Berita

 Network

 Partner

Kopri PMII
KOPRI PB PMII turun ke basis berbagi keceriaan bersama anak-anak Kampung Pilar, Bekasi, terdampak sengketa lahan dengan salah satu perusahaan, Jumat (19/11). (Foto: Dok. KOPRI PMII)

KOPRI PB PMII Berbagi Keceriaan Bersama Anak-anak Kampung Pilar Terdampak Sengketa Lahan

Berita Baru, Bekasi – KOPRI PB PMII berbagi kecerian bersama anak-anak Kampung Pilar, Desa Cikarang Kota, Bekasi, Jawa Barat, yang rumahnya dalam status sengketa dengan perusahaaan.

Hal itu dilakukan KOPRI PMII bersama puluhan kadernya turun ke Kampung Pilar untuk memperingari Hari Anak se-Dunia dalam rangakaian Harlah KOPRI PB PMII ke-54.

Anak-anak di Daerah tersebut merupakan dampingan PMII dan KOPRI PC PMII Bekasi Raya, yang di dalamnya telah mengalamai pemekaran wilayah, yakni Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.

KOPRI PMII turun ke basis, mengajak masyarakat dan seluruh kader PMII untuk bergerak bersama dan merayakan hak-hak anak. Mewujudkan ruang aman, karena anak adalah masa depan peradaban.

Keceriaan selama di kampung Pilar, KOPRI PB PMII adakan giat mewarnai logo 54 tahun HARLAH KOPRI, bermain game hingga unjuk kemampuan oleh anak-anak yang rumahnya dalam status sengketa dengan perusahaaan.

Ketua KOPRI PB PMII, Maya Muizatil Lutfillah menegaskan, gerakan tersebut merupakan bentuk konsistensi KOPRI untuk hadir dan menyentuh masyarakat Kampung Pilar yang kesekian kalinya dengan mengadakan bakti sosial.

“Semoga di tempat lain, bisa menginspirasi kader KOPRI Membersamai masyarakat dengan kecakapan, keilmuwan dan kebermanfaatan,” kata perempuan yang akrab disapa Maya itu, kepada Beritabaru.co, Jum’at (19/11).

Sebagai penanggung jawab kegiatan,
Mamay Muthmainnah, menegaskan bahwa langkah ini sebagai upaya nyata KOPRI PB PMII peduli terhadap kasus-kasus yang menyangkut perempuan dan anak.

Salah satunya terkait kasus agraria, sengketa tanah warga dengan perusahaan ini mampu terinformasikan kepada khalayak yang berimbas kepada perempuan dan anak.

“Sebagai informasi, saat ini Kampung Pilar sudah memiliki Taman Belajar Masyarakat (TBM). Di mulai tahun 2019 dengan segelintir anak, saat ini sudah mencapai 60 anak,” ungkap Mamay.

Kemudian Karenina, salah satu perwakilan KOPRI Bekasi Raya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada KOPRI PB PMII karena telah mengapresiasi upaya yang sudah dilakukan.

“Kami tersentuh, karena kasus ini ahirnya bisa disuarakan bersama KOPRI PB PMII, sebab yang paling sulit adalah istiqomah kami dalam memebersamai anak-anak korban penggusuran yang sampai hari ini kasusnya belum juga kunjung selesai” tegas perempuan yang biasa di sapa Nina itu.

Sementara Abdul Rouf, kader PMII Bekasi, menceritakan perjalanan panjang PMII Bekasi bersama LBH mengadvokasi sengketa agraria warga Pilar sejak 2003.

Berita Terkait :  AMAN Sumut Desak Pengesahan Perda Masyarakat Adat

“FOWAPTI (Forum Warga Pilar Tertindas) hampir 14 tahun dibersamai PMII Bekasi Raya. Hingga kini, otonom dengan teritorialnya,” terangnya.

“Anak-anak pernah berkata pada kami, kalau kami di gusur, kakak PMII masih mau ngajar kami gak walau di kolong jembatan?” ucap pria yang akrab disapa Rouf, usai menyampaikan apresiasi atas kunjungan basis dari KOPRI PB PMII.

Dalam kesempatan itu, Ketua KOPRI Maya juga menyinggung musibah pandemi yang belum jelas kapan akan berakhir. Sementara tuntutan era digital kian mendesak kecakapan pada banyak hal, maka dibutuhkan kolaborasi.

“Era digitalisasi, eranya kolaborasi dan saling melebur saling membesarkan. Apalagi ditengah kepastian Pandemi yang tidak tau kapan akan berakhir. Jangan sampai KOPRI hadir hanya sebagai pelengkap,” tutur Maya.