Berita

 Network

 Partner

Mainan Anna | Cerpen: Fatah Malangare
Ilustrasi Kartun Boneka Abstrak

Mainan Anna | Cerpen: Fatah Malangare

Suminto, kuminta padamu sebuah mainan.”

“Tidak cukup ranjang dan tubuhku jadi mainanmu, Anna?!”

“Kau selalu ingin main ranjang, Suminto. Heh… itu manusiawi. Tapi saat kau turun gunung siapa yang akan jadi temanku main ranjang?”

Sorot mata Suminto tajam, merah saga. Napasnya memburu. Dadanya berguncang-guncang dibalut baju hitam polos. 

“Kau bermaksud menduakanku, Anna?!” Suara Suminto meninggi.

“Suminto,” mulut Anna tersenyum ganjil, ”kau mungkin bisa menghibur diri dengan keluar rumah, mencari makan, berjumpa orang di lereng bukit. Tapi aku…” suara Anna  tertahan, “aku hanya perempuan penghuni gubuk di tengah hutan.” Air merembes di matanya.

“Bagaimana harus kuhabiskan hariku di atas ranjang dan kesepian, Suminto?”

Suminto tak punya jawaban untuk pertanyaan Anna. Ia menunduk dalam. Jiwanya sebagai bandit Gunung Salaka melentur. Kebuasaan dirinya tampak telah minggat. Ia tidak punya kekuatan berkata kasar dan mengayungkan tangan atau pedang. Tubuhnya yang gagah mengecil, dan tertelan mata sayu Anna.  

“Baiklah, akan kukabulkan keinginannmu.” 

Anna tersenyum ganjil, mendekatkan wajahnya ke tubuh Suminto, lalu menariknya ke atas ranjang. Matahari yang separuh tenggelam di balik bukit barat, malu-malu menyiramkan cahayanya ke ranjang mereka. 

Bulan tegak di atas gubuk. Permainan ranjang Suminto dan Anna masih juga belum usai. Angin malam masuk lewat celah-celah gubuk. Menyentuh tubuh mereka, mencipta gigil disekujur badan. Suminto dan Anna makin buas, saling banting, saling cakar, mengejar puncak kenikmatan yang  mereka arungi. 

***

Lelaki kesepian di Desa Lereng Bukit ditemukan mati tanpa kepala. Cipratan darah leher putus nempel di kasur, dinding dan lantai. Dari kamarnya menguar amis darah, masuk ke hidung penduduk Desa Lereng Bukit yang hanya berani melongokkan kepala lewat jendala.  

“Sudah kuduga lelaki itu akan mati bunuh diri.”

“Ini tragedi pembunuhan. Mana bisa orang memenggal kepalanya sendiri. Sangat mustahil!”

Bisik gunjingan berdengung serupa kerumunan lebah mencari makan.

Kecurigaan  atas kematian lelaki kesepian yang tinggal di pojok Desa Lereng Bukit tenggelam dimakan hari. Mereka sepakat lelaki itu mati bunuh diri. Tak satu pun percaya ia dibunuh. 

Berita Terkait :  Sebelum dan Setelah Menggempur Kediri | Cerpen Risen Dhawuh Abdullah

“Pembunuh dan pencuri lahir dari lingkungan miskin.” Demikian penjelasan penyidik,  jadi pemutus rantai kecurigaan.

Desa Lereng bukit kembali beraktivitas seperti biasa: tanpa ketakutan, kecurigaan dan kesedihan. Tragedi kematian si lelaki kesepian benar-benar hilang termakan hari.

Desa Lereng Bukit yang tenang kembali digemparkan oleh kematian sepasang pengantin baru. Mayat pengantin itu berpelukan di atas ranjang, tanpa kepala. Penduduk Desa Lereng Bukit menduga mayat pengantin itu mati sebelum menghabiskan malam pertama. 

Kecurigaan atas terjadinya pembunuhan kembali gempar. 

“Bukannya sudah kubilang, di desa kita ini sedang ada pembunuh. Itu sudah kujelaskan saat kematian si lelaki kesepian!”

“Kita jangan menaruh prasangka buruk. Penyidik desa belum mengeluarkan penjelasan.” Balas teman di sampingnya.

Hari-hari mereka menunggu penjelasan penyidik dicekam rasa takut.  Wajah semringah penduduk Desa Lereng Bukit sirna ditelan gunjingan tentang pembunuhan.  Mereka tidak lagi merasa aman meski kebutuhan hidup terpenuhi. 

Ketenangan Desa Lereng Bukit yang hilang kembali setelah penyidik desa mengeluarkan penjelasan.

“Kematian sepasang pengantin baru itu murni murka leluhur. Pada acara perkawinan mereka ada satu ritual yang ditinggalkan. Mungkin ini kutukan. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari tragedi itu.”

Ketakutan di wajah penduduk Desa Lereng Bukit benar-benar hilang. Mereka kembali hidup seperti biasa. Mereka kembali yakin Desa Lereng Bukit aman:  tak pernah ada seorang pembunuh dan tak akan pernah mencipta pembunuh.

 Hari berikutnya, Desa Lereng Bukit gentar. Angin yang berdesir dingin seketika membeku. Langit yang biasa hitam tiba-tiba cerah. Warnah merah menggantung sendu di langit barat. Pemandangan sendu tanpa mendung pertama kali dilihat penduduk Desa Lereng Bukit. Bagi mereka, ini tanda alam yang buruk. Kekacauan akan datang. Kematian pemuda kesepian dan pengantin baru kembali memenuhi kepala mereka. Semburat  khawatir timbul-tenggelam di rona wajah mereka.

Berita Terkait :  Kisah-kisah dalam Tiga Simfoni

“Apakah ini tanda bahaya untuk kampung kita, kampung tenang, kampung damai. Oh, tidak, ini mungkin hanya dampak buruk cuaca alam.”

Orang-orang yang berdiri di sampingnya diam menatap awan merah. Satu pun tak berani membuka suara. Di kepala mereka hanya ada rasa takut. Malam yang ringkih pelan tapi pasti merayap, menutup Desa Lereng Bukit. Kesibukan dan ribut soal cuaca alam tenggelam dimakan malam: rumah-rumah terkunci, penghuninya meringkuk di tempat tidur masing-masing.

Awan merah yang tergantung di langit barat sangat lekat di kepala penduduk Desa Lereng Bukit.  Ramalan akan datangnya bencana besar jadi gunjingan ibu-ibu di pasar. Hampir seluruh sudut desa membicarakan makna di balik awan merah yang bergelayut di langit barat. 

Seumur hidup penduduk Desa Lereng Bukit belum pernah melihat cuaca alam seperti itu. Bingunglah peramal bila ditanya tentang awan merah yang bergelayut di langit barat. Kiai-kiai penunggu Surau makin gencar shalat malam, minta penjelasan cuaca alam yang menggetarkan itu. 

Kepala Desa Lereng Bukit mengundang seluruh orang penting desa untuk memecahkan makna awan merah yang bergelayut di langit barat. Adu mulut, adu pintar peramal dan kiai memakan waktu sepanjang hari.

“Sugguh kafir kita bila memaknai cuaca alam itu petanda buruk. Kejadian buruk tidak ditentukan alam, hanya Tuhan yang menentukan. Sungguh, kalian telah kafir,” kata Kiai Sudrun.

“Tidak begitu, Sudrun! Saya telah berbicara dengan arwah leluhur, katanya akan ada satu bencana zaman untuk desa kita ini.” Bantah peramal Sikir.

Heh, Sikir yang kafir. Peramal hanya pembual semata. Tempatnya sungguh neraka.” Urat leher Kiai Sudrun menegang. Mata merah, tangan menunjuk-nunjuk . 

 Perdebatan panjang tentang awan merah yang bergelayut di langit barat tak menemukan pangkal ujung. Tiap hari selalu di temukan mayat tanpa kepala. Kecurigaan terhadap adanya pembunuh mulai muncul.  Hari-hari di Desa Lereng Bukit dicengkram rasa takut. Tak seorang pun berani keluar rumah. Tak seorang pun berani duduk santai di warung pinggir jalan. Hari itu wajah Desa Lereng Bukit serupa laut tanpa perahu.

Berita Terkait :  Nisan dalam Kaca | Cerpen Yustinus Yuan

Kabar kematian terus datang. Keamanan desa diperketat. Patroli malam ditingkatkan. Tapi tragedi pembunuhan tetap saja terjadi. Pejabat, peramal dan kiai tak punya daya mencegahnya. Yang bisa dilakukan pejabat desa hanya memberi sumbangan pisau untuk menjaga diri, kiai memberikan doa untuk mencegah petaka dan peramal memberi mantra. 

Penduduk Desa Lereng Bukit  putus asa. Senjata yang mereka dapatkan dari pejabat, kiai dan penyihir tak bisa mecegah malapetaka. Hingga tak seorang pun penduduk Desa Lereng Bukit selamat dari kematian.

Mayat-mayat penduduk Desa Lereng Bukit yang rebah tanpa kepala semakin hari menguarkan anyir,  datang dari tiap rumah. Meski jalanan dan pasar tampak lenggang,  rumah-rumah yang terkunci seakan hendak bercerita perihal mayat-mayat yang membusuk di dalamnya. 

Awan cerah bersama tiupan angin dari utara membawa aroma duka Desa Lereng Bukit keseluruh penjuru dunia.  Suminto tenang menatap raut wajah indah istrinya. Jauh di dalam matanya ada duka.

“Angin ini membawa kabar duka, Anna!” Kesedihan sangat jalas terlihat di matanya.

“Dukamu tak akan abadi, Suminto. Tatap, tatap wajahku, dan tertawalah.” Anna tersenyum ganjil.

Suminto menatap Anna. Tapi kesedihan dalam dirinya tak hilang-hilang. Ia mengambil golok yang terselip di balik Punggung dan menebas kepala Anna. Rebahlah kepala cantik kekasihnya ke lantai, menggelinding ke bawah meja yang di atasnya terpajang kepala-kepala penduduk Desa Lereng Bukit.  Sebelum mata mayat Anna terkatup setetas air mata jatuh ke lantai.

“Bermainlah dengan mainanmu, Anna,” ucapan Suminto begitu keluh, bertalu-talu dalam jiwanya.

                                Yogyakarta, 2021


Fatah Malangare santri PPM. Hasyim Asyari Yogyakarta, Aktif di Komunitas Kutub. Cerpennya telah dimuat diberbagai media.