Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Lelaki Tanpa Telinga | Cerpen: Dikablek
Ilustrasi: Mana Dethe

Lelaki Tanpa Telinga | Cerpen: Dikablek



Ibu Lili, manajer distrik Your Partner menyambut Hawa dengan senyum lebar. “Pertama, saya, selaku perwakilan dari Your Partner ingin mengucapkan terima kasih kepada Nona Hawa yang telah memercayai kami dalam menciptakan pasangan ideal sesuai keinginan Anda,” ucap wanita berumur empat puluh tahun itu. “Kami tahu, di era ini, mencari pasangan adalah hal yang krusial dan cenderung menyusahkan.”

Hawa begitu senang mendengar sambutan itu.

“Benar. Terlebih, karena saya sudah menginjak usia yang matang,” kata Hawa sambil tertawa, “keluarga sudah mulai menekan dan melempar pertanyaan dengan membabi buta perihal pernikahan. Saya juga enggan memiliki keturunan, karena tampaknya semua hal jadi lebih merepotkan, bukan? Seorang lelaki bisa menyerupai bocah berumur lima tahun, belum lagi mengurusi seorang anak.”

Gerai dari perusahaan itu buka untuk pertama kalinya di Grand Indonesia. Berbondong-bondong orang mengantre, sebagian dari mereka sudah melakukan pra-pesan dari jauh-jauh hari melalui situs resmi perusahaan: memasukan prefrensi fisik, kepribadian, biografi, dan gambaran pasangan paling ideal yang kemudian diproduksi oleh perusahaan berdasarkan keinginan para pelanggan.

Sejak beberapa bulan lalu Hawa telah memesan pasangan artifisial di perusahaan Your Partner, dan ia tak sabar menemui pasangan sejatinya yang akan memenuhi segala fantasi negeri dongengnya tentang pangeran tampan dari negeri seberang.

Ibu Lili langsung menatap mata Hawa dengan tajam, memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman seraya menopangkan satu tangan di dagu. Gerai itu ramai dengan orang-orang yang juga disambut oleh tim Your Partner di meja-meja yang lain, dan semuanya terdengar mengulang ucapan Ibu Lili dengan nada yang sama lembutnya.

“Tentu kami merasa senang di terima di Indonesia. Untuk sebuah perusahaan yang baru berdiri, saya selaku distrik manajer di sini terkejut melihat antusiasme masyarakat. Bagaimana tidak? Ketika kami mengumumkan bahwa kami akan membuka gerai di Indonesia, situs kami sampai tak bisa diakses karena banyak orang mengisi lembar pemesanan secara daring. Oleh karena itu, mau kah Anda menyampaikan pengalaman Anda sebagai salah satu pelanggan pertama kami di situs resmi, nantinya?”

Hawa tersipu, lalu mengangguk.

“Sebagai catatan, Nona Hawa. Produk yang ditawarkan oleh Your Partner tentu masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Kami, seperti dituliskan di situs dan surat kesepakatan pembelian telah memberikan garansi untuk segala permasalahan pada produk kami,” ucapnya dengan wajah penuh senyuman, “sehingga di kemudian hari, kami ingin Nona dan juga pelanggan lainnya mau memberikan catatan pengalamannya, juga masukan-masukan yang dapat membantu pengembangan produk-produk lain di kemudian hari.”

“Tentu saya akan memberikan tanggapan dan catatan pengalaman saya. Bagaimana pun juga, Your Partner sudah memberikan solusi atas permasalahan yang begitu menghantui saya beberapa waktu belakangan,” balas Hawa.

“Terima kasih sekali lagi. Namun begitu, tentu akan ada permasalahan-permasalahan yang suatu saat akan timbul dan berada di luar bayangan kita. Oleh sebab itu, saya harap, Anda tidak panik, dan bisa langsung melakukan klaim garansi kepada kami, agar kami bisa melakukan pengecekan secara mendalam terhadap pasangan Anda.”

Keduanya bersalaman, dan segera Ibu Lili berdiri menuju gudang. Ia kembali dengan membawa satu dus besar berisikan lelaki artifisal dengan kulit yang kecoklatan.

“Kami tentu sudah menyesuaikan prefrensi Nona Hawa dalam perwujudan fisik juga kepribadiannya. Selain itu, kami juga memberikan sedikit biografi sesuai keinginan Anda untuk membantu pasangan ini menyesuaikan diri secara lebih organik dengan Anda.”

Senyum tersungging di wajah Hawa, ia tak perlu lagi mengelak dari pertanyaan yang terus berulang dari keluarganya. Ia segera membuka dus besar itu, dan segera Ibu Lili membantunya menghidupkan lelaki artifisal itu.

“Jika boleh tahu, mengapa Anda menciptakan lelaki idaman sebagai seorang penyair, Nona?”

Hawa hanya diam.

“Maksud saya, jika berkenan, apakah ia memiliki nama?”

“Saya menamainya Adam. Lelaki pertama yang saya cintai demikian dalam.”

***

Hawa pulang dengan Adam di sebelahnya.

Adam adalah seorang lelaki buatan yang didasari pada seorang cinta lama Hawa. Beberapa tahun lalu, ketika masih menekuni kegiatan berkesenian, Hawa bertemu dengan seorang penyair yang menarik hatinya. Pertemuan itu membuat keduanya saling cinta, kemudian berhubungan hanya untuk berpisah di kemudian hari, karena penyair itu enggan menyiksanya dengan menjanjikan kehidupan berumah tangga. Patah hati hebat membuat Hawa enggan memiliki kekasih lain, sampai akhirnya Your Partner hadir di Indonesia. Pada saat itu lah ia tahu, ia bisa menciptakan sang penyair dengan prefrensinya sendiri. Pasangan ideal yang akan memenuhi kebutuhan jasmani dan batinnya.

“Oh, Adam, betapa aku senang melihatmu menulis setiap hari di hadapan komputer,” goda Hawa.

“Tetapi aku belum menyelesaikan satu puisi pun belakangan, Hawa.”

“Kau tak perlu melakukannya. Memandangimu setiap hari setelah pulang bekerja di hadapan komputer sudah menenangkan,” jawab Hawa, “betapa menenangkan memiliki pasangan yang tak henti-hentinya menuliskan syair untukmu, bukan?”

Hawa berangkat bekerja pukul sembilan pagi dan pulang ketika senja mulai merekah setiap harinya. Tiada sehari pun, ketika ia pulang ke rumah, ia saksikan Adam berada jauh dari komputer. Ia tahu, Adam adalah pasangan yang tepat untuknya karena ia melakukan apa yang sebelumnya tak dilakukan sang penyair: menjanjikan kehidupan bahagia dalam rumah tangga.

Pada akhirnya cinta, bagaimana pun juga, memudar. Hal-hal yang dahulu luar biasa, kelak akan menjadi begitu biasa. Hawa, misalnya, tak tahu bahwa kehidupan bersama penyair memang benar adanya tak seindah yang ia bayangkan. Ia seperti menerka-nerka kembali apa yang dahulu pernah disampaikan sang penyair pada dirinya, jauh sebelum ia menciptakan Adam. Apakah ia akan siap menerima penyair itu—yang tak bisa melakukan apa pun kecuali menulis, seumur hidupnya? Dan sisanya adalah sebuah ramalan yang menjadi nyata.

“Aku pulang,” teriak Hawa sambil membuka pintu dengan satu tangan memegang kantong plastik penuh sayuran.

“Selamat datang, Hawa,” jawab Adam dari ambang jendela.

“Bukan kah sebaiknya kau mulai berhenti menulis puisi, dan mencari pekerjaan?” tanya Hawa dengan sinis, “belakangan, kehidupan sangat menekan kita, sayangku. Bagaimana cara kita menyiasati ini adalah dengan kau segera bekerja, dan menanggalkan sementara kepenyairanmu.”

Sudah beberapa waktu Adam tak lagi menulis puisi. Ia kerap memandang jauh ke luar jendela, dengan tatapan yang terlampau kosong. Menerka-nerka kembali muasalnya yang artifisial.

“Maaf, tapi sepanjang kesadaranku, hanya ini yang bisa kulakukan,” jawab Adam tanpa menoleh sedikit pun ke hadapan Hawa.

“Oh, ayo, lah! Aku terlampau lelah untuk memberitahumu, tapi kau harus tahu bahwa kau tak bisa menghidupi rumah ini jika yang kau lakukan hanya menulis puisi saja!”

“Sebenarnya apa aku, Hawa?” Adam bertanya berbalik memandang Hawa.

“Kekasihku.”

“Tapi aku merasa aku bukan bagian darimu.”

“Mengapa?” tanya Hawa.

“Bagaimana pun, aku merasa tiba-tiba berada di tempat ini. Ada yang janggal, dan aku bertanya-tanya, apa yang ada sebelumnya—sebelum aku memiliki kesadaran, tapi tak kunjung kutemukan apa pun selain kenangan yang jangan-jangan ditanamkan oleh seseorang dalam kepalaku.”

Hawa diam. Tangannya mengepal, mencoba meredam ledakan emosi.

“Aku melihat kembali diriku di dalam cermin, dan memandang telapak tanganku. Aku adalah silikon yang dibentuk menyerupaimu, tapi tak benar-benar menyerupaimu. Tubuhmu dibalut kulit yang lembut, dan tanganku seperti tiruan yang tak sempurna,” tegas Adam, “sungguh, aku tak paham, Hawa.”

Pada akhirnya, Hawa meledak juga dan dengan tatapan tajam ia berlari lurus ke arah jendela, ke arah Adam. Membenamkan plastik penuh sayuran ke mulut Adam yang terbuat dari silikon, merobek mulutnya sehingga ia tak bisa mengatakan apa pun setelahnya. Di mata Adam setelahnya hanya ada ketakutan.

“Jangan salahkan aku jika kau akan kubawa untuk diperbaiki sekali lagi,” bentak Hawa pada Adam yang tersungkur tanpa melawan.

Untuk yang kesekian, Adam mesti dibawa kembali ke Your Partner untuk diperbaiki. Beberapa waktu sebelumnya, Hawa juga membawa Adam ke Your Partner untuk memperbaiki matanya yang dicongkel Hawa saat mereka bertengkar, atau tangan kirinya yang dibelah oleh Hawa karena kesalahannya yang tak disengaja.

“Saya mesti berterima kasih kepada Anda, Nona Hawa. Dari sini kami bisa melihat, bahwa pasangan artifisial juga belum mampu memenuhi kebutuhan jasmani dan batin seseorang, meski ia sudah disesuaikan sedemikian rupa. Jika berkenan, apa keluhan Anda kali ini, Nona?” ucap Ibu Lili sembari mengecek kondisi tubuh Adam yang sedang dinonaktifkan.

“Ia terlampau banyak bertanya perihal muasalnya. Seperti enggan berada di bawah program yang sudah kalian tulis,” jawab Hawa, “itu tampak sangat menakutkan untukku, karena aku tak tahu apa yang akan terjadi jika ia mengetahui ia diciptakan berdasarkan mantan kekasihku.”

Ibu Lili mengangguk, “Saya mengerti. Memang seperti sudah saya sampaikan di pertemuan pertama kita, pasangan artifisial ini masih harus dikembangkan. Bukan tidak mungkin mengalami malfungsi yang menyebabkan ia bergerak di luar program. Terlebih,” ucap Ibu Lili sambil menelan ludah, seperti menahan diri, “karena ia dibuat berdasarkan kecerdasan buatan, maka ia terus mengumpulkan data untuk menyempurnakan pemrogramannya.”

“Saya paham,” ucap Hawa.

“Maka tak heran, jika Anda melihat ia bertingkah tak sesuai.”

“Saya ingin mengklaim garansi atas kerusakan fisiknya,” tukas Hawa.

“Tentu. Hal itu bisa dilakukan, kami akan segera mengerjakan perbaikan fisiknya, Nona.”

Tim reparasi segera dipanggil oleh Ibu Lili, dan tubuh Adam dibawa ke gudang. Belum jauh tubuh Adam dibawa, Hawa kemudian berbicara dengan nada yang malu-malu, “apakah ketidaksesuaian kepribadian, dan hal-hal di dalam pemrogramannya bisa diperbaiki? Maksudku, disesuaikan kembali.”

Ibu Lili mengernyitkan dahi, kebingungan, “Jika saya boleh tahu, mengapa, Nona?”

“Saya merasa tidak puas dengan kehidupan yang ditawarkan oleh Adam. Setidaknya, belakangan ini,” jawab Hawa dengan nada rendah, “memang, pada mulanya, kehidupan berjalan sangat menyenangkan. Tapi saya tak tahu jika di kemudian hari, kesengsaraan rumah tangga mesti saya tanggung sendiri, sedang ia selamanya menulis di hadapan komputer, tanpa pernah bisa menghasilkan apa pun yang berarti.”

Ibu Lili tersenyum manis mendengar penjelasan Hawa, lalu menjawab, “Saya mengerti, Nona. Tapi maaf, seperti sudah ditulis di situs kami, juga surat kesepakatan pembelian bahwa garansi hanya berlaku untuk kerusakan-kerusakan bersifat fisik. Kami tentu tidak menanggung segala perubahan yang sebelumnya sudah ditetapkan oleh pelanggan kami secara sadar.”

“Maksudku, apakah Adam tidak bisa diprogram ulang untuk, entahlah, menjadi lebih produktif?”

“Kami memang menawarkan produk berupa pasangan artifisal, Nona,” jawab Ibu Lili dengan nada yang halus, “namun, kami juga memiliki moral untuk tidak mengubah apa-apa yang sudah ditetapkan di dalam tubuh sebuah ciptaan. Menulis ulang pemrograman di tubuh Adam artinya melenyapkan Adam yang selama ini kita kenal, yang kita sepakati konsepnya di dalam kepala. Bagaimana pun juga, ia adalah sesuatu yang hidup.”

Hawa tertunduk malu mendengar penjelasan itu.

“Lagi pula, sejak awal, saya pikir Anda cukup sadar bahwa Adam yang dibuat berdasarkan mantan kekasih Anda adalah pasangan yang tepat, dan bukan sesuatu yang akan merongrong kesengsaraan, kan?” tanya Ibu Lili dengan senyum dan tatapan yang tajam.

“Ia adalah penyair, dan itu membuat segalanya tampak melelahkan. Saya tak tahu mesti bagaimana, tapi ia benar-benar tak bisa menyumpali mulut semua orang dengan puisi.”

“Dengan berat hati, Nona, kami hanya bisa melakukan perbaikan fisik. Di luar itu, ia adalah tanggung jawab Anda, akan sangat disayangkan jika ia memang tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani Anda. Tapi, ini sesuatu yang Anda harapkan ketika menciptakan pasangan artifisial ideal. Sungguh saya turut menyesal jika Adam belum mampu memenuhi segala yang ideal menurut Anda, dan kami akan melakukan pengembangan lebih lanjut atas itu pada produk kami selanjutnya.”

Hawa pulang dengan wajah tertunduk lesu, sambil membawa Adam dengan ogah-ogahan. Adam yang telah direparasi secara fisik, namun tanpa sentuhan yang berarti di dalam kepalanya. Adam tetap seorang penyair, yang mempertanyakan segala, yang tak bisa memenuhi kebutuhan jasmani Hawa—mengisi dapur, tagihan listrik, juga hal-hal lain yang berkaitan dengan finansial rumah.

“Bagaimana sekarang?” tanya Adam dengan wajah tersenyum seperti seorang anak polos yang tak tahu apa-apa.

“Persetan denganmu. Lakukan saja yang bisa kau lakukan.”

Keduanya sampai di rumah, membersihkan diri, lalu menuju kamar tidur untuk berbaring saling memunggungi Hawa menangis dengan suara yang ditekan, dan Adam dengan pikiran bergolak memertanyakan kembali siapa ia sebenarnya.

***

Seperti sebelumnya, Adam memandang ke luar jendela. Sekilas, bayangan yang samar di dalam kaca memandang balik ke arahnya, seakan balik bertanya padanya.

Beberapa waktu kemudian, terdengar bunyi pintu dibuka, dan Hawa muncul dari sana. Adam, seperti sikapnya yang ganjil belakangan, tak mengucapkan apa-apa, selain terus memandang ke luar jendela.

“Aku menemukan beberapa data perihal biografiku di internet, Hawa,” ucap Adam memecah keheningan yang menjalar sejak terakhir kali mereka bertengkar.

“Hmm,” jawab Hawa tak acuh.

“Mengapa kau menciptakanku berdasarkan seseorang yang sebenarnya nyata?”

“Semakin hari, ocehanmu semakin gila, kau tahu itu, bukan?” jawab Hawa dengan mata menghindari Adam, berusaha mengelak.

“Aku menemukan seseorang yang juga seorang penyair,” balas Adam dengan tenang, “ia menyerupaiku—atau, barangkali, aku yang menyerupainya?”

“Hentikan, lah! Ia adalah penyair yang besar. Tak mungkin aku membayangkannya ketika menciptamu!” bentak Hawa.

“Mengapa?”

“Kau bahkan gagal dalam menulis, Adam! Kau tak menjanjikan apa pun. Apa pun.”

“Memangnya ada yang menjanjikan sesuatu padamu?”

“Barangkali, lelaki itu—si penyair yang kau temukan itu bisa menjanjikanku kebahagiaan!” bentak Hawa, “sesuatu yang bahkan tak bisa kau berikan padaku!”

Sontak Adam tertegun. Ia tahu, sebagai sesuatu yang imitasi, ia tak akan paham arti kebahagiaan. Namun, mendengar bahwa kekasihnya tak bahagia adalah satu hal lain. Sejenak, ia menyadari bahwa ia diciptakan hanya untuk menjadi sebuah produk yang gagal.

“Aku enggan bertengkar denganmu lagi,” jawab Adam.

“Lalu? Kau hendak apa? Kau sesuatu yang menjadi tanggung jawabku, kau tahu?”

Adam hanya diam. Di tangannya, sebuah pisau sudah tergenggam.

Dengan tangan gemetar, ia todongkan pisau ke lehernya sendiri. Sebuah upaya untuk lepas dari belenggu takdirnya yang muram.

“Kau mau apa dengan pisau itu, bodoh?!” bentak Hawa.

“Mengakhiri penderitaanku sendiri,” jawab Adam dengan tegas.

“Dengan mati?”

“Tidak.”

Lalu pisau itu berganti arah dengan cepat tepat ke telinga Adam. Menembus perangkat keras telinganya, dan yang terdengar setelah itu adalah teriakan sebelum pada akhirnya hening belaka.

“Usai. Usai sudah semua derita, hanya suaramu bergema untuk selamanya. Meyakinkanku bahwa kau tak pernah bahagia.”

Suara Hawa terus bergema sebagai data yang tak bisa ditindih data suara lainnya.


Lelaki Tanpa Telinga | Cerpen: Dikablek

Andika Pratama atau lebih dikenal Dikablek lahir di Samarinda. Puisinya pernah dimuat dalam buku antologi Cermin Lain Di Balik Pintu Lamin: Lapis Mutakhir Penyair Kalimantan Timur. Bukunya yang sudah terbit Memoar Tangan-Tangan Beku (2022, kumpulan puisi). Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen dan esai secara lepas. Di samping menempuh studi S1 Sastra Indonesia, di Universitas Mulawarman, ia juga mengurusi perpustakaan alternatif Menuju Rubanah. Bisa dihubungi melalui media sosial [at]dikablek