Berita

 Network

 Partner

Kopi adalah Masyarakat

Kopi adalah Masyarakat

Berita Baru, Tokoh – Bicara kopi bukan saja soal cangkir, air, bubuk kopi, dan gula, tapi bicara soal banyak sekali hal.

Sebagaimana diceritakan Andry Mahardhika seorang kreator Roaster Kopi dalam sesi Bercerita beritabaru.co ke-57 pada Selasa (27/7), banyak hal tersebut bisa dijelaskan dalam dua tingkatan: hulu dan hilir.

Di tingkat hulu, kita akan dihadapkan dengan apa itu pemilihan bibit kopi, pemilihan lahan, kemiringan dan ketinggiannya, hingga seleksi hasil panen.

Adapun di tingkat hilir melibatkan proses penggorengan (roasting), penyeduhan (brewing), dan cara menikmatinya pelanggan. Bagaimana pelanggan menikmati hidangan kopi bukanlah hal yang sepele bagi Andry.

“Iya, begitulah. Membicarakan kopi yang berkualitas itu ya membicarakan proses panjang dari hulu ke hilir tersebut, yang melibatkan banyak orang, bahkan sampai bagaimana pelanggan menikmati kopinya. Jadi, baik tidaknya kualitas kopi bergantung pada kelindan masyarakat itu,” katanya.

Berita Terkait :  Yu Sing dan Beban Berat Seorang Arsitek

Sebagai barista senior di Jogja, Andry memang cukup detail tentang kualitas kopi. Ia memiliki idealisme dan baginya kopi yang bagus adalah kopi yang mendapatkan cukup proses dan kasih sayang.

Rasa kasih di sini bisa mengarah pada dua hal, yaitu kesabaran yang dimiliki setiap pelaku bisnis kopi dari hulu ke hilir dan adanya ikatan kekeluargaan di antara mereka.

Jika dipetakan, yang pertama lebih bersifat “ke dalam” atau langsung pada kopinya, sedangkan kedua bersifat “ke luar”, lebih pada kasih sayang antarpebisnis kopinya.

Untuk model cinta yang kedua, sebagai contoh, Andry selalu menyempatkan waktu untuk berbagi cerita dengan para petani kopi, bahkan menginap di rumahnya, ketika sedang ada keperluan di perkebunan.

Kebiasaan tersebut pada akhirnya efektif melahirkan ikatan kasih, bahkan kekeluargaan, antara Andry sebagai pelaku bisnis kopi hilir dengan para petani kopi di tingkat hulu.

Berita Terkait :  Naomi Marasian dan Dilema Kebijakan Perhutanan Sosial

“Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya sama sekali tidak bisa diabaikan dan selalu ada di balik suatu kopi berkualitas,” ungkap laki-laki yang sudah menjadi Barista pada 2005 ini.

Memahami demikian, betapa kopi berkualitas adalah yang melibatkan proses dan rasa, maka pada dasarnya adalah tidak bisa jika kita menyebut bahwa kopi ini misalnya lebih berkualitas dari itu.

Setiap jenis kopi, tegas Andry, memiliki kualitas enaknya masing-masing. Memilili karakter dan kesan yang dimunculkannya sendiri-sendiri.

Munculnya generasi pengopi baru

Dalam acara yang ditemani oleh Windy Ayu ini, Andry juga sempat menyinggung munculnya pelanggan kopi generasi baru.

Menurut Andry, tahun 2010 menengarai adanya lonjakan yang cukup tinggi di kalangan peminat kopi di Jogja dan semakin mewabah pada 2015.

Lonjakan tersebut berdampak pada menjamurnya warung kopi sekaligus lahirnya generasi baru peminat kopi yang lebih well-informed. Mereka berbeda dengan generasi sebelumnya dalam hal motivasi ngopi dan pengetahuan seputar kopi.

Berita Terkait :  Olive Hateem dan Kegelisahannya sebagai "Perempuan Buku"

Bagi generasi baru, aktivitas ngopi bukan sekadar untuk ngopi, tetapi juga untuk bekerja, mencari gagasan, menyelesaikan tugas, dan semacamnya. Dari segi informasi pun, mereka lebih tahu soal apa itu kopi yang ia nikmati, di sisi mana enaknya, dan harus bagaimana agar kopinya tetap enak.

“Mereka begitu, boleh jadi karena media sosial, karena dapat cerita dari barista, dan bahkan akibat adanya obrolan antar-pengopi,” ujarnya

Lebih jauh, tentang ngopi berkualitas, Andry menuturkan tidak ada waktu spesifik. Semua waktu akan selalu pas untuk ngopi.

Jika ada yang bilang, kopi dengan susu cocok di pagi hari dan di malam harinya kopi saja, itu hanyalah konstruk budaya tertentu. Jadi bukan ukuran.

“Waktu ngopi yang enak itu ya saat ingin kopi, kita ngopi. Itu saja sih,” katanya.