Berita Terkait :  Aduhai Abang, Demi Alam dan Anak Cucu Kita

Tetapi, aku masih berpikir, bagaimana nasibnya orang yang tidak punya? Tidak punya kipas angin saja misalnya. Dengan cara apa mereka menghilangkan panas itu? Dengan kipas angin manual: menyobek kertas dan menggerak-gerakkan tangannya? Okelah. Tetapi itu tidak selamanya bukan? Meskipun itu dapat dikatakan solusi, tapi lihatlah masa depan anak-anak kita yang nantinya dewasa tanpa mengenal pepohonan.

Aku ingat ketika mengangkat telepon dari kampung, bapakku mengeluh. Katanya ini sudah saatnya musim hujan, tetapi hujan malah tidak turun-turun. Dan ketika musim kemarau, ia mengeluh. Katanya ini musim kemarau, tetapi hujan masih sering turun. Dan bapakku itu, dengan pendidikan yang kurang sama sekali, tidak mengerti bahwa musim sekarang sudah tidak menentu lagi. Akibat pemanasan global. Akibat banyaknya pohon-pohon yang ditumbangkan.

Aku berkeluh kesah padamu dan kau hanya mendengarkan saja. Kau mengangguk seolah paham dan akan melakukan hal-hal yang membuat persoalan itu selesai. Katamu suatu waktu, memang, bumi ini sudah kehilangan banyak sekali pohon-pohon, kekasihku. Ya, aku setuju perkataanmu. Maka, jika kau ingin menikahiku, tanamlah pohon berjumlah seribu. Dan walau itu sedikit bagi bumi, minimal itu menyejukkan bagiku.

Dan jika itu benar kau lakukan, tenanglah, aku pasti membantumu. Menanam dan kemudian merawatnya sampai dewasa. Sampai batang-batangnya membesar dan daun-daunnya rindang. Bukankah aku orang yang paling menyayangimu, katamu? Dan bukankah kau orang yang paling aku sayangi?

Berita Terkait :  Menziarahi Waktu | Cerpen Endri Maeda

**

Dengan segenap hati, Elisa, perempuan cantik menawan dengan rambut panjang itu, mengirimkan surat kepada lelaki yang akan menikahinya. Di dalam surat itu, kau pasti sudah tahu, ia meminta mahar berupa seribu pohon. Dan untungnya, lelaki itu menyanggupi permintaannya.

Maka, dikisahkan, seorang lelaki dan perempuan menikah dengan mahar yang tidak pernah ada sebelumnya. Tidak pernah ada orang yang melakukan sebelumnya. Mahar itu berupa seribu pohon.

Setelah menikah, hiduplah mereka seperti apa yang diimpikan. Setiap hari merawat pohon-pohon. Sampai mereka punya dua anak yang berbahagia. Sungguh, seperti dalam dongeng: Mereka hidup di sebuah kota yang terdapat seribu pohon di sekitarnya.

Tentu saja, kisah mereka tidak selamanya bahagia. Karena si lelaki meninggal dunia akibat serangan jantung. Elisa terus-terusan menangis hari itu sampai pada suatu saat ia sadar, bahwa kematian memang akan selalu terjadi seperti halnya perusakan-perusakan hutan yang memang sering terjadi dan akan terus terjadi.

Dalam sadarnya itu, ia berjanji tidak akan menikah lagi. Ia hanya akan merawat anak-anaknya sampai dewasa dan melindungi pohon-pohon dari tebangan manusia sampai dirinya tua.

Maka jangan merasa aneh jika kebetulan kau berkunjung di kota tempat kisah mereka berada, kau akan menemui seorang perempuan tua yang tiap harinya masih melindungi pohon-pohon itu. Oleh sebab itu, di sana akan terlihat sejuk sendiri ketimbang tempat-tempat yang lain.

Dan kisah cinta mereka, kini banyak yang menirukan. Kalau ingin membuktikan cinta sejati, maka perempuan-perempuan banyak yang meminta mahar berupa pohon-pohon (walaupun tidak seribu, karena tanah-tanah semakin sempit). Mereka percaya jika hal itu dilakukan, bahagia akan menemui mereka sampai kelak beranak dan bercucu.

Akhirnya, pohon-pohon kembali banyak seiring banyaknya perempuan-perempuan yang jika ingin menikah, mereka meminta mahar berupa pohon-pohon dan bukan yang lain. Tetapi sayang, kau tentu tahu semua, mahar berupa pohon-pohon ini hanya terjadi dalam cerita.**

Tuban, Februari 2016

Tinggalkan Balasan