Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Nazareth
(Foto: Bein Harim)

Nazareth: Menara Jaga di Lintas Perbukitan Utara



Opini: Alfonsius Febryano Ade Putra


Membaca sastra tentang tiap-tiap daerah di Timur Tengah seperti Tel Aviv, Kana, Nazaret, Galilea, Gaza dan pelbagai daerah di sekitarnya, amat sangat menarik untuk di dalami. Pasalnya, jejak sastra yang terlukis di dalamnya bukan hanya suatu riwayat sejarah semata – bahkan lebih daripada itu – yakni jejak para nabi dengan seluruh ritme kehidupan mereka yang menyejarah secara spiritual di tiap mazhab, abad, hingga cakupan milenium. Tepat peristiwa Natal sebagai awal umat Kristen menghayati pengenangan Kristus.  

Oleh karena seluruh ritme hidup para nabi adalah permulaan sejarah spiritual Natal itu sendiri, maka tak mengherankan bahwa Nazaret menjadi suatu peziarahan awal untuk mengenal kelahiran Yesus Kristus beserta seluruh riwayat hidupnya. Sehingga, alangkah baik untuk kita mengenal lebih dalam Nazaret beserta tiap periodiknya semasa Byzantium hingga Ottoman, di mana mengantarkan kita untuk mendalami bahwa riwayat hidup para nabi bukan hadir semata legenda. Tapi meyeluruh dan bahkan mengalami periode-periode dari seluruh peradaban yang terjadi di wilayah Timur Tengah itu sendiri.

Menara Jaga dan Pengaruh Peradaban

Nazaret secara geografis banyak diketahui sebagai satu wilayah diantara perbukitan Libanon. Jaraknya tak jauh dari Kana, hanya kisaran 15 menit menggunakan kendaraan. Dikenal sebagai suatu tempat di mana Yesus dibesarkan, tapi terkadang tak pernah terlintas oleh kebanyakan kita, bahwa Nazaret memiliki etimologis tersendiri untuk mendefinisikan daerahnya. Menurut, Michael Avi-Yonah dalam Israel Exploration Journal edisi ke-12, bahwa Nazaret sendiri berakar dari kata Ibrani dengan sebutan Netzer yang diartikan sebagai tunas, ranting atau cabang (1962: 137-139).

Walau diartikan sebagai suatu ranting atau cabang ke dalam bahasa Ibrani, tapi hal ini belumlah memuaskan. Karena mengingat bahwa kota Nazaret sendiri atau lintas jalan Nazaret adalah lintas yang menghubungkan Yerusalem ke wilayah utara, di mana lintas tersebut terdapat menara jaga, justru penekanan Aram lebih tepat menggambarkan arti kata Nazaret itu sendiri. Juga oleh karena bahasa Semit menjadi bahasa awal pemerintahan di abad 700 SM tentu dapat dimengerti bahwa Aram lebih masuk di akal untuk menerjemahkan kata Nazaret itu sendiri.

Memahami hal ini catatan Saul Shaked dalam Aramaic, Encyclopedia Iranica mencatat akar kata Nazaret sendiri dalam bahasa Aram ialah Natserat sebagai yang disebut menara jaga atau tempat penjagaan. (1987: 250-261). Di samping oleh karena bahasa Semit sebagai bahasa Peradaban dan bahasa Ibrani sebagai bahasa etimologisnya, dan siapa sangka bahwa Nazaret kebanyakan adalah orang Arab-Israel. Hal ini ditulis dalam Review of Beyond the Basilica: Christians and Muslims in Nazaret oleh Laurie King-Irani (1986: 105). Maka tak heran, bahwa sebutan En-Nasira, Japhia, Mash-had, Yafti en Nasra sering diucapkan untuk menggambarkan Israel. Akar kata ini lebih kurang diambil dari kata berbahasa Arab, an-Nȃsirȋ.

Nazaret dan Riwayat Periodik Basilika Maria Menerima Kabar Bahagia

Nazaret sebagai salah satu daerah penuh nilai sejarah dan riwayat peziarahan bagi umat Kristent tentu tak dapat telepas dari tiap fenomena yang menjadikan kota ini sampai sekarang dapat kokoh secara peradaban. Salah satu riwayat peradaban tersebut, disampaikan secara monumental dengan adanya Basilika Maria Menerima Kabar Bahagia. Basilika yang didesain oleh seorang arsitek berkebangsaan Italia, Giovanni Muzio, tak disangka merupakan Gereja yang berdiri diatas puing-puing Gereja lama dan puing rumah dari Bunda Maria, itu sendiri.

Basilika yang dibangun bersamaan dengan Gereja Kelahiran Kristus di Betlehem dan Gereja Makam Kristus di Yerusalem ini memuat suatu riwayat sejarah yang tentunya menarik untuk ditelusuri. Di tahun 427 masehi, untuk pertama kalinya gereja Byzantium ini dibuat. Disebut demikian karena dibangun di zaman kekaisaran Byzantium. Pembangunan Gereja diprakarsai oleh Helena (tradisi kekristenan menyebutnya Santa Helena). Hal ini dibuat demi mengenang kejadian-kejadian penting dalam kehidupan Yesus.

Kekaisaran Byzantium (330-663M) sendiri adalah pemerintahan periodik dari Kaisar Konstantinus, yang kala itu merupakan penguasa Romawi Timur dan pusat pemerintahannya ada di Konstantinopel (sekarang: Turki). Dalam catatan sejarawan bernama Eusebius Sophoros Hieronymus pada bukunya berjudul Historia Ecclesiastica, ia mencatat bahwa memang Kekaisaran Byzantium memiliki periodik dinasti yang tiap bergantinya dinasti Basilika Kabar Bahagia selalu mengalami penghancuran. Salah satunya di tahun 638 pemberontakan Phocas yang dipimpin Heraclius. (Manuskrip, 1986)

Pecahnya perang salib memberikan pengaruh baru atas wilayah Nazaret. Setibanya kesatria perang Salib dan kemudian menduduki Yerusalem, mereka membangun kembali Gereja Bunda Maria Menerima Kabar Baik, tepat diprakarasi oleh Tancred pangeran Galilea di tahun 1102[1]. Walau demikian, pembangunan Gereja justru tak pernah selesai. Diakibatkan oleh perang salib yang kian berkobar, ditambah pasukan salib yang kalah melawan pasukan Sultan Saladin dalam pertempuran di Hattin yang terletak di sebelah utara Nazaret di tahun 1187, menjadi suatu sebab Gereja tersebut semasa perang salib belum rampung secara keseluruhan.

Nasib naas tentang Gereja Maria Menerima Kabar Baik tak hanya sampai disitu. Menurut catatan Bart Ehrman dalam Lost Christianity Tepat di tahun 1260, Sultan Mamluk, Azzhair Baybars (Baibers) menduduki kota tersebut (2003: 156-177). Ini merupakan kali kedua Gereja tersebut dihancurkan. Alhasil selama 3 abad selanjutnya para imam setempat hanya diperbolehkan memimpin ibadat saja dan hal tersebut tergantung kondisi politik setempat. Dan memasuki era Ottoman, Emir Fakr ad-Din, mengizinkan para imam fransiskan untuk kembali ke Nazaret dan diberi suatu pekarangan yang tak jauih dari Gereja Bunda Maria Menerima Kabar Baik.

Berkuasanya Dhaher al-Omar sebagai gubernur Galilea membawa angin segar bagi para imam Katolik ordo fransiskan. Mereka diperbolehkan kembali membangun gereja di Nazaret, tepat di tahun 1730. Dengan suatu tantangan berupa waktu pembangunan adalah enam bulan lamanya, para imam fransiskan pun menaatinya. (Trias Kuncahyono, 2017: 163) Alhasil, pembangunan gereja itupun rampung enam bulan lamanya. Walau tak begitu besar, setidaknya gereja tersebut telah dilengkapi altar yang dipersembahkan kepada Yoakim dan Anna (orang tua Maria). Barulah, pada tahun 1877 Gereja diperluas dan dipugar ulang pada tahun 1954 untuk diberkati pada tahun 1969 oleh paus Yohanes Paulus I.

Nazaret Di Zaman Kini

Sebagai akhir kata kutipan novelis Inggris kelahiran Kalkuta, India bernama Wiliam Thackeray ini dapat menjadi suatu lukisan tentang bagaimana Nazaret di zaman kini. Gunung-gunung gersang, dengan pohon zaitun gelap kelabu menggeligis sana sini; jurang-jurang nan ganas beserta lembah-lembah layaknya saf-saf batu nisanke mana pun kau berkelana di sekitar kota kau akan menemui sebuah pemandangan yang terlantar dan seram tak terkatakan. Karena memang itulah misterinya, berbalut dalam sejarah yang terekam kala bangsa Israel menghayati hukum Taurat Yahwe. Selamat Merayakan Natal bersama seluruh kebesaran Misteri Peziarahan Iman.


[1]The date Of Eusebius’ Historia Ecclesiastica“. Journal of Theological Studies. 41 (1): 111–123.