Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tentara berdiri di samping kendaraan militer ketika orang-orang berkumpul untuk memprotes kudeta militer, di Yangon, Myanmar, 15 Februari 2021. Foto: Reuters.
Tentara berdiri di samping kendaraan militer ketika orang-orang berkumpul untuk memprotes kudeta militer, di Yangon, Myanmar, 15 Februari 2021. Foto: Reuters.

Lagi, Militer Myanmar Tangkap 3 Jurnalis

Berita Baru, Naypyidaw – Pasukan militer Myanmar tangkap 3 jurnalis yang bekerja untuk portal berita independen Dawei Watch.

Penangkapan tersebut dilaporkan oleh editor Dawei Watch, dengan syarat anonim, pada Kamis (19/1), menambahkan alasan penangkapan tiga jurnalis tersebut belum diketahui.

Moe Myint, seorang jurnalis berusia 35 tahun dan ibu dari tiga anak, ditahan pada hari Selasa di Dawei, sebuah kota di Myanmar selatan.

Kemudian Ko Zaw (38 tahun) dan Thar Gyi (21 tahun) juga ditangkap pada Rabu. Keduanya merupakan karyawan dari Dawei Watch.

“Mereka saat ini ditahan di kantor polisi di Dawei dan alasan penangkapan mereka masih belum diketahui,” kata editor, seperti dikutip dari Reuters.

Seorang juru bicara junta militer yang berkuasa tidak menanggapi permintaan komentar.

Junta sebelumnya mengatakan mereka menghormati peran media tetapi tidak akan membiarkan pelaporan yang dianggap salah atau kemungkinan akan menyebabkan kerusuhan publik.

Militer telah mencabut izin media, memberlakukan pembatasan di internet dan siaran satelit dan menangkap puluhan wartawan sejak kudeta 1 Februari tahun lalu.

Myanmar menduduki peringkat sebagai penjara wartawan terburuk kedua di dunia dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh Committee to Protect Journalists.

Sementara itu, sebuah laporan dari sebuah kelompok advokasi media Asia Tenggara, ASEAN, mengatakan sejak kudeta militer, tercatat 115 wartawan telah ditahan, 44 masih ditahan dan tiga orang meninggal.

Beberapa jurnalis asing juga ditahan, termasuk jurnalis Amerika Danny Fenster, yang merupakan redaktur pelaksana majalah online independen Frontier Myanmar.

Fenster dijatuhi hukuman 11 tahun penjara November lalu karena hasutan dan pelanggaran undang-undang tentang imigrasi dan pertemuan yang melanggar hukum.

Namun kemudian Fenster dibebaskan setelah ada negosiasi alot antara mantan diplomat AS Bill Richardson dan junta.