Kongkritisasi Pergerakan Perempuan Islami Modern

Berita Baru – Perempuan merupakan manusia yang memiliki kepribadiaan lemah lembut, dan tutur kata yang halus. Selain kepribadian tersebut, ketika membahas mengenai perempuan akan tidak asing dengan kodrat dari perempuan yakni macak, masak dan manak.

Berbeda dengan laki-laki pada umumnya yang cenderung tegas dalam pengambilan sikap dan tindakan. Seolah telah dibentengi dengan tembok besar, kebanyakan perempuan memiliki rasa takut untuk mengemukakan pendapat yang dapat menyebabkan ketumpulan kreatifitas.

“Pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang, dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa cemas karena penilaian sosial tersebut, sehingga cenderung menarik diri” (Maimunah Hasan, 2013: 165).

Pemalu menjadi efemisme dari ketakutan yang tidak ada landasan dan menyebabkan lambatnya perkembangan pola pikir bagi kaum perempuan.

Mahasiswa atau mahasiswi merupakan seseorang yang sedang belajar di perguruan tinggi. Dalam dunia perkuliahan mahasiswa seolah disuguhkan gambaran kecil kehidupan dalam dunia masyarakat yang dituntut untuk tanggap dan langsung terjun kelapangan. Seiring berkembangnya zaman, peran perempuan juga dituntut untuk dapat berkembang pula.

Perkembangan tersebut dapat direalisasikan dengan adanya dorongan kesadaran pribadi. Seperti yang terjadi pada kumpulan mahasiswi se-Fakultas Bahasa dan Seni dan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya ini.

Mahasiswi yang terkumpul dalam organisasi kampus yaitu Kopri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Sahabat Komisariat UNESA ini mengadakan kegiatan rutin yaitu “Ngoce” yang berarti gopi cerdas bersama teman seorganisasinya sebagai penunjang bertambahnya wawasan di luar kelas.

Kegiatan tersebut selain bertujuan menambah wawasan juga dapat membantu menghilangkan rasa galau karena dapat berdiskusi bersama dan melupakan beban perkuliahan sejenak. Tema yang kerap digunakan adalah bedah buku, bedah film, dan diskusi perihal berita aktual yang bernuasa islami.

“Kegiatan positif ini dapat membawa dampak positif bagi para mahasiswi, jadi ngopi bukan hanya sedekar ngopi tanpa tujuan tetapi juga dapat menambah wawasan dan relasi pertemanan antar jurusan atau fakultas. Selain diskusi kami juga dapat bertukar pikiran mengenai dunia perkuliahan dan pribadi yang dapat menjadi semakin akrab” ungkap Uli, ketua Kopri PMII Rayon Sahabat Komisariat UNESA.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam organisasi tersebut yang dapat menjadikan wadah bagi kaum perempuan untuk tidak berhenti merasa cukup dengan ilmu yang didapat di dalam kelas.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini dapat memberikan wadah pergerakan bukan hanya untuk mahasiswa atau kaum laki-laki, tetapi juga untuk mahasiswinya. Kegiatan Ngoce atau Ngopi Cerdas tersebut merupakan salah satu upaya untuk mengubah pola pikir negatif mengenai kegiatan ngopi yang hanya duduk dan menyeruput kopi.

Kegiatan ini juga dapat merobohkan benteng takut berpendapat pada perempuan karena tuntutan aktif berpendapat dalam forum. Manfaat dari kegiatan tersebut juga dirasakan langsung oleh mahasiswi yang mengikutinya.

“Karena kegiatan Ngopi Cerdas tersebut, saya menjadi lebih aktif berpartisipasi dalam forum kelas dan tidak lagi malu untuk presentasi atau berargumen dalam kelas.” Ungkap Laila, salah satu anggota kegiatan tersebut.

Pada era 4.0 ini, selain adanya perkembangan pada teknologi juga terdapat perkembangan pola pikir yang lebih kreatif dan inovatif untuk mencapai cita-cita dan kehidupan yang layak didapatkan. Aksi nyata perubahan pola pikir perempuan yang positif harusnya dapat direalisasikan agar tidak hanya menjadi angan-angan. Karena dalam menuntut ilmu kita perlu adanya sarana dan prasarana juga lingkungan yang berkualitas untuk menunjang hal tersebut.


PenulisRika Rofi’atul Hajjah
(Mahasiswi Semester IV UNESA)

Tinggalkan Balasan